

Kabupaten Cilacap
Kabupaten Cilacap



Cerita Rakyat
Cerita Rakyat

Dahulu kala di wilayah selatan Galuh terdapat samudra yang cukup luas terkenal dengan Segara Anakan. Segara Anakan masuk pada wilayah Kepulauan Nusakambangan. Wilayah
ini sering dilayari kapal-kapal pedagang sehingga cukup ramai. Pen- duduk di sekitarnya pun hidup tenteram, makmur, dan sejahtera di bawah pimpinan Sri Susuhunan Paku Buwana IV yang arif dan bi- jaksana.
Wilayah Donan ketika masih menjadi wilayah kekuasaan Kasu- nanan Surakarta sering dilanda kerusuhan. Suatu hari wilayah Do- nan digemparkan oleh datangnya segerombolan bajak laut. Tanpa perikemanusiaan para bajak laut merampas harta benda dan mem- bunuh rakyat yang tidak berdosa. Mendengar berita tersebut Sri Su- suhunan Paku Buwana IV sangat marah dan segera bertindak.
“Bajak Laut di Pantai Cilacap”
“Bajak Laut di Pantai Cilacap”

“Kurang ajar, para bajak laut! Berani-beraninya mengganggu ke- tenteraman rakyatku!” sentak Raja.
“Tumenggung Kertanegara, babat habis para perompak di daerah Donan!” perintah Raja. Tumenggung Kertanegara segera berangkat ke daerah Donan.
Ketika sampai di Donan, Tumenggung Kertanegara tidak mau tinggal di Donan, tetapi lebih memilih tinggal di daerah Ngayah yang terletak di sebelah selatan Gombong, Kebumen. Tugas mengatasi bajak laut diserahkan kepada Raden Ronggo Kertarana. Untuk me- mimpin pasukan ke daerah Donan, Raden Ronggo Kertanegara menetap di tepi pantai yang terkenal dengan Congot Wetan yang terletak di Pantai Teluk Penyu bagian paling selatan atau di ujung Semenanjung Cilacap. Di tempat ini para prajurit membuat benteng- benteng untuk kubu pertahanan mereka. Selain itu, mereka juga ber- cocok tanam untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Ketika para prajurit sedang bercocok tanam dan asyik mencari kayu bakar, tiba-tiba ratusan bajak laut datang menyerang. Bajak laut berteriak garang, “Serraaang... habisi semua prajurit, rampas harta miliknya, ayyooo... serraaang...!” Raden Ronggo dan pasukannya terdesak mundur dan akhirnya tewas oleh amukan senjata bajak laut, tetapi sebagian pasukannya dapat melarikan diri.
Kawanan bajak laut tersebut tertawa merayakan kemenangan mereka atas pasukan Raden Ronggo. Mereka selanjutnya semakin membabi buta mengamuk, menyerbu, menghancurkan benteng pertahanan, merampas meriam, dan memorakporandakan per- kampungan penduduk. Mendengar pasukannya kalah, Sri Susuhunan Paku Buwana IV pun berpikir keras untuk menghadapi aksi bajak laut tersebut. Ia mesti memiliki strategi yang jitu. Sri Susuhunan me- manggil ketiga penggawanya untuk berunding.
“Ki Jagapraja, Ki Jagalaut, dan Ki Jagaresmi. Bagaimana menurut pendapat kalian untuk melawan kawanan bajak laut itu?” tanya Sri Susuhunan memulai pembicaraan.
“Ampun Kanjeng. Menurut pendapat hamba, bagaimana kalau untuk melawan bajak laut itu kita mengatur strategi,” jawab Ki Ja- gapraja.
“Strategi yang seperti apa, Ki?” desak Sri Susuhunan lagi.
“Berdasarkan pertimbangan bahwa arah kedatangan kawanan bajak laut itu tidak dapat ditentukan, bagaimana kalau pasukan kita bagi menjadi tiga kelompok,” jawab Ki Jagalaut.






“Bagus, pendapat yang bagus! Baiklah, pasukan kita bagi tiga,” kata sang Raja.
“Ki Jagapraja, pergilah! Bawa pasukanmu ke arah timur. Ki Jaga- laut, aku perintahkan kau membuat pertahanan di wilayah tengah. Buatlah pertahanan di atas air di daerah Segara Anakan. Ki Jagaresmi, aku perintahkan kau pergi ke muara Citanduy. Buatlah pertahanan di wilayah barat,” perintah sang raja kepada tiga pengikut setianya.
“Baik, Kanjeng Sunan, perintah baginda segera kami laksanakan,” jawab ketiganya kompak.
Sebelum menyerang bajak laut, Ki Jagalaut dan kawan-kawannya membuat pagar bambu yang ujungnya dibuat lancip sebagai salah satu strategi melawan bajak laut. Dengan gigih dan bersemangat pasukan mereka mengendap-endap di balik pagar. Kekompakan pasukan dengan menggunakan strategi pagar ini mampu melumpuhkan ka- wanan bajak laut yang menyerang wilayah Donan. Namun, ternyata ada beberapa orang bajak laut yang lolos dan melarikan diri ke wilayah Jeruklegi dan Majenang. Pagar yang dibuat oleh pasukan Donan dirusak. Para pasukan Donan tidak mengejar para bajak laut yang lolos tersebut. Mereka bergotong royong membangun kembali pagar dan rumah-rumah yang rusak parah akibat serangan kawanan bajak laut tersebut. Untuk langkah perlindungan dan antisipasi atas serangan kawanan bajak laut yang tidak terduga, para penduduk dan para prajurit membuat pagar yang sangat rapat dan ujungnya dibuat lancip mengelilingi perkampungan.
Ancaman serangan dan teror dari bajak laut terus menghantui para warga yang sering kali mendapat serangan mendadak. Keadaan yang tidak aman dan nyaman ini membuat para penduduk memutuskan untuk meninggalkan kampung tersebut dan pergi ke wilayah yang dirasa aman dari ancaman serangan kawanan bajak laut yang dapat datang sewaktu-waktu. Mereka membuat perkampungan baru di se- kitar Segara Anakan di muara Sungai Citanduy serta membangun desa-desa terapung yang kemudian terkenal dengan nama Kampung Laut. Sampai sekarang penduduk Kampung Laut hidup tenteram dan damai. Para penduduk yang tinggal di wilayah tersebut pun semakin banyak. Untuk menyempurnakan sistem pertahanan di wilayah ter- sebut pagar yang dahulu terbuat dari bambu selanjutnya oleh Peme- rintah Kolonial Belanda dibangun secara permanen di pantai bagian timur laut dan diberi nama Benteng Karang Bolong dan Benteng Banyu Njapa. Hingga kini kedua benteng tersebut digunakan sebagai strategi pertahanan melawan bajak laut yang sewaktu-waktu masuk ke wilayah Semenanjung Pelabuhan Cilacap.









Selesai
