

Kabupaten Cilacap
Kabupaten Cilacap



Cerita Rakyat
Cerita Rakyat

“Asal-Usul Desa Welahan Wetan”
“Asal-Usul Desa Welahan Wetan”
Sebuah negeri akan makmur jika pemimpinnya memberikan perhatian yang penuh kepada rakyatnya. Begitupun dengan wilayah Alas Tuo. Wilayah ini dipimpin oleh seorang bekel
yang sangat arif dan bijaksana. Bekel Alas Tuo selalu memerhatikan kepentingan rakyatnya sehingga kemakmuran dapat dirasakan oleh seluruh warga di wilayah ini. Selain Arif dan bijaksana, Bekel Alas Tuo memiliki wajah yang sangat tampan dan kesaktian yang luar biasa. Semua perampok yang ada di sekitar wilayah Alas Tuo sangat menyegani Ki Bekel sehingga mereka tidak pernah melakukan aksi kejahatan di wilayah Alas Tuo. Pernah suatu ketika ada gerombolan yang merampok di wilayah Alas Tuo. Dengan gagah berani sang Bekel Alas Tuo melawan gerombolan perampok. Kepala rampok berhasil dikalahkan dengan satu gebrakan ilmu yang dimiliki oleh sang Bekel.
“Ampun... ampuni saya... saya mengaku kalah, Ki... Tolong ampuni nyawa saya,” ucap sang kepala rampok.
“Baiklah... aku akan mengampuni nyawamu dan anak buahmu, tapi dengan satu syarat,” jawab Ki Bekel tanpa melepaskan goloknya dari leher kepala perampok.

“Apa pun itu, Ki... saya janji, apa pun kehendak Ki Bekel akan saya lakukan asalkan Ki Bekel tidak membunuh saya dan anak buah saya,” jawab kepala perampok sambil menahan sakit akibat pukulan Ki Bekel yang mengenai tulang rusuknya.
“Baiklah. Aku pegang janjimu itu. Aku ingin kamu berhenti mengganggu ketenteraman penduduk Alas Tuo. Aku juga ingin kamu dan anak buahmu berhenti jadi perampok,” ucap Ki Bekel.
“Untuk syarat yang pertama akan saya laksanakan, Ki, tapi untuk syarat yang kedua kami berat untuk melaksanakannya. Karena kami tidak memiliki keahlian apa-apa selain merampok. Jika kami berhenti merampok, keluarga kami akan kami nafkahi apa?” jawab kepala perampok.
“Jika itu persoalannya, kamu boleh tinggal di Desa Alas Tuo. Kamu dapat belajar bertani dan berkebun dari masyarakat Alas Tuo. Dengan cara seperti itu, kamu akan memiliki keahlian dan keterampilan bercocok tanam.”
Kepala perampok mengamini semua perkataan sang Bekel. Ke- mudian, dia dan seluruh anak buahnya menetap di Desa Alas Tuo, serta meninggalkan pekerjaan lamanya sebagai perampok. Kearifan sang Bekel telah mampu mengubah keadaan kepala perampok dan seluruh anak buahnya.
Pada suatu musim panen, hasil panen masyarakat Alas Tuo me- limpah ruah. Semua masyarakat bersuka cita menyambutnya. Sebagai wilayah yang berada di bawah kekuasaan Keraton Surakarta, Desa Alas Tuo memiliki kewajiban untuk menyerahkan glondong pangeran areng atau upeti berupa hasil bumi kepada Keraton. Oleh karena itu, dengan sukarela seluruh warga menyisihkan hasil panennya untuk diserahkan kepada Ki Bekel dan kemudian akan diteruskan ke Ke- raton Surakarta.
Ki Bekel sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk melaku- kan perjalanan ke Surakarta guna menyerahkan upeti. Sejuknya udara pagi dan kicauan burung seolah-olah menghantarkan kepergian sang Bekel. Setelah beberapa hari menempuh perjalanan yang sangat panjang, Ki Bekel akhirnya sampai di Keraton Surakarta. Sang Bekel kemudian menghadap sang Raja untuk menyerahkan upeti.
“Wahai Baginda, terimalah upeti kami, upeti dari rakyatmu yang menghuni wilayah Alas Tuo. Upeti ini merupakan hasil panen yang terbaik yang kami persembahkan untuk Baginda.”






Baginda pun menerimanya dengan senang hati.
“Baiklah, Bekel. Saya terima upetimu, semoga panen berikutnya akan mendapat hasil yang lebih baik lagi. Saya mendengar dari telik sandi Kerajaan bahwa kamu telah berhasil mengalahkan kepala rampok yang sangat ditakuti di wilayah barat. Benarkah begitu?”
“Ampun, Paduka... semua itu karena kehendak Sang Hyang Maha Agung,” sembah sang Bekel.
“Aku sangat senang dengan orang yang rendah hati dan tidak sombong. Meskipun memiliki kesaktian yang luar biasa, tapi kamu tetap merendah. Aku sangat senang dengan hal itu. Jagalah wilayah itu dengan baik. Jadilah kamu Bekel yang dapat jadi anutan rakyatmu karena dengan seperti itu kemakmuran akan selalu didapatkan oleh rakyatmu.”
“Baik Paduka, hamba akan selalu mengingat wejangan paduka ini. Terima kasih karena Paduka telah memberikan kepercayaan ke- pada saya untuk mengelola wilayah Alas Tuo.”
Pada saat itu, Putri Keraton yang bernama Dewi Rayung Wulan sedang berjalan menuju taman sari, dengan tidak sengaja melihat Bekel tampan tersebut. Dewi pun langsung menghentikan langkahnya dan berdiri serta memerhatikan pemuda tersebut.
“Wah... waah... ganteng sekali orang yang menghadap ayahanda... Siapa dia? Dari desa mana dia berasal?” Putri Keraton bertanya-tanya dalam hati. Kemudian sang Putri memaggil salah satu dayangnya.
“Dayang... kamu tahu siapa yang sedang menghadap ayahandaku itu?” kata sang Putri sambil menunjuk ke arah sang Bekel.
“Ampun, Putri... saya tidak tahu. Jika Putri menghendaki infor- masi itu, hamba akan mencoba untuk mencari informasi itu.”
“Baiklah kalau begitu. Kamu cari informasi selengkap mungkin tentang pemuda itu. Namanya siapa, tinggal di mana, dan sudah ber- keluarga atau belum.”
“Baik Putri, saya akan secepatnya mencari informasi itu.”
Sang Putri benar-benar menaruh hati kepada sang Bekel. Tatapan matanya tidak terlepas dari Bekel Alas Tuo sampai tembok kaputren menghalangi pandangannya.






Setelah Bekel tadi pulang, hati Putri Keraton selalu bergejolak, resah, dan selalu gelisah. Bayangan wajah tampan sang Bekel selalu singgah di matanya tatkala mata Putri terpejam. Rasa rindu kepada sang Bekel membuat sang Putri tersiksa. Rasanya ingin selalu melihat wajah tampan pemuda tersebut. Putri Keraton pun tak dapat tidur. Dia ingin menanyakan asal dari mana pemuda tersebut kepada Ba- ginda. Namun, rasa takut dan khawatir selalu menghampirinya ka- rena sudah pasti tidak diizinkan oleh Baginda karena tidak sederajat antara Putri Keraton dan rakyat biasa. Sementara itu, Mbok Mban yang diperintahkan untuk mencari informasi tentang pemuda itu tak kunjung datang. Dalam lamunannya yang panjang tentang sang Bekel, tiba-tiba Mbok Mban menghadap dengan wajah yang berseri- seri. Mbok Mban kemudian memberitahukan bahwa pemuda yang menghadap Raja adalah seorang Bekel yang berasal dari wilayah Barat, yaitu wilayah Alas Tuo. Pemuda itu sangat tampan sehingga banyak gadis desa yang mengidolakan dan mengkhayal diperistri oleh sang Bekel. Namun, sampai saat ini belum ada satu perempuan pun yang mampu menaklukkan hati sang Bekel itu. Mendengar informasi itu, hati sang Putri sangat senang. Berarti ia memiliki kesempatan untuk mengabdikan dirinya kepada sang Bekel karena ternyata sang Bekel yang tampan itu belum berkeluarga.
Hari demi hari hati dan perasaan sang Putri disiksa oleh bayangan Bekel tampan dari Alas Tuo. Rasa rindu itu seolah-olah memisahkan jiwa dari raga sang Putri. Pekerjaannya hanya melamun dan selalu melamunkan wajah tampan sang Bekel Alas Tuo. Hingga pada suatu malam ia memutuskan untuk melampiaskan rasa rindunya kepada sang Bekel. Ia kemudian memanggil pelayan setianya untuk mem- persiapkan bekal. Sang pelayan sangat bingung karena tidak biasanya sang Putri akan melakukan perjalanan keluar dari Keraton Surakarta. Setelah mendapatkan penjelasan dari sang Putri, pelayan itu segera menyiapkan semua perlengkapan dan keperluan yang dibutuhkan dalam perjalanan menemui sang Bekel di wilayah Alas Tuo. Sebuah wilayah di bagian Barat Surakarta yang tidak pernah ia datangi.
Keesokan harinya, tanpa sepengetahuan Baginda, Putri memu- tuskan keluar dari Keraton untuk mencari Bekel tersebut sendiri dengan didampingi oleh pelayannya. Hari demi hari, minggu ber- ganti minggu, bulan berganti bulan, pencarian terhadap Bekel itu belum ada hasilnya. Perjalanannya telah teramat sangat jauh. Namun, tidak ada tanda-tanda keputusasaan di wajah sang Putri. Ia mencoba mencari informasi keberadaan sang Bekel pada setiap orang yang ditemuinya di perjalanan.






Ia bertanya pada setiap orang yang dijumpainya, “Ki Sanak... Saya Putri Keraton Surakarta, sedang mencari Bekel Alas Tuo yang tampan, yang telah menyerahkan upeti ke Keraton. Saya lelah tapi belum ketemu. Tolong saya. Ada yang tahu di mana Bekel Alas Tuo?” Namun, tidak ada seorang pun yang dapat memberi tahu keberadaan Sang Bekel.
Sang Bekel pun ternyata mengetahui bahwa sang Putri sangat mencintainya dan sekarang sedang melakukan perjalanan untuk mencari dirinya. Karena takut dianggap melecehkan sang Raja, ak- hirnya sang Bekel memutuskan untuk menghindar dari sang Putri dengan cara bersembunyi. Dia selalu menitipkan pesan kepada se- luruh rakyatnya untuk menutup semua informasi tentang dirinya dan keberadaannya. Karena hal itulah sang Putri tidak mendapatkan jawaban dari orang yang ditemuinya setiap kali ia bertanya tentang Bekel Alas Tuo.
Meskipun itu sangat berat, tetapi itu harus dilakukan oleh sang Bekel. Tidak dapat dipungkiri bahwa Bekel pun telah jatuh cinta pada sang Putri. Pernah suatu ketika pada saat Bekel mengantarkan upeti, tanpa sengaja ia melihat sang Putri. Hatinya bergetar hebat karena kecantikan sang Putri. Paras sang Putri selalu mengganggu hari-harinya. Sang Bekel jatuh cinta pada sang Putri. Oleh karena itu, ia selalu menantikan panen tiba. Dan, dia sendiri yang akan meng- antarkan upeti itu ke Kerajaan. Dengan begitu ia akan dapat melihat paras cantik sang Putri.
Apa yang dirasakan oleh sang Bekel hanyalah sebatas rasa tanpa keberanian untuk mewujudkannya. Hal tersebut disebabkan sang Bekel takut ada masalah dengan Keraton di kemudian hari. Sang Bekel cukup tahu diri bahwa dia hanya rakyat biasa, tidak mungkin sang Raja Surakarta akan mengizinkan anaknya dipersunting oleh rakyat biasa seperti dirinya. Oleh karena itu, sang Bekel berusaha untuk membunuh bibit cinta yang ada di dalam hatinya. Ketakutan itu semakin menjadi tatkala Bekel tahu jika sang Putri jatuh cinta dan melarikan diri dari Keraton untuk mencari dirinya.
Tanpa rasa putus asa, Putri terus melanjutkan perjalanan untuk dapat mencapai asanya, yaitu menemui sang Bekel Alas Tuo. Perja- lanan untuk sampai ke Alas Tuo dan menemui sang Bekel terus di- lakukan sampai sang Putri merasa sangat lelah luar biasa. Meskipun jalannya sudah terhuyung-huyung... tenaga telah terkuras... badan sangat lemah, sang Putri tetap melanjutkan pencariannya sehingga sampailah sang Putri di suatu tempat di mana ia sudah kewalahan dalam mencari Bekel. Kemudian, Putri berkata kepada warga sekitar yang kebetulan ia temui dalam masa istirahatnya.






“Paman... sesuk ing rejaning jaman... deso iki dijenengi WELAHAN yo..., yang berarti saya telah kelelahan... saya telah kewalehen...,” ucap sang Putri kepada seseorang yang sedang beristirahat juga.
Keraton Surakarta menjadi gundah. Raja sangat bersedih hati atas hilangnya sang Putri. Raja Surakarta merasa kehilangan putri kesayangannya. Ia kemudian memanggil semua abdinya untuk ber- kumpul dan membahas persoalan ini. Dalam pertemuan itu dipu- tuskan bahwa sang Putri harus ditemukan dan dibawa kembali ke Keraton Surakarta. Untuk melaksanakan tugas ini dipilihlah abdi dalem yang bernama Komplang dan Kampling. Baginda mengutus keduanya untuk menemukan Dewi Rayung Wulan.
“Komplang dan Kampling, kalian kuutus untuk menyusul dan membawa pulang Putri. Menurut informasi yang saya terima, dia melakukan perjalanan ke arah barat, yaitu ke arah Alas Tuo untuk menemui sang Bekel.”
“Sendiko dawuh Gusti,” jawab kedua abdi dalem itu.
Oleh sang Raja, Komplang dan Kampling dibekali liman seto atau gajah putih untuk nantinya dinaiki putri dan Payung Tunggul Naga untuk memayungi Putri kalau ketemu. Maksudnya adalah agar Putri tidak kecapekan serta kehujanan dan kepanasan ketika dibawa pulang ke Keraton Surakarta. Setelah perbekalan dan perlengkapan dianggap mencukupi untuk melakukan perjalanan, berangkatlah kedua abdi dalem itu ke arah barat, yaitu ke wilayah Alas Tuo. Ber- hari-hari mereka berjalan tanpa mengenal lelah. Beberapa hutan me- reka masuki dan beberapa gunug mereka lewati. Sungai-sungai besar harus mereka seberangi untuk satu asa, menemukan sang Putri dan membawanya pulang ke Keraton.
Setelah beberapa daerah dilewati, Komplang dan Kampling terus melanjutkan perjalanan ke arah barat. Setelah beberapa minggu per- jalanan sampailah mereka di sebuah tempat yang bernama Alas Tuo.
“Kampling, sepertinya kita telah sampai di Alas Tuo. Coba kamu cari informasi apa benar ini daerah Alas Tuo.”
“Baiklah, Kang, saya akan bertanya kepada orang-orang itu,” jawab Kampling lalu menghampiri beberapa orang yang sedang beristirahat di bawah pohon.
“Permisi, Kang, saya mau tanya, apa benar ini wilayah Alas Tuo?” tanya Kampling.
“Benar sekali, Kang... Ini memang daerah Alas Tuo. Kakang dari mana dan ada keperluan apa di daerah ini?” jawab salah satu orang.






“Eh... begini, Kang, perkenalkan nama saya Kampling. Saya abdi dalem Keraton Surakarta. Maksud kedatangan saya ke wilayah ini adalah untuk menemukan Putri Surakarta dan membawanya kembali pulang ke Surakarta. Apa Kakang pernah bertemu dengan Putri kami dan tahu tempat tinggalnya?”
‘Wah... maaf, Kang, saya tidak pernah dengar masalah Putri yang datang ke daerah ini. Coba Kakang tanya ke orang lain, siapa tahu mereka mengetahuinya. Jika tidak ada yang ditanyakan lagi, kami permisi Kang. Kami mau kembali menggarap kebun kami yang ada di seberang jalan itu.” Orang-orang itu lalu bubar meninggalkan Kampling sendirian diliputi bingung dalam pikirannya.
“Mengapa orang-orang itu sepertinya menghindar dan ketakutan sekali pada saat saya menanyakan keberadaan sang Putri?” tanya Kampling dalam hati.
Kampling pun akhirnya menemui kembali Komplang dan me- nyampaikan apa yang baru saja dia rasakan.
“Ah... itu mungkin karena perasaanmu saja, Kampling. Setelah aku lihat memang benar kok kalau orang-orang itu kembali mengerjakan kebunnya, bukan menghindari kamu. Sudahlah, kita lanjutkan per- jalanan ini dan kita tanyakan kepada orang yang kita temui nanti.”
Mereka melanjutkan perjalanan. Mereka bertanya kepada warga sekitar yang mereka temui dalam perjalanan, di mana keberadaan Putri. Namun, tidak ada satu orang pun yang dapat memberikan penjelasan dan keterangan tentang keberadaan sang Putri. Karena telah menempuh perjalanan yang sangat jauh dan merasa sangat le- lah, mereka pun berhenti.
Komplang berseru, “Kampling, lihat! Itu ada pohon besar... Ga- jahnya kita ikat di pohon besar itu saja ya? Kasihan capek.”
“Baiklah... Ayo kita tarik...!!! Yang kuat ya? Ya! Ya...! Hhh... Sudah kita ikat... Kita istirahat dulu... ,” jawab Kampling.
Beberapa waktu kemudian gajah itu mati. Tempat itu sekarang dinamakan Gang Gajah atau lebih dikenal sebagai Galur Gajah.
Waktu terus berjalan. Sang Putri pun selalu bertanya kepada se- tiap orang yang dijumpainya tentang keberadaan Bekel. Namun, dia






belum menemukan pujaan hatinya itu. Kemudian, sang Putri duduk di bawah pohon Kayu Bendo. Dia merenung, merasa bersalah, dan sangat malu kepada ayah ibunya serta kepada semuanya karena telah meninggalkan Keraton hanya untuk mencari seorang pemuda. Tiba- tiba, Putri mencabut cundrik yang selalu ada di pinggangnya.
Putri berkata, “Gusti Pangeran... Panggihake kawulo kaliyan Ka- kang Bekel... Ingkang kulo tresnani... Ibu lan Romo... kawula nyuwun pangapunten... kesah saking Keraton mboten nyuwun pangestu du- mateng panjenengan kekalih... Kawulo lingsem sanget...Kawulo sam- pun mboten kiyat... .”
Ia menancapkan cundrik tepat ke dadanya dan... bleph... mati... . Ia bunuh diri di bawah pohon Kayu Bendo. Setelah mendengar Putri telah bunuh diri, Bekel yang bersembunyi itu pun segera menuju ke tempat putri.
“Putri... iki aku... wis ketemu sliramu... .”
Lalu ia pun ikut bunuh diri di situ. Jenazah putri dimakamkan di bawah pohon Kayu Bendo, sedangkan jenazah Bekel dimakamkan terpisah, yaitu di kuburan Alas Tuo. Sekarang tempat bunuh diri Putri Keraton tersebut dinamai Gang Embah Putri atau Galur Putri. Jalan utama yang melintasi Gang Embah Putri dinamai Jalan Bendasari yang diambil dari kata pohon Kayu Bendo.
Dua orang abdi dalem yang mencari Putri kemudian kembali ke Keraton Surakarta untuk mengabarkan pada Baginda bahwa Dewi Rayung Wulan telah meninggal dunia dan dimakamkan di Alas Tuo.
Sampai sekarang, desa tersebut dinamai Desa Welahan, sesuai ucapan Putri Keraton Surakarta sebelum meninggal, yang berasal dari bahasa Jawa ‘kewelahen’ atau kewalahan seorang Putri Keraton yang mencari Bekel atau kepala desa. Kemudian, karena wilayahnya sangat luas, Desa Welahan dibagi dua, yaitu Welahan Kulon dan Welahan Wetan. Waktu selanjutnya yang terkenal adalah Desa Welahan Wetan dan sekarang menjadi Desa Wisata dengan pantainya Wagir Indah.









Selesai
