

Kabupaten Cilacap
Kabupaten Cilacap



Cerita Rakyat
Cerita Rakyat

“Gunung Maruyung”
“Gunung Maruyung”
Cerita Gunung Maruyung ini berasal dari daerah Cilacap Barat. Pada zaman dahulu di atas awan ada sebuah negeri bernama Negeri Atas Angin yang dipimpin oleh seorang
raja. Dia memiliki seorang putri yang cantik jelita bernama Putri Maharani. Ia bertugas mengatur curah hujan yang bermanfaat bagi penduduk bumi. Kecantikannya sangat dipuja oleh para dewa. Na- mun, ada sebuah kecerobohan yang ia lakukan dan menyebabkan bencana bagi penduduk bumi.
Pada suatu hari sang Putri merasa kelelahan. Ia seharian menjaga curah hujan di bumi. Ia lari ke sana kemari untuk menurunkan hujan. Pekerjaannya bukanlah pekerjaan yang mudah. Ia harus teliti dan sigap saat menurunkan hujan. Menumpahkan air ke bumi dengan debit yang pas, tidak sedikit juga tidak terlalu banyak. Hingga pada suatu hari sang Putri melakukan kesalahan yang fatal.

Suatu hari di siang yang terik sang Putri merasa kelelahan. Ia kemudian tertidur di atas bangku kesukaannya. Karena lelapnya, ia lupa untuk menghentikan curah hujan. Cuaca tiba-tiba berubah, curah hujan menjadi tidak terkendali. Air hujan di bumi makin tak terbendung dan makin memporakporandakan bumi seisinya. Semua penduduk berlari ke sana kemari, kebingungan mencari bantuan. Anak kecil menangis ketakutan. Banyak anak terpisah dari orang tuanya. Banyak pula istri terpisah dari suaminya. Beberapa tempat di bumi menjadi banjir. Tanaman pertanian banyak yang rusak. Bahan- bahan makanan hanyut dibawa banjir. Akibatnya, timbul bencana kelaparan. Wabah penyakit pun menyebar luas ke mana-mana, angka kematian pun meningkat. Berita kekacauan ini telah sampai kepada Raja. Kecerobohan Putri Maharani membuat sang Raja murka dan kecewa atas kelakuannya. Raja segera memanggil putrinya, “Putriku, kemarilah! Aku ingin bicara! Cepat menghadap!”
Putri Maharani sangat kaget karena tidak tahu apa yang terjadi, sambil mengusap wajahnya ia berkata, “Ada apa gerangan Ayahanda memanggil hamba?”
“Putriku, karena kecerobohanmu penduduk di bumi hancur! Sebagai gantinya engkau kukutuk menjadi nenek peyot! Sekarang turunlah ke bumi, kelak ada seorang pemuda yang melepaskan ku- tukanku!”
“Ampuni hamba, Ayah. Apa salah hamba?”
“Kamu tidak tahu apa kesalahanmu? Lihatlah ke bumi bagaimana akibat kecerobohanmu!”
Putri Maharani pun melongok ke bumi. Ia terkejut dengan ke- adaan yang terjadi di bumi. Ia pun menyadari kecerobohannya.
“Ampun beribu ampun, Ayah. Hamba mohon maaf, hamba me- nyesal telah lalai dalam mengemban tugas,” Putri Maharani menangis terisak-isak menyesali perbuatannya. Ia seharusnya bersikap disiplin ketika bertugas.
“Ampun beribu ampun, Ayahanda. Hamba mohon jangan kutuk hamba. Hamba tidak ingin turun ke bumi dengan rupa seperti itu, Paduka Raja!”
Sang Putri menangis sejadi jadinya. Namun, tangisan sang Putri tidak membuat sang Raja luluh. Ia tetap memberikan hukuman kepada anaknya agar bertanggung jawab. Sang Raja tetap mengutuk Putri Maharani menjadi seorang nenek peyot. Putri Maharani tidak dapat berbuat apa-apa.






Ia hanya dapat menyesali dan menangis tersedu-sedu mendapat hukuman yang sangat tidak menyenangkan baginya. Wajahnya yang cantik jelita berubah menjadi penuh keriput. Rambutnya yang dulu hitam lebat semuanya berubah menjadi uban. Jalannya yang dulu tegak melambai, sekarang menjadi bungkuk.
“Betapa bodohnya aku, sampai-sampai aku seceroboh ini!” ia menyalahkan diri sendiri.
“Sudahlah, jangan menangis. Kamu pantas menerima hukuman itu. Kamu harus belajar bertanggung jawab atas semua perbuatanmu. Tinggallah di bumi dan berusahalah membantu memperbaiki ke- adaan di bumi,” titah sang Raja pada putrinya.
Putri Maharani merasa sedih sambil menangis, dia berkata, “Ampuni hamba, Ayahanda. Ampuni hamba,” Putri Maharani me- mohon ampunan ayahandanya.
“Kamu harus menebus kesalahanmu,” sambil menggerakkan ta- ngan Raja membaca mantra alih rupa, “Wes, wes, settt!”
Putri Maharani menjerit sekuat-kuatnya, “Aaaaaa, ampuni hamba, Ayahanda.”
Badan Putri Maharani dengan cepat berubah menjadi nenek peyot dan jatuh ke bumi di pinggir hutan belantara yang gelap gulita. Ia lalu berjalan menjauh dari hutan, mencari tempat yang lebih lapang. Setelah berjalan agak jauh, ia pun menemukan tempat. Tempat itu ternyata dekat dengan sungai. Sungguh tempat yang tepat untuk ditinggali. Ia tidak perlu jauh-jauh untuk mencari air. Akhirnya, ia memutuskan tinggal di situ.
Semenjak saat itu namanya diganti menjadi Mak Romlah. Aja- ibnya, saat Mak Romlah menangis air matanya menetes berkumpul menjadi satu dan berubah menjadi pisau bermata tajam. Mak Romlah terkejut.
“Ohh, mungkin pisau ini dapat membantuku bertahan hidup,” seru Mak Romlah. “Terima kasih, Ayah.”
Setidaknya sang Putri masih diberi kekuatan oleh sang Raja. Keajaiban yang terjadi semata-mata Raja berikan agar Putri mampu bertahan hidup mandiri di bumi. Bertahan hidup di dalam hutan dengan keadaan seperti itu bukanlah perkara yang mudah dijalankan oleh seorang putri. Malam itu Putri Maharani yang berubah menjadi Mak Romlah tidak dapat tidur. Ia waspada karena takut ada binatang buas yang mendatanginya, yang dapat menerkamnya jika ia tertidur. Pagi-pagi sekali Mak Romlah mengumpulkan kayu-kayu. Ia men- coba membangun sebuah gubuk kecil dari kayu-kayu yang telah dikumpulkannya tersebut.






“Pak, boleh saya bertanya?” agak berseru Mak Romlah memanggil tukang kayu yang sedang berjalan.
“Ada apa, Nek?” Tukang Kayu berhenti dan menjawab panggilan Mak Romlah. Jawaban tersebut mengagetkan Putri Maharani. Ia pun menengok ke kiri dan kanan, tidak ada siapa-siapa selain dirinya dan tukang kayu.
Si Tukang Kayu mengulangi pertanyaannya, “Nek, ada apa? Me- ngapa bingung?”
Pertanyaan tersebut membuat Putri Maharani tersadar bahwa kini ia adalah Mak Romlah, seorang nenek yang sudah peyot.
“Oh ya, saya ingin masuk ke dalam hutan. Kira-kira di hutan ba- nyak hewan buas atau tidak?” tanya Mak Romlah.
“Hutan di sini saya kira aman, Nek. Selama bertahun-tahun saya keluar masuk hutan tidak pernah bertemu dengan binatang buas. Yang sering saya jumpai ketika berada di dalam hutan hanya sekelompok monyet yang bergelantungan dan berlompatan dari satu pohon ke pohon yang lain,” jawab Tukang Kayu.
“Oh, seperti itu. Ya sudah, terima kasih,” sahut Mak Romlah.
“Nenek sepertinya orang baru di sini. Saya belum pernah bertemu Nenek,” si tukang kayu penasaran dengan Mak Romlah.
“Saya Mak Romlah, saya tinggal sebatang kara di dekat sungai,” jawab Mak Romlah memperkenalkan diri.
“Mak Romlah ada keperluan apa mau masuk ke hutan?” tanya Tukang Kayu.
“Hmmm, tidak apa-apa. Saya hanya ingin mencari kayu dan beberapa daun untuk membuat ramuan,” jawab Mak Romlah se- kenanya.
“Oh, begitu. Hati-hati ya, Mak. Segeralah berangkat sebelum hari mulai petang,” pesan tukang kayu.
Mak Romlah pun berjalan sendiri memasuki hutan itu. Di- dengarnya suara kicau burung dan raungan monyet hutan yang sedang mencari makan. Tidak lama kemudian ia melihat satu persatu monyet bergelantungan di batang pohon, melompat dari pohon satu ke pohon yang lain. Awalnya ia merasa takut, tetapi lama kelamaan ia justru terhibur melihat tingkah monyet-monyet yang sedang makan buah-buahan. Dilihatnya ada monyet yang sedang menggendong anaknya dan ada pula yang sedang bercanda dengan monyet lainnya. Mak Romlah tertawa dalam hati.






Makin jauh, makin dalam Mak Romlah berjalan memasuki hutan. Menelusuri pohon demi pohon, semak demi semak. Setelah merasa lelah, ia pun beristirahat. Mak Romlah beristirahat di bawah pohon besar dan daunnya rindang. Tidak terasa hari makin gelap. Malam pun tiba. Keesokan paginya, Mak Romlah bangun dan memulai lagi perjalanannya menelusuri hutan. Ketika Mak Romlah berjalan, ia melihat hamparan pohon bambu di dalam hutan.
Mak Romlah mengambil sepotong bambu, lalu dibelah menjadi beberapa bilah bambu. Bilah-bilah bambu tersebut dirautnya sampai halus, kemudian ia menganyamnya. Terbentuklah sebuah hihid. Hihid adalah sebuah kipas yang terbuat dari anyaman bambu. Mak Romlah membuat banyak hihid dari bambu-bambu tersebut hingga ia tertidur kelelahan.
Pagi berikutnya, Mak Romlah bermaksud menjual hihid-hihid tersebut ke penduduk desa.
“Hihid, hihid, siapa yang mau membeli hihid,” Mak Romlah menawarkan barang dagangannya. Ternyata, hihidnya laku keras, Mak Romlah tersenyum bahagia. Ia mendapatkan banyak uang sehingga ia dapat berbelanja lauk dan sayur di pasar. Selama ini ia hanya mengandalkan sayur-sayuran yang tumbuh di sekitar gubuknya.
Sementara itu, di puncak Gunung Bureng ada sebuah kerajaan bernama Kerajaan Bureng. Semua rakyatnya menderita kelaparan karena rajanya sudah meninggal dan terjadi perebutan tahta di Kerajaan Bureng. Pangeran Ruyung adalah Putera Mahkota Ke- rajaan Bureng. Akan tetapi, hidupnya selalu menderita. Ia ber- sembunyi karena takut akan dibunuh oleh sepupunya, yaitu putra dari pamannya. Sepupunya yang bernama Pangeran Bedul meng- inginkan tahta Kerajaan sehingga melakukan berbagai cara untuk menyingkirkan Pangeran Ruyung.
Pagi itu sangat cerah di dalam hutan sinar matahari masuk melalui celah-celah dedauanan, angin semilir menerpa tubuh Mak Romlah. Kupu-kupu terbang kian kemari, burung berkicau dengan riang. Menikmati kesejukan itu, Mak Romlah bersenandung sambil menganyam hihid. Hampir saja tangan Mak Romlah teriris bilah bambu yang tajam. Ia kaget mendengar suara seperti orang bertarung. Ia pun mencari sumber suara, “Hah!” Mak Romlah berseru kaget.
Ternyata benar, sedang terjadi perkelahian hebat antara dua orang pemuda bernama Pangeran Ruyung melawan Pangeran Bedul. Pangeran Bedul berteriak, “Ayo, Pangeran Ruyung. Lawan aku! Kamu tidak pantas menjadi Raja Bureng!”






Pangeran Bedul berhasil menemukan persembunyian Pangeran Ruyung, yang bersembunyi di sebuah gua di dalam hutan. Suara dentingan senjata yang beradu terdengar sangat keras. Perkelahian berlangsung sangat sengit. Keduanya memiliki kekuatan yang seimbang.
“Tang, tang, tang, jleeb!”
“Aaahhh!” Terdengar teriakan kesakitan, kemudian perkelahian pun terhenti.
Pangeran Bedul berhasil mengalahkan Pangeran Ruyung.
“Hahahaha, akhirnya aku berhasil mengalahkanmu. Sekarang akulah Raja Bureng. Hahahaha!” Pangeran Bedul tertawa dengan keras.
Sementara itu, Pangeran Ruyung terluka parah dengan memegang perutnya. Sambil berjalan terhuyung-huyung, ia berteriak minta tolong. “Tolooong! Tolong aku!” Mak Romlah menghampiri Pangeran Ruyung yang sedang kesakitan. Mak Romlah tertatih-tatih memapah Pangeran Ruyung ke gubuknya. Ia merawat luka-luka Pangeran Ruyung. Singkat cerita berkat pertolongan Mak Romlah, Pangeran Ruyung sembuh dan sehat kembali seperti sedia kala. Pangeran Ruyung berterima kasih kepada Mak Romlah. Atas pertolongan Mak Romlah, ia dapat sembuh. Jika tidak, besar kemungkinan ia sudah mati karena luka-lukanya sangat parah.
Perlahan dari tubuh Mak Romlah keluar cahaya yang sangat menyilaukan mata. Akhirnya, Mak Romlah berubah kembali menjadi putri cantik jelita. Pangeran Ruyung terkesima melihat perubahan yang terjadi.
“Oh, apa yang terjadi? Apakah aku bermimpi?”
“Tidak, Pangeran. Saya Maharani, Putri Negeri Atas Angin. Ka- rena kesalahanku dahulu, Ayahanda mengutukku menjadi nenek peyot,” jawab Putri Maharani.
Pangeran Ruyung terpesona dengan kecantikan Putri Maharani. Ia juga teringat kebaikan Putri Maharani alias Mak Romlah yang telah merawatnya. Meskipun tidak mengenalnya, Mak Romlah atau Putri Maharani mau merawatnya dengan sepenuh hati. Itu semua adalah kebaikan yang dilandasi oleh keikhlasan untuk berbuat baik. Pangeran Ruyung pun melamar Putri Maharani.
“Putri, maukah engkau menjadi istriku?”
Putri Maharani terkejut dengan lamaran itu. Namun, ia pun bersedia menerima pinangan itu.
“Baiklah, Pangeran. Saya bersedia menjadi istrimu.”






Akhirnya, Pangeran Ruyung dan Putri Maharani menikah. Mereka berdua tinggal di gubuk Putri Maharani yang sudah di- perbaiki dan diperluas. Mereka dikaruniai anak kembar putra dan putri yang diberi nama Andana dan Andini. Mereka mempunyai dua hewan piaraan, yaitu macan jantan dan macan betina.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun pun berganti. Suatu malam keluarga Putri Maharani duduk di balai bambu. Kedua orang tuanya duduk berdampingan, Andana duduk di sebelah kanan dan Andini duduk di sebelah kiri. Andana dan Andini pun sudah besar.
“Anakku, Kerajaan Bureng adalah milik Bapakmu. Sekarang ini dalam keadaan genting. Bantulah ayahmu merebut tahta Kerajaan! Andana, pergilah kamu ke sebelah barat lereng Gunung Bureng! Di dekat pohon kawung ada batu besar, hancurkan batu itu!” pesan Putri Maharani kepada Andana.
“Baik, Mak.”
“Andini, pergilah ke sebelah timur Gunung Bureng! Carilah se- bongkah batu besar dan singkirkan agar tidak menutupi lubang!” pesan Putri Maharani kepada Andini.
Sementara itu, kepada suaminya ia berpesan, “Bapak, bawalah pisau ini untuk membuat jalan ke lereng Gunung Bureng! Emak akan membawa hihid untuk membersihkan jalan itu.” Ia menjelaskan langkah-langkah yang harus ditempuh untuk merebut Kerajaan Bureng.
Seraya bangun dari tempat duduk, anaknya memberi hormat kepada kedua orang tuanya.
“Baiklah, Emak. Kami mohon doa restu agar tugas ini dapat ber- hasil.”
Keduanya berangkat dengan macan sebagai kendaraannya. An- dana berhasil menemukan batu besar yang dimaksud ibunya. Ia berusaha menghancurkan batu besar itu sesuai dengan pesan ibunya. Ia berhasil. Adapun Andini yang pergi ke arah timur berhasil menemukan batu besar yang menutupi lubang dan ia pun berhasil menyingkirkannya. Dari lubang itu keluarlah air yang mengalir sangat deras. Kejadian itu membuat Andini berlari sejauh mungkin menghindari air ke arah barat sehingga ia bertemu dengan Andana. Sementara itu, orang tuanya membuat jalan menuju puncak Gunung Bureng.






Selang beberapa bulan setelah persiapan matang, peperangan pun terjadi antara Pangeran Ruyung dan Raja Bedul. Keduanya sama- sama mengeluarkan jurus sakti, Pangeran Ruyung mengeluarkan jurus Mendem Bumi. Raja Bedul akhirnya dapat dikalahkan oleh Pangeran Ruyung. Raja Bedul jatuh menggelinding hanyut terbawa air sungai sebelah timur.
Pangeran Ruyung dinobatkan sebagai Raja Bureng dan Putri Maharani sebagai permaisuri. Putranya Andana sebagai putra mah- kota sedangkan Putri Andini membantu kakaknya untuk mengatur Kerajaan. Untuk mengenang jasa-jasanya nama Kerajaan Bureng diganti menjadi Maruyung. Maruyung berasal dari nama Putri Maharani dan Pangeran Ruyung. Letaknya berada paling tinggi dan di tengah-tengah antara dua sungai. Sungai di sebelah barat lereng Gunung Maruyung dinamakan Sungai Cikawung. Dinamakan de- mikian karena berasal dari sumber air di bawah pohon kawung. Sementara itu, sungai yang berada di sebelah timur diberi nama Sungai Cikendang, yang kemudian biasa dilafalkan Cikondang. Dinamakan Cikondang karena merupakan tempat hanyutnya Raja Bedul (kondang bahasa Jawa berarti ‘hanyut’). Kedua aliran sungai itu jika dibuat peta terlihat seperti gambar macan.
Suatu hari Raja Ruyung dan Permaisuri Maharani berkumpul di taman bersama putra putrinya, tiba-tiba dari atas langit turun seberkas cahaya putih ternyata adalah Raja Negeri Atas Angin. Permaisuri Maharani sangat gembira.
“Salam hormat, Ayahanda. Terima kasih Ayahanda sudi datang kemari. Berkat kutukan Ayahanda, Ananda menjadi tahu bahwa tekun belajar, teliti, rajin bekerja, dan tanggung jawab akan membuahkan kesuksesan,” sambut Putri Maharani atas kedatangan ayahandanya.
“Semua yang kau dapat adalah sebuah pembelajaran yang berharga untukmu, Anakku. Sebagai ayahmu aku selalu ingin kau menjadi Putri yang baik, yang kelak akan mewariskan sifat yang baik pula kepada anak-anakmu. Oleh karena itu, ayah memberimu pembelajaran hidup yang demikian dan kini kau pun telah belajar menghargai hidup, Anakku,” jawab sang Raja.
“Terima kasih, Ayahanda. Saya telah menjadi manusia yang Ayahanda anugerahi kekuatan serta beberapa keajaiban, yang membuat saya dapat bertahan menjalani hidup di bumi. Ayahanda, bolehkah saya minta sesuatu?” pinta Putri Maharani kepada Raja.
“Apa saja permintaanmu akan Ayahanda kabulkan,” jawab Raja kepada Putri Maharani.






“Izinkan saya tetap menjadi manusia, Ayah. Biarkan saya tetap berada di sini bersama suami dan anak-anak. Saya ingin memulai hidup baru yang lebih baik, saya ingin membangun keluarga yang bahagia bersama mereka,” Putri Maharani mengungkapkan ke- inginannya.
“Benar begitu keinginanmu, Putriku? Ayahanda akan sangat kehilanganmu. Kau telah lama meninggalkan Ayah dan kini kau ingin tetap tinggal di bumi bersama keluargamu.,” Raja merasa berat melepas Putri Maharani untuk selamanya.
“Karena saya tahu, suami dan anak-anak saya tidak akan dapat tinggal di kayangan. Jadi, izinkan saya dan keluarga saya hidup berbahagia di sini,” Putri Maharani memohon kepada ayahandanya.
“Baiklah, Ayah akan mengabulkan permintaanmu. Jika itu yang menjadi keinginanmu, aku akan menjadikanmu manusia. Namun, jika kau membutuhkanku panggillah aku. Walau bagaimanapun kau tetap putriku,” Raja pun mengabulkan permintaan sang Putri.
Sejak saat itu sang Putri tidak akan pernah dapat kembali ke kayangan. Kini Putri hidup bahagia bersama keluarganya di Kerajaan Maruyung. Keadaan rakyat mulai membaik dan makmur. Putri Maharani berhasil bebas dari kutukan dan berjanji akan membangun Kerajaan Maruyung dengan bijaksana.









Selesai
