

Kabupaten Cilacap
Kabupaten Cilacap



Cerita Rakyat
Cerita Rakyat

Pada zaman dahulu bertakhtalah seorang adipati di daerah Do- nan yang termasuk wilayah Cilacap. Pada suatu ketika sang Adipati berserta seluruh rakyatnya gelisah dan ketakutan ka-
rena ulah seekor burung raksasa atau yang biasa disebut manuk beri. Seluruh masyarakat cemas karena setiap hari manuk beri menyerang dan memakan binatang piaraan mereka.
Adanya ancaman itu membuat sang Adipati berupaya sekuat te- naga dan pikiran untuk membinasakan burung tersebut. Konon, un- tuk membinasakan manuk beri itu, sang Adipati mengadakan sayem- bara, yakni siapa yang dapat menangkap dan membinasakan manuk beri tersebut kelak akan dapat menduduki takhta Adipati Donan dan sekaligus dapat memeristri putri sang Adipati. Tidak lama berselang, tersiarlah berita sayembara itu ke seluruh Kadipaten Donan, bahkan terdengar pula sampai ke daerah lain.
“Asal Mula Nama-nama Tempat di Cilacap”
“Asal Mula Nama-nama Tempat di Cilacap”

Sayembara itu menarik perhatian banyak orang. Mereka berda- tangan ke Kadipaten Donan dan berusaha membunuh manuk beri. Akan tetapi, tidak ada seorang pun yang mampu menandingi keganasan manuk beri itu. Bahkan, kemudian banyak orang yang meng- anggap burung itu sebagai burung ajaib.
Pada waktu yang bersamaan, Kadipaten Donan kedatangan satu utusan dari Kerajaan Demak, yaitu Sunan Kalijaga yang sedang me- lakukan tugasnya mencari eluh (air mata) kuda sembrani ke daerah pantai Nusakambangan untuk menambah kesaktian. Dalam tugas ini Sunan Kalijaga tidak berhasil dan pulang ke Demak. Dalam per- jalanan pulang, ia teringat bahwa senjata cis tertinggal di Donan sehingga muncul niatnya untuk mengambil senjata itu kembali. Ia lalu menyamar sebagai pengemis yang kulitnya penuh kudis atau gudhigen dan selalu berkeringat. Meskipun menyamar, ia tetap aktif menjalankan siar agama Islam. Sejak saat itu tersiar kabar bahwa ada santri gudhigen yang biasa disebut Santri Gudhig atau Undhig.
Dalam perjalanannya untuk mengambil kembali senjata cis yang tertinggal di Donan, Santri Undhig sering keluar-masuk desa, mele- wati gunung dan naik-turun jurang. Pada suatu saat sampailah Santri Undhig di salah satu desa yang disebut dengan Desa Karang Poh. Di tempat itu Santri Undhig beristirahat untuk melepaskan lelah.
Alkisah, pada waktu itu Desa Karang Poh sedang mengalami ke- keringan yang teramat panjang. Penduduk sulit mendapatkan air. Sungai-sungai kering kerontang. Tidak mengherankan jika banyak binatang hutan yang turun ke pedesaan untuk mencari air minum.
Suatu ketika, penduduk Karang Poh digemparkan oleh adanya kijang wulung yang tersesat di desa itu. Dengan serentak penduduk Karang Poh mengejar kijang itu hingga tertangkap dan disembelih. Kemudian, mereka membagi-bagi daging kijang itu secara merata kepada semua penduduk. Anehnya, daging kijang yang kecil itu dapat mencukupi semua penduduk desa sehingga mereka dapat berpesta menikmati hasil buruannya.
Menurut kisah, di Desa Karang Poh hidup seorang janda tua miskin. Kemiskinannya membuat dirinya terasing dan seakan-akan tidak diakui sebagai penduduk Karang Poh. Ketika pembagian da- ging kijang pun, janda tersebut tidak mendapat bagian. Setelah se- luruh penduduk berpesta pora memakan daging kijang, tiba-tiba terjadi peristiwa yang menghebohkan.






Seluruh penduduk yang baru saja berpesta meninggal. Peristiwa itu merupakan malapetaka yang sangat hebat karena hanya tinggal janda tersebut yang masih hidup. Ia terhindar dari malapetaka itu karena ia satu-satunya orang yang tidak makan daging kijang. Janda tua itu hanya dapat menangis dan berlari ke sana kemari menghampiri mayat-mayat yang bergelimpangan.
Santri Undhig yang kebetulan beristirahat di Desa Karang Poh melihat seorang wanita tua yang menangis di depan mayat-mayat yang bergelimpangan. Ia lalu menghampiri wanita itu. Melihat ada seorang yang datang, wanita itu lalu menyambut dan memersilakan singgah di gubuknya. Santri Undhig lalu minta air minum dan oleh si janda diberi air kelapa muda. Sambil menyuguhkan air kelapa, janda tua itu menceritakan malapetaka yang terjadi dan minta bantuan pada Santri Undhig. Mendengar permintaan itu, Santri Undhig lalu memerhatikan air kelapa yang diminumnya tadi. Ia lalu membaca doa-doa. Kemudian, ia menyuruh janda itu untuk meneteskan air kelapa itu ke bibir para korban. Tanpa berpikir panjang, janda itu segera melakukan apa yang diperintahkan oleh Santri Undhig. Satu per satu bibir korban ditetesinya dengan air kelapa dan seketika itu bangunlah orang-orang yang tadinya telah mati. Akhirnya, janda itu mendapatkan penghormatan dan penghargaan dari seluruh penduduk. Ia juga dianggap sebagai orang yang sakti. Untuk mengenang peristiwa itu, tempat tersebut kemudian diberi nama Desa Kuripan (kehidupan).
Setelah beberapa waktu tinggal di desa itu, Santri Undhig me- neruskan perjalanannya untuk mencari senjata cis hingga kemudian sampai di Kadipaten Limbangan. Di kadipaten itu ia ikut mengabdi pada sang Adipati, dan mendapat tugas memberi makan ayam dan binatang piaraan lainnya.
Pada suatu hari, sang Adipati Limbangan mengadakan pertemuan (paseban) yang dihadiri oleh seluruh pegawai Kadipaten (nayaka praja), menteri, dan para tetua. Tidak ketinggalan, Santri Undhig pun ikut dalam paseban tersebut. Pokok pembicaraan pada pertemuan itu adalah cara hidup bertetangga. Pada kesempatan itu sang Adipati juga memberikan penjelasan mengenai bencana yang menimpa Ka- dipaten Donan, yakni peristiwa manuk beri. Sang Adipati juga me- nyampaikan adanya sayembara yang diadakan oleh Adipati Donan untuk membunuh manuk beri. Banyak hulubalang yang mencobanya, tetapi ternyata tidak ada seorang pun yang mampu membunuh bu- rung itu.






Mendengar bahwa banyak orang yang tidak berhasil dalam sayembara, timbullah niat Santri Undhig untuk mencobanya. Ia lalu minta izin kepada Adipati Limbangan untuk mengikuti sayembara. Setelah mendapat izin, Santri Undhig segera berangkat ke Kadipaten Donan. Perjalanan ke tempat itu ia tempuh dengan berjalan kaki. Ka- rena kemalaman, ia bermalam di Desa Wanasari untuk beristirahat. Namun, semalaman ia tidak dapat tidur sampai cengklungen ‘capai’ menanti fajar tiba. Tempat Santri Undhig beristirahat itu kemudian dinamakan Ciangklung.
Pada waktu itu, di Kadipaten Donan sedang ada pertemuan yang membicarakan korban keganasan manuk beri.
Ketika Santri Undhig sampai di Kadipaten Donan, sedang ada pertemuan di kadipaten untuk membicarakan korban keganasan manuk beri. Santri Undhig lalu ditanya oleh seorang hulubalang ten- tang maksud kedatangannya, dan kemudian menerangkan bahwa ia adalah utusan dari Kadipaten Limbangan untuk mengikuti sayembara. Melihat keadaan Santri Undhig, hulubalang itu tidak percaya kalau dia akan dapat membunuh manuk beri. Namun, Hulubalang itu tetap menyampaikannya kepada Adipati Donan. Ketika sudah dihadapkan pada sang Adipati, Santri Undhig mengajukan beberapa permintaan, yaitu minta dibuatkan lubang kurang lebih dua meter dalamnya dan bertempat di lapangan Cibleder, minta disediakan kain mori putih kira-kira dua meter, dan minta diizinkan meminjam pusaka cis milik Adipati Donan.
Setelah permintaannya dipenuhi, Santri Undhig berangkat ke lapangan terbuka yang bernama Cibleder. Luas lapangan itu kurang lebih lima puluh hektar. Di dekat lapangan itu terdapat sebuah pohon ketapang. Pohon ketapang itu sering dipakai manuk beri bertengger sehinga lama-kelamaan pohon itu tumbuh bengkok atau dalam ba- hasa Jawa ndhengklok karena menahan beban berat. Oleh karena itu, pohon tersebut kemudian disebut pohon ketapang dhengklok. Seperti biasanya, manuk beri terbang melayang-layang di atas lapangan Cibleder. Saat itu udara cerah, tiada segumpal awan pun menutupi, sehingga tampak jelas manuk beri itu mengibas-ngibaskan sayapnya bagaikan penguasa alam raya. Situasi itu tidak didiamkan begitu saja oleh Santri Undhig. Ia segera berdiri di dekat lubang sam- bil menyelubungi dirinya dengan kain putih supaya jelas terlihat oleh manuk beri.
Siasat itu ternyata berhasil. Tidak lama kemudian manuk beri itu terbang menukik menghampiri Santri Undhig. Burung itu kian kemari menyambar-nyambar selubung kain putih yang dikenakan Santri Undhig. Dengan kesiapsiagaan dan kewaspadaan yang tang- kas, Santri Undhig masuk ke dalam lubang yang ada di dekatnya. Lubang itu berbentuk seperti kendhil, bagian atasnya lebih sempit dibandingkan dengan bagian bawahnya.






Dengan gesit manuk beri itu menyambar-nyambar benda putih. Akan tetapi, Santri Undhig yang berselubung kain putih itu sudah siap menghadapinya. Ketika manuk beri hendak menerkam dengan cakarnya, secepat kilat Santri Undhig menusuk kaki dan dada burung itu dengan senjata cis. Manuk beri itu terhuyung-huyung dan akhirnya jatuh di atas kayu panggang di dekat sebuah sungai. Akhirnya, sungai itu dinamakan Sungai Cipanggang.
Kabar kematian manuk beri itu segera tersiar ke seluruh pelosok Kadipaten Donan dan bahkan sampai ke daerah-daerah sekitarnya. Hal itu membuat semua masyarakat bergembira sebab binatang-bi- natang piaraan mereka menjadi aman. Adipati Donan berkenan me- nyerahkan hadiah sayembara kepada Santri Undhig. Akan tetapi, Santri Undhig menolak segala pemberian itu. Ia memilih hadiah se- buah senjata cis yang ia pinjam dari sang Adipati Donan. Permintaan itu dikabulkan oleh Adipati Donan.
Setelah itu, Santri Undhig kembali ke Kadipaten Limbangan un- tuk menyampaikan keberhasilannya membunuh manuk beri seka- ligus berpamitan kepada Adipati Limbangan untuk melanjutkan perjalanannya. Santri Undhig juga mengucapkan terima kasih ka- rena selama di Kadipaten Limbangan ia telah diterima sebagai abdi Kadipaten. Meski berat, sang Adipati terpaksa merelakan Santri Un- dhig untuk melanjutkan perjalanannya.
Santri Undhig kemudian melanjutkan perjalanannya ke arah se- latan hingga sampailah ia di sebuah pantai yang bernama Daun Lum- bung. Santri Undhig lalu beristirahat beberapa hari di tempat itu. Kemudian, tempat itu digunakan sebagai tempat panembahan San- tri Undhig. Dari Daun Lumbung, Santri Undhig melanjutkan per- jalanannya ke arah barat dengan menumpang perahu nelayan. Sejak itulah Santri Undhig meninggalkan Cilacap (Kadipaten Donan).
Kepergian Santri Undhig mempunyai tujuan yang luhur. Ia merasa berhasil di dalam tujuan semula, yaitu mendapatkan senjata cis. De- ngan perjalanan yang agak lama, ia sampai di Desa Karang Salam. Di desa itu hidup seorang petani bernama Kiai Wongsogito. Santri Undhig menemui petani itu dan memohon agar diterima mengabdi kepadanya. Karena sangat membutuhkan tenaga, Kiai Wongsogito menerima Santri Undhig untuk membantu di rumahnya.






Tidak lama mengabdi, Santri Undhig mulai tidak betah tinggal di situ. Ia sering dimarahi karena pekerjaannya tidak berkenan di hati Kiai Wongsogito. Santri Undhig lalu memohon untuk meninggalkan tempat itu dan pergi menuju ke arah timur laut. Dengan berjalan kaki, ia menelusuri jalan setapak di gunung-gunung. Setelah hari agak gelap, Santri Undhig beristirahat di tepi sungai. Di tempat itu dia berniat untuk bertafakur agar dapat bertemu dengan buyutnya untuk minta petunjuk jalan yang lebih baik.
Keesokan harinya, sebelum meninggalkan tempat itu, Santri Un- dhig menamai sungai itu dengan nama Sungai Kabuyutan. Santri Undhig pergi dengan menyeberangi sungai itu dan menuju ke suatu desa yang dinamai Desa Njonjok. Di desa itu Santri Undhig beristi- rahat. Karena sudah siang, Santri Undhig bersembahyang di bawah pohon panggang. Tanpa disangka-sangka, kopyah (tutup kepala) Santri Undhig tersangkut di salah satu cabang pohon panggang. Oleh karena itu, tempat itu lalu dinamai Cikopyah.
Pagi harinya, Santri Undhig meneruskan perjalannya ke arah barat. Ia sampai di sebuah hutan yang keramat dan wingit. Di tempat itu banyak sekali korban manusia yang berusaha membuka hutan itu menjadi perkampungan. Memang, di sekitar hutan itu terdapat sebuah perkampungan yang semua penduduknya wanita dan janda karena suaminya menjadi korban babat hutan. Oleh Santri Undhig janda-janda itu disuruh pulang ke asalnya dan selanjutnya hutan itu ia namai Alas Randha Wilis.
Sehari kemudian, Santri Undhig meneruskan perjalanannya me- nuju utara dan sampai di sebuah hutan. Perkampungan di dekat hutan itu ternyata berpenduduk laki-laki yang semuanya duda. Oleh Santri Undhig duda-duda itu disuruh pulang ke asalnya dan selanjutnya hutan itu ia namai Alas Dhudha Mulih.
Santri Undhig meneruskan perjalanannya dengan memasuki hu- tan-hutan. Tiba-tiba ia merasa lelah sekali. Namun, sebelum istirahat ia bersembahyang dahulu. Di tempat itu banyak sekali bebatuan. Santri Undhig lalu mengumpulkan batu itu untuk alas sembahyang. Selanjutnya, tempat itu dinamai Alas Watu Kumpul. Dalam perjalanan berikutnya, di tengah jalan, kaki Santri Undhig terjerat (tercencang) oleh pohon gadung yang merambat sangat lebat. Oleh karena itu, tempat tersebut lalu dinamai Cimuncang.






Dari Cimuncang Santri Undhig melangkah menuju ke utara. Da- lam perjalanannya ia menemukan pohon jeruk dengan buahnya yang sangat lebat, tetapi penduduk setempat tidak ada yang berani meme- tiknya. Santri Undhig keheranan melihat hal itu. Ia lalu memetik jeruk itu dan memakannya. Ternyata rasanya sangat manis (Jawa: legi). Oleh karena itu, tempat tersebut lalu diberi nama Jeruk Legi.
Dari Jeruk Legi Santri Undhig berjalan menuju utara. Di tengah perjalanan ia melihat sebuah sungai yang mengalir ke utara. Karena haus, Santri Undhig meminum air sungai itu yang ternyata rasanya asin. Oleh karena itu, tempat tersebut kemudian dinamai Pengasinan. Di dekat sungai itu terdapat sebuah desa yang banyak pohon jam- bunya. Pada saat itu jambu-jambu itu sedang berbuah. Desa itu ke- mudian dinamai Jambusari.
Dari Jambusari Santri Undhig terus berjalan ke utara. Di tengah perjalanannya, saat zuhur telah tiba, dan ia bersembahyang di tempat yang rindang. Tiba-tiba, ia dikejutkan oleh seekor burung kakaktua yang bertengger persis di atas kepalanya. Tidak lama kemudian bu- rung itu jatuh dan mati. Oleh Santri Undhig tempat tersebut lalu dinamai Cikakak. Dari tempat itu Santri Undhig terus pergi tanpa meninggalkan jejak dan mungkVin meneruskan perjalanan ke Demak.









selesai
