

Kabupaten Cilacap
Kabupaten Cilacap



Cerita Rakyat
Cerita Rakyat

“Asal-Usul Berdirinya Pasar Karna”
“Asal-Usul Berdirinya Pasar Karna”
Hari masih pagi, hening dan sepi. Terdengar kicauan burung menyambut hangatnya mentari pagi. Saat itu tahun 1930. Di Desa Sidareja orang-orang mulai sibuk melakukan
aktivitasnya. Kesibukan itu juga tampak di sebuah pasar kecil, yaitu Pasar Dendanu yang terletak di tengah Desa Sidareja yang kini menjadi Terminal Bus Sidareja. Nama Dendanu berasal dari nama Raden Danu Suparto, pemilik tanah yang dipakai untuk Pasar Den- danu.
Bapak Raden Danu Suparto berasal dari Majenang dan rumahnya terletak di sebelah barat Pasar Dendanu. Di Pasar Dendanu hanya ada lima orang penjual, di antaranya Nini Kurdi yang berjualan sayuran dan Bu Nursan yang berjualan mendoan, nasi, dan gorengan. Mereka berjualan hanya sampai pukul 10.00. Pasar Dendanu masih sangat sederhana, tidak berupa gedung atau kios-kios seperti sekarang. Para penjualnya hanya menggunakan tikar, lincak, atau tilam. “Bu Nursan, saya mau beli mendoan. Tadi belum sempat sarapan,” tutur Nini Kurdi.

“Kebetulan... Mendoannya masih hangat,” sahut Bu Nursan.
Beberapa saat kemudian berdatangan para pembeli lain. Ada yang berbelanja sayuran, ada yang berbelanja beras, dan kebutuhan sehari-hari lainnya.
“Ni Kurdi, saya beli kangkungnya,” seru seorang wanita. “Silakan, Bu! Tinggal pilih saja!”
“Saya beli bayamnya, Ni,” pinta seorang pembeli lain.
Menjelang pukul 10.00 para penjual berkemas untuk pulang ke rumah karena dagangan mereka sudah habis. Keadaan Desa Sidareja waktu itu tidak seperti sekarang. Dahulu, masih sangat sepi. Jumlah penduduknya masih sedikit dan tempat tinggalnya berjauhan satu sama lain. Rumah-rumah yang ada pada umumnya sangat seder- hana, terbuat dari bambu. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu, atapnya menggunakan welit atau anyaman alang-alang. Keadaan alamnya pun masih ada yang berupa rawa-rawa, belum banyak ba- ngunan berdiri. Namun Kantor Pegadaian sudah berdiri sejak 1918 dan terletak di sebelah timur Pasar Dendanu.
SD Sidareja 01 yang dahulu bernama Sekolah Rakyat (SR) atau Vervolg School juga sudah berdiri. Letaknya di belakang Pasar Den- danu. Bangunan gedung SD Sidareja 01 belum semegah sekarang. Waktu itu masih berdinding bilik dan tingkat sekolah hanya sampai kelas V. Yang menjadi Wedana Sidareja waktu itu adalah Bapak Soeramedja. Kepala desanya bernama Raden Wardja dan tinggal di Dusun Cibenon sekarang.
Pada suatu pagi menjelang, kokok ayam membangunkan orang- orang dari lelapnya. Mereka bergegas bangun untuk kembali ber- aktivitas. Begitu juga dengan Ni Kurdi dan Bu Nursan. Selesai me- ngerjakan tugas-tugas rumahnya, dua ibu ini segera menyiapkan barang-barang dagangannya untuk dijual di pasar. Hari bertambah siang, Pasar Dendanu mulai dikunjungi beberapa pembeli.
Ketika aktivitas pasar sedang berlangsung, tiba-tiba terjadi kebakaran di Pasar Dendanu. Orang-orang yang ada di pasar menjadi panik dan ketakutan. Ada yang berlari begitu saja menyelamatkan diri, dan ada yang justru kebingungan dengan dagangannya.
“Kebakaran, kebakaran!”
“Tolong, tolong, ada kebakaran!” “Aduh! Bagaimana dengan daganganku ini?”
“Kebakaran, kebakaran, tolong kami!”






Api terus berkobar semakin besar menjalar ke arah barat. Beberapa penduduk yang melihat kebakaran tersebut segera memberi bantuan.
“Ayo, cepat ambil air!” “Airnya, mana?” Cepat!” “Ini airnya, Pak!” “Ambil lagi, cepat!”
Situasi begitu mencekam. Ada yang berlari mencari air, ada yang menyiram, ada juga yang berusaha membantu para penjual untuk menyelamatkan dagangannya. Tidak lama kemudian, api pun padam. Pasar Dendanu yang sederhana hanya tinggal puing-puing.
“Huuuhuuhu... bagaimana dengan dagangan saya?” kata Ni Kurdi sambil terduduk lemas.
“Huuuhuuu, bagaimana dengan nasib saya?” kata penjual yang lain di sela isak tangisnya.
“Sabar ya, Ni dalam menghadapi cobaan ini!” hibur seseorang pada Ni Kurdi.
Dengan membawa kesedihan para penjual pulang ke rumah ma- sing-masing. Penduduk yang menolong juga kembali pada aktivitas mereka semula. Tepat di belakang Pasar Dendanu berdiri sebuah rumah yang sangat sederhana didiami oleh Nini Mider. Anehnya rumah tersebut tidak ikut terbakar. Nini Mider sangat senang dan juga terharu.
“Ya, Tuhan, hamba berterima kasih karena Tuhan telah melin- dungi hamba dari bencana,” ucap Nini Mider. Beberapa saat kemu- dian Nini Mider baru menyadari bahwa di dinding rumahnya yang terbuat dari bilik bambu terselip pusaka yang bernama Singkir Geni.
Di antara rumah penduduk yang masih sangat sederhana ter- dapat toko mebel yang terletak kurang-lebih dua ratus meter di sebelah barat Pasar Dendanu. Toko mebel ini milik Bapak Sukarna seorang pendatang dari Jawa Barat yang sudah lama menetap di Sidareja. Bapak Sukarna seorang yang kaya tetapi tidak memiliki keturunan. Melihat peristiwa kebakaran di Pasar Dendanu hati Pak Sukarna merasa iba. Timbul suatu keinginan untuk memberikan ta- nah miliknya yang terletak di depan rumahnya sebagai ganti Pasar Dendanu. Keinginannya kemudian disampaikan kepada istrinya.
“Bu, melihat kebakaran tadi, saya merasa kasihan pada para penjual di pasar. Bagaimana kalau tanah milik kita yang ada di depan rumah diberikan pada mereka agar dapat berjualan kembali. Toh, kita masih memiliki tanah yang lain,” kata Pak Sukarna kepada istrinya.
“Pak, kalau hal itu dipandang baik dan Bapak merelakannya, saya hanya menurut saja,” jawab Bu Sukarna.






Selesai berembug dengan istrinya, kemudian Pak Sukarna me- nemui Kepala Desa Sidareja, yaitu Raden Wardja. Sesampainya di tempat Raden Wardja, Pak Sukarna kemudian menyampaikan mak- sudnya.
“Selamat siang, Pak Wardja,” sapa Pak Sukarna.
“Oh, Pak Sukarna, silakan, Pak. Sepertinya ada yang penting? Mungkin saya dapat membantu?” tanya Raden Wardja.
“Begini, Pak. Melihat peristiwa kebakaran Pasar Dendanu, hati saya merasa iba dengan para pedagang. Kasihan mereka. Saya ingin mereka berjualan di tanah milik saya,” tutur Pak Sukarna.
“Jadi, maksud Bapak bagaimana?” tanya Raden Wardja.
“Begini, Pak. Saya bermaksud memberikan tanah milik saya yang terletak di depan rumah untuk digunakan sebagai ganti Pasar Den- danu,” tutur Pak Sukarna.
“Wah, saya sangat berterima kasih. Bapak sangat baik. Penduduk pasti setuju. Terima kasih Pak Sukarna. Terima kasih,” ucap Raden Wardja.
Raden Wardja kemudian mengundang beberapa warga untuk membicarakan kepindahan pasar yang baru. Keesokan harinya ter- lihat kesibukan di tanah milik Pak Sukarna. Beberapa penduduk ber- gotong royong membuat warung-warung kecil dari bambu untuk berjualan.
“Pak, bambu yang sudah dipotong mana?” pinta seorang bapak.
“Sebentar, Pak, belum selesai,” sahut yang lain.
Para penduduk bahu-membahu, bergotong royong penuh se- mangat dan sukacita. Beberapa hari kemudian warung-warung yang dibangun sudah jadi. Para pedagang dapat berjualan kembali. Untuk mengingat kebaikan dan pengorbanan Bapak Sukarna, pasar yang baru tersebut diberi nama Pasar Karna.
Waktu terus berjalan. Usia Pak Sukarna pun semakin lanjut, di- iringi dengan kesehatan fisiknya yang semakin menurun. Istri Pak Sukarna telah tiada mendahului Pak Sukarna karena sakit kolera. Pada tahun 1951 Pak Sukarna meninggal dunia dalam usia 90 tahun dan dimakamkan di Jawa Barat. Penduduk Sidareja sangat kehilangan seorang yang berhati mulia.






Bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, penduduk Sidareja pun terus bertambah. Mereka ada yang berasal dari Jawa Barat, Kebumen, Purworejo, Surakarta, Yogyakarta, dan kota-kota lainnya. Dengan semakin bertambahnya penduduk, keadaan di Pasar Karna semakin bertambah ramai pula. Desa Sidareja pun mengalami pe- mekaran. Pada tanggal 23 Maret 1991 berdirilah Desa Gunungreja yang dahulu termasuk wilayah Desa Sidareja. Sejak saat itu, Pasar Karna termasuk menjadi bagian wilayah Desa Gunungreja. Letak Pa- sar Karna cukup strategis. Namun jika musim hujan tiba, Pasar Karna sering dilanda banjir. Oleh karena itu, dibangunlah Pasar Rahayu yang terletak lebih-kurang 400 meter di sebelah timur Pasar Karna. Keadaan Pasar Rahayu lebih luas dari Pasar Karna dan tidak pernah dilanda banjir.
Setelah Pasar Rahayu berdiri, sebagian pedagang berpindah ke Pasar Rahayu. Namun tidak dalam waktu lama, mereka kembali berjualan di Pasar Karna. Meski pun sering dilanda banjir dan tidak terlalu luas Pasar Karna tetap dicintai para pedagang dan pembeli. Bapak Sukarna telah tiada, tetapi namanya tetap diingat. Perbuatan- nya menjadi teladan bagi kita semua. Rela mengorbankan miliknya untuk kepentingan bersama.









selesai
