


Kabupaten Cilacap
Kabupaten Cilacap



Cerita Rakyat
Cerita Rakyat

“Curug Pengantin”
“Curug Pengantin”
Tersebutlah sebuah desa bernama Babakan. Dahulu kala desa ini masih sangat primitif. Desa Babakan termasuk bagian dari Dusun Karang Salam yang berada di sebelah timur Hutan Sentul, Kecamatan Kawunganten, sekarang menjadi Kecamatan Ban- tarsari wilayah Kabupaten Cilacap. Desa ini dikelilingi hutan-hutan yang rimbun. Di tempat itu banyak binatang buas dan liar. Sering kali binatang liar tersebut masuk ke wilayah perdesaan.
Suasana siang dan malam hari tidak jauh berbeda. Pada siang hari, masyarakat bekerja untuk mencari nafkah. Ada yang bertani dan berladang, ada pula yang berdagang. Tidak hanya orang tua, anak-anak pun ikut membantu pekerjaan orang tua mereka. Pada malam hari suasana sunyi akan terasa. Masyarakat terlelap dalam istirahatnya setelah seharian bekerja. Rembulan yang hadir setiap malam pertengahan bulan menyibak kegelapan malam Desa Babakan.

Kehidupan akan terasa di saat-saat demikian. Pada malam- malam seperti itu anak-anak diperbolehkan bermain hingga agak malam. Suara anak-anak bertingkah riang terdengar. Mereka asyik berkumpul dan bermain mereka sangat menikmati momen-momen seperti ini, tidak seperti malam-malam biasa yang hanya ditemani lentera. Malam-malam ketika bulan purnama menjadi malam yang benderang.
Sebagaimana kebudayaan masyarakat di desa, pada masa itu perjodohan antara dua insan manusia masih merupakan tradisi. Anak yang baru beranjak remaja saling dijodohkan. Para remaja tidak berani menolak karena adat yang harus dipegang. Selain itu, perjodohan merupakan wujud bakti kepada orang tua.
Pada masa itu terkenallah seorang gadis yang cantik jelita dan baik hati di Desa Babakan bernama Sarinten. Ia merupakan anak seorang petani miskin. Bapaknya bernama Wiryadi dan ibunya bernama Sarinah. Sarinten setiap hari giat membantu kedua orang tuanya. Ia merapikan rumah, memasak, menyiapkan makanan, dan mencucikan baju orang tuanya. Tidak jarang ia juga membantu bapaknya berladang dan bertani. Semua itu ia lakukan sebagai wujud bakti kepada kedua orang tuanya yang sudah cukup tua. Pada waktu itu sangat sedikit orang yang bersekolah, hanya tuan-tuan tanah yang mampu menyekolahkan anaknya. Anak-anak sejak kecil sudah biasa bekerja membantu orang tuanya.
Sosok Sarinten yang cantik, santun, ramah, dan pandai membawa diri membuatnya dikenal banyak orang. Paras yang jelita dan kebeningan hatinya, menjadikannya sebagai bunga desa. Banyak pe- muda dari berbagai desa ingin meminangnya. Namun, belum ada satu pun yang dapat memikat hatinya. Ia juga tidak terlalu memikirkannya, yang dipikirkan hanya bekerja agar dapat membantu kedua orang tuanya. Di samping itu, Sarinten berharap mendapatkan suami yang baik, mau bekerja keras, dan berbakti kepada orang tuanya sehingga ia sangat berhati-hati dalam menentukan pasangan hidupnya.
Pada suatu hari Sarinten diajak bapak dan ibunya pergi ke ladang untuk menanam ubi, sambil bekerja bapaknya berkata, “Sarinten anakku, kamu adalah seorang gadis yang sudah cukup umur, mengapa tidak mau menikah? Bapak takut kamu menjadi perawan tua, Nak”. Mendengar perkataan bapaknya, Sarinten hanya tersenyum.






Kabar mengenai Sarinten tersebar dari mulut ke mulut hingga terdengarlah kecantikan dan kebaikan hati Sarinten oleh seorang pemuda bernama Suta Winata. Ia adalah pemuda yang baik hati dan rajin bekerja. Setiap hari ia giat membantu orang tuanya bertani. Sikapnya santun terhadap orang lain. Akan tetapi, Suta Winata me- miliki wajah yang buruk rupa. Tidak jarang orang-orang hanya me- lihat fisik tanpa melihat kebaikan hati Suta Winata. Hal itulah yang membuat Suta Winata bersedih apabila memikirkannya.
Bapak Suta Winata bernama Jaya Darto dan ibunya bernama Fatmawati. Pekerjaan mereka adalah sebagai petani. Meskipun de- mikian, keluarga Suta Winata merupakan petani paling kaya di desa itu. Orang tua Suta Winata memiliki sawah dan ladang yang luas di desanya dan di luar desa. Orang tua Suta Winata merupakan juragan yang memiliki buruh tani dari berbagai daerah.
Suta Winata merupakan anak satu-satunya Jaya Darto dan Fat- mawati. Mereka sangat menyayanginya. Apa yang menjadi keinginan Suta Winata, orang tuanya akan memenuhinya. Hal ini tidaklah sulit karena memang kedua orang tuanya mampu.
Kebiasaan Suta Winata adalah berburu. Ia dapat menghabiskan banyak waktunya untuk berburu. Terkadang waktu berhari-hari ia habiskan di hutan untuk berburu. Babi hutan merupakan binatang yang paling sering ia dapatkan dalam berburu. Babi hutan di Hutan Sentul amatlah banyak. Hutan itu yang memisahkan antara Desa Babakan dan Desa Binangun. Rimbun pepohonan di hutan tidak dapat menyurutkan semangat Suta Winata untuk berburu. Selain sebagai kegemaran, berburu ia jadikan juga sebagai sarana untuk membantu warga sekitar.
Babi hutan seringkali masuk ke perkampungan warga dan me- rusak sawah serta ladang. Babi hutan yang buas dan liar membuat warga tidak berani menangkap babi-babi hutan itu. Petani seringkali merugi akibat serangan babi hutan ini. Suatu saat pernah terjadi, sekumpulan babi hutan menyerang persawahan warga hingga terjadi gagal panen. Masyarakat sangat menderita akibat hal itu.
Dalam berburu Suta Winata sering ditemani oleh teman-te- mannya. Senjata yang digunakan untuk berburu Suta Winata adalah tombak. Sebelum berburu, ia mengasah tombaknya serta memper- siapkan semua perlengkapan perburuan.
Pada suatu hari, Suta Winata melakukan perburuan bersama teman-temannya. Sesampainya di Hutan Sentul, Suta Winata berjalan hati-hati dengan memegang tombak di tangan.






“Sisst, lihat itu ada babi hutan, kalian diamlah!” kata Suta. “Di mana?” temannya bertanya setengah berbisik.
“Di sebelah sana, di belakang rimbun perdu.”
Beberapa saat kemudian terdengar suara robohnya babi hutan yang gempal terkena tombak. Suta Winata membidik tepat pada tubuh babi hutan itu. Suta Winata membawa pulang hasil buruan- nya. Saat pulang ke rumah, ia melewati Desa Babakan. Di tengah perjalanan, Suta Winata mendengar kembali cerita teman-temannya akan kecantikan Sarinten. Kabar tentang kecantikan Sarinten semakin membuat Suta Winata ingin tahu. Semakin sering mendengar tentang itu, Suta Winata menjadi tertarik dan penasaran.
Suatu ketika Sarinten sedang mencuci baju di sungai. Tanpa di- ketahui Sarinten ada sepasang mata di balik semak-semak sedang mengamatinya. Ternyata dia adalah Suta Winata. Setelah melihat Sarinten secara langsung, Suta Winata pulang dan menceritakan kecantikan Sarinten kepada orang tuanya. Suta Winata meminta kepada Jaya Darto dan Fatmawati untuk melamarnya. Suta Winata sangat menyukai Sarinten.
“Bapak, Ibu, tolong lamarkan Sarinten menjadi istriku. Dia sangat cantik. Aku sangat menyukainya,” pinta Suta Winata.
Karena sangat menyayangi anak semata wayangnya, Jaya Darto dan Fatmawati lalu melamar Sarinten. Orang tua Suta Winata mempersiapkan segala keperluan untuk melamar Sarinten. Setelah semuanya siap, Suta Winata dan keluarganya bertolak ke rumah Sarinten. Keluarga Sarinten menyambut Suta Winata dan keluarganya dengan ramah. Kedua keluarga menyepakati lamaran Suta Winata dan Sarinten. Dipanggillah Sarinten oleh orang tuanya.
“Sarinten anakku, bapak dan ibumu telah menerima lamaran dari keluarga Jaya Darto. Oleh karena itu, kamu harus menikah dengan Suta Winata,” dengan kelembutan seorang ibu, Sarinah mengatakan keputusan besar itu kepada Sarinten.
Sarinten termenung, dalam hatinya dia menolak lamaran itu karena dia mengetahui bahwa Suta Winata seorang pemuda yang buruk rupa. Ia tidak menyukai Suta Winata sehingga ia belum dapat memberikan keputusan. Orang tuanya membujuk Sarinten agar me- nerima lamaran Suta Winata.






“Nduk, kamu sudah dewasa, kamu harus segera menikah. Apa- lagi bapak dan ibumu sudah tua, sudah tidak dapat bekerja keras. Sebentar lagi mungkin Tuhan Yang Kuasa akan memanggil kami. Kamu harus sudah berkeluarga supaya ada yang melindungimu dan menemanimu sepeninggal bapak ibumu nanti.”
“Bapak dan Ibu, mengapa bicara seperti itu?”
“Kita tidak boleh mendahului nasib, siapa tahu malah Sarinten dulu yang dipanggil Tuhan. Ajal tidak ada yang tahu, tidak bergantung umur.”
“Betul perkataanmu itu, Nduk. Akan tetapi, keputusan bapak dan ibumu ini demi masa depanmu. Suta Winata sangat menyukaimu, Nduk. Dia pemuda yang baik. Meskipun wajahnya buruk rupa, tetapi hatinya baik. Dia pasti akan menjadi suami dan ayah yang baik untuk anak-anakmu.”
“Kami sangat menyayangimu, Nduk. Kami tidak akan menjeru- muskanmu dan memilihkan suami yang tidak baik untukmu. Per- cayalah kepada kami, Nduk.”
“Baiklah, pikirkanlah dahulu, kamu tidak perlu terburu-buru. Sekarang istirahatlah sudah malam!”
Demikianlah, Wiryadi dan Sarinah membujuk Sarinten. Hal itu mereka lakukan bukan karena mengetahui kalau keluarga Suta Winata adalah keluarga yang kaya raya. Akan tetapi, semata karena mereka memahami bahwa sesungguhnya Suta Winata adalah orang yang baik.
Beberapa hari berlalu sejak pembicaraan itu, Sarinten belum juga memberikan keputusannya. Pada suatu hari Sarinten membantu bapaknya di ladang. Ketika mereka sedang sibuk menanam jagung, tiba- tiba bapak Sarinten diserang babi hutan yang turun dari Hutan Sentul. Sarinten segera berlari dan bersembunyi di balik pohon. Ia melihat bapaknya bergulat dengan babi hutan yang menyerang tanpa ampun.
Tiba-tiba terdengarlah suara, “Tarrr!”
Patahlah tanduk babi hutan itu, mungkin karena kesakitan babi hutan pun lari masuk hutan. Bapak Sarinten telah lemas akibat oyakan babi hutan itu. Melihat kejadian itu, Sarinten lari mendekati bapaknya yang terkapar berlumuran darah, dipeluknya erat-erat sambil menangis dan berteriak minta tolong.






”Tolooong, tolong, tolooong! Bapaaak,” teriak Sarinten.
Setelah beberapa kali berteriak minta tolong akhirnya orang- orang di sekitar ladang datang membantu bapak Sarinten. Keadaan Wiryadi sangat parah. Akhirnya ia diantar ke tabib. Namun, takdir berkata lain. Meskipun telah diantar ke tabib, Wiryadi tidak tertolong lagi. Sarinah dan Sarinten sangat bersedih atas kepergian Wiryadi. Sarinah menjadi janda dan Sarinten menjadi anak yatim. Setelah kepergian bapaknya, Sarinten harus lebih keras lagi dalam bekerja agar dapat membantu ibunya.
Setiap hari Sarinten termenung, teringat bapaknya yang terbunuh diserang babi hutan. Dalam hati ia sangat ingin dapat menangkap babi hutan yang telah menyerang bapaknya agar tidak ada lagi yang terluka akibat serangan babi hutan itu.
Semenjak kepergian suaminya, Sarinah merasa berat menanggung beban hidup keluarganya. Pada suatu malam dipanggilah Sarinten anaknya.
“Sarinten, sini, Nduk. Ibu mau bicara. Semenjak ditinggal bapak- mu, ibu merasa hidup kita semakin berat. Kita harus bekerja semakin keras menggantikan pekerjaan bapakmu mengolah sawah dan la- dang. Padahal, ibu juga sudah tidak muda lagi. Ibu juga kasihan padamu. Karena bekerja keras, sekarang kamu semakin kurus. Oleh karena itu, Nduk, cepatlah kamu menikah dengan Suta Winata agar kita ada yang membantu dalam bekerja,” pinta Sarinah yang terlihat semakin renta dimakan usia dan kerja keras.
Sarinten telah memahami akan hal ini. Ia juga merasa kasihan dengan perjuangan ibunya dalam memenuhi kebutuhan hidup dan menggantikan pekerjaan bapaknya dalam bersawah dan berladang.
Sarinten memang anak yang berbakti. Walaupun dalam hatinya tidak mencintai Suta Winata, ia mau menuruti permintaan ibunya dengan syarat yang ia ajukan.
“Ibu, saya mau menikah secepatnya asalkan Suta Winata dapat mencari dan menangkap babi hutan yang telah menyerang Bapak.”
Disampaikanlah syarat dari Sarinten kepada Suta Winata.
“Kangmas Suta Winata, saya mau menikah denganmu sece- patnya, tetapi kamu harus dapat menangkap babi hutan yang telah menyerang bapakku, yaitu babi hutan yang tanduknya patah satu,” kata Sarinten.






Suta Winata sangat bahagia mendengar hal itu secara langsung dari Sarinten. Ia menyampaikan kabar ini kepada kedua orang tuanya. Jaya Darto dan Fatmawati sangat senang mendengar kabar itu. Mereka merasa bahagia bahwa anaknya yang buruk rupa akan segera mendapatkan jodoh. Tidak lupa syarat yang diberikan Sarinten ia kabarkan juga kepada orang tuanya. Jaya Darto dan Fatmawati mendukung Suta Winata untuk menerima tantangan itu. Mereka mengetahui bahwa tantangan itu bukanlah hal yang berat untuk di- hadapi Suta Winata.
Tanpa berlama-lama, ia bergegas mempersiapkan perburuan. Tombak kesayangan diasahlah olehnya. Jaya Darto dan Fatmawati pun turut membantu mempersiapkan segala keperluan Suta Winata. Sebelum berangkat ke hutan, Suta Winata berdoa dan memohon doa restu kepada orang tuanya. Kedua orang tuanya memberikan doa restu dan terus berdoa demi kelancaran perburuan itu.
Berhari-hari, berminggu-minggu, Suta Winata keluar masuk Hutan Sentul. Namun, babi itu belum ditemukan juga. Suta Winata tidak patah arang. Ia terus mencari babi hutan itu. Usaha keras Suta Winata akhirnya membuahkan hasil. Suta Winata berhasil menemukan babi hutan yang ia cari. Dengan tombaknya, Suta Winata beraksi. Tidak lama pergulatan antara pemburu dan yang diburu berlangsung, hingga terbunuhlah babi hutan penyerang bapak Sa- rinten.
Mendengar kabar itu, lega hati Sarinten. Ia pun menepati janjinya meski di dalam hati Sarinten masih belum dapat menerima Suta Winata.
Hajat besar keluarga Jaya Darto berlangsung. Belum 40 hari Sa- rinten dan Suta Winata menikah, mereka pergi ke ladang. Suta Wi- nata selalu merayu Sarinten. Sarinten merasa malu, kemudian ia berlari menuju ke curug (air terjun). Suta Winata pun mengikutinya. Karena ingin cepat-cepat menghindari Suta Winata, ia tidak sadar jika di tengah curug ada sumber air yang dalam.
“Srreeeet, gebyurrr!” Sarinten terpeleset masuk ke dalam sumber tersebut di bawah air terjun.
“Haaahhh! Sarinteen!” Suta Winata menjerit histeris. Ia lalu me- loncat ke sumber ingin menolong istrinya, tetapi malangnya ia malah ikut tenggelam. Setelah terjadinya peristiwa tersebut tempat itu akhirnya diberi nama “Curug Pengantin”.






Semenjak kejadian itu masyarakat Desa Babakan menjadi takut mandi, mencuci baju, dan mengambil air di curug itu. Jaya Darto, bapak Suta Winata tidak dapat melupakan peristiwa tersebut se- hingga ia mengajak warga Desa Babakan untuk bedol desa. Mereka beramai-ramai pindah ke tempat baru dan diberi nama “Binangun Baru”. Karena tidak ada lagi orang yang tinggal di Desa Babakan, sekarang desa itu telah berubah menjadi hutan.









Selesai
