

Kabupaten Cilacap
Kabupaten Cilacap



Cerita Rakyat
Cerita Rakyat

“Kadipaten Donan”
“Kadipaten Donan”
Dahulu, daerah Donan dikenal sebagai wilayah yang seba- gian besar berupa hutan belantara dan penuh dengan rawa. Daerah itu dikenal sebagai wilayah yang berbahaya
karena masih banyak binatang buas yang berkeliaran secara bebas. Pada akhir abad XIV mulailah berdatangan beberapa kelompok masyarakat yang menetap di sana. Salah satu kelompok masyarakat itu adalah rombongan dari Banyumas yang dipimpin oleh Raden Ranggasengara dan Adipati Mrapat, menantu Adipati Wirasaba.

Raden Ranggasengara akhirnya menetap di daerah Donan. Raden Ranggasengara dinobatkan menjadi Adipati Donan dan selanjutnya memimpin rakyat di tempat itu. Beliau berhasil mengubah daerah tersebut menjadi daerah yang ramai. Di bawah kepemimpinannya, daerah Donan berangsur-angsur berubah menjadi daerah yang makmur. Penduduknya hidup bahagia dan merasa aman. Akan tetapi, rasa aman dan tenteram tidak begitu lama dirasakan oleh masyarakat Kadipaten Donan. Pada saat itu, di daerah sekitar Donan diganggu oleh seekor burung raksasa yang disebut dengan manuk beri. Konon, burung itu sering memangsa manusia maupun binatang piaraan masyarakat. Walaupun Adipati Donan telah mengerahkan segala kemampuannya, termasuk mengerahkan seluruh rakyatnya, burung itu tidak berhasil ditangkap atau dimusnahkan.
Pada suatu hari, di dalam mimpinya, Adipati Donan diberi pe- tunjuk bahwa senjata yang paling ampuh untuk membunuh manuk beri itu adalah sebuah pusaka berbentuk cis (tombak) yang bernama Kiai Tilam Upih. Untuk itu, Adipati Donan segera mencari pusaka yang disebutkan dalam mimpinya itu. Ia mendengar kabar bahwa yang memiliki senjata cis itu adalah Sultan Demak. Oleh karena itu, ia pun segera pergi ke Demak untuk meminjamnya. Upaya itu tidak sia- sia, Sultan Demak berkenan meminjamkan pusaka miliknya kepada Adipati Donan.
“Jika memang itu demi ketenteraman rakyat Donan, aku tidak keberatan meminjamkan Cis Kiai Tilam Upih.”
“Terima kasih, Kanjeng Sultan. Kami beserta seluruh rakyat Do- nan berutang kebaikan pada Kanjeng Sultan.”
“Bawalah, semoga berguna untuk melawan manuk beri itu dan rakyat Donan kembali tenteram.”
Meskipun telah mempunyai Cis Kiai Tilam Upih, Adipati Donan belum berhasil mengalahkan manuk beri. Akhirnya, ia menyeleng- garakan semacam sayembara untuk melenyapkan burung peng- ganggu tersebut. Isi sayembaranya adalah siapa yang dapat mem- bunuh manuk beri akan diangkat sebagai menantu. Rupanya, sa- yembara itu menarik para adipati di daerah lain. Mereka berlomba- lomba untuk membinasakan manuk beri itu. Namun, tidak ada se- orang pun yang berhasil, bahkan satu per satu mengundurkan diri karena cedera.
Pada suatu hari, ketika Adipati Donan sedang duduk merenungkan nasib buruk yang dialami penduduk Kadipaten Donan, ada seorang pemuda tampan dan halus perangainya menghadap kepadanya.
“Salam bagi junjungan hamba, Kanjeng Adipati. Sembah hamba semoga tak menggangu ketenteraman Kanjeng Adipati,” salam sem- bah sang pemuda.






“Selamat datang, anak muda. Tutur sapamu yang halus dan santun membuat hatiku tambah tenteram. Siapakah sebenarnya dirimu dan apa maksud kedatanganmu ke sini?”
Ampun, Kanjeng Adipati, nama hamba Bagus Santri dari Lim- bangan. Karena asal hamba udik atau dusun yang terpencil, banyak orang yang memanggil hamba Santri Udik. Maksud hamba datang kemari ingin mengabdikan diri di Kadipaten Donan. Hamba mohon Kanjeng Adipati berkenan menerima pengabdian hamba.”
“Sungguh suatu kehormatan bagiku ada anak muda yang santun sepertimu mengabdi di Kabipaten Donan. Tetapi, ada syaratnya. Apakah kamu sudah siap memenuhi syarat yang kuajukan?”
Belum selesai Adipati Donan berbicara, Bagus Santri menyela, “Ampun, Kanjeng Adipati, apa pun syaratnya, jika hamba mampu akan hamba lakukan, tetapi jika hamba tidak mampu, ampunilah hamba, izinkanlah hamba pulang ke dusun hamba di Limbangan.”
“Ya, syaratnya memang agak berat. Namun, jika merasa tidak mampu, kamu boleh membatalkannya dan tidak ada hukuman ba- gimu.”
“Baiklah, Kanjeng, apa yang harus hamba lakukan?”
“Perlu kamu ketahui, saat ini Kadipaten Donan sedang mengalami musibah dengan adanya gangguan seekor burung raksasa. Kamu harus dapat membinasakan burung raksasa yang selalu mengganggu penduduk Kadipaten Donan. Jika berhasil, kamu akan kuhadiahi putriku. Kamu akan kuangkat menjadi menantuku.”
Bagi Bagus Santri syarat itu cukup berat, tetapi ia menyanggupinya karena itu suatu jalan untuk mendapatkan kembali pusaka Cis Kiai Tilam Upih yang telah lama dicarinya.
“Baiklah, Kanjeng Adipati. Syarat yang Kanjeng berikan ini me- mang tidak mudah bagi hamba. Tetapi, hamba pantang mundur sebelum mencobanya. Oleh karena itu, hamba mohon restu dan mohon izin untuk tinggal di wilayah Kadipaten Donan.”
“Doaku menyertaimu, Bagus Santri. Dari tutur katamu aku melihat seorang pemuda yang kesatria. Sekali lagi, jika berhasil membunuh burung raksasa itu, selain kuterima sebagai abdi Kadipaten, kamu juga akan kuangkat sebagai menantuku. Aku akan menyerahkan pu- triku sebagai istrimu,” begitulah Adipati Donan bernazar.






Beberapa saat tinggal di wilayah Donan, sedikit demi sedikit Ba- gus Santri mulai mengenal daerah tersebut. Sebelum membunuh burung raksasa itu, Bagus Santri mengajukan beberapa permintaan kepada Adipati Donan.
“Kanjeng Adipati, sebelum hamba melaksanakan tugas, perke- nankan hamba mengajukan beberapa permintaan.”
“Apa permintaanmu, Bagus Santri? Jika aku dapat memberikan pasti akan kuberikan.”
“Ampun, Kanjeng. Yang pertama hamba minta dibuatkan pondok bertiang setinggi manusia. Kedua, hamba minta disediakan kain putih selebar hasta. Dan, ketiga atau yang terakhir, hamba mohon diizinkan meminjam pusaka Cis Kiai Tilam Upih.”
Permintaan Bagus Santri yang pertama dan kedua bukan masalah bagi Adipati Donan. Akan tetapi, permintaan yang terakhir sangat mengejutkan Adipati, yaitu meminjam pusaka Cis Kiai Tilam Upih. Setelah berpikir sejenak, akhirnya Adipati Donan mengabulkan se- mua permintaan itu.
“Baiklah, kalau semua itu memang kamu perlukan demi ke- tenteraman rakyat Donan, permintaanmu kukabulkan.”
“Terima kasih, Kanjeng.”
Setelah permintaannya terkabul, Bagus Santri mulai mengadakan persiapan seperlunya. Ia lalu membungkus seluruh tubuhnya dengan kain putih. Perbuatan itu dilakukan agar burung raksasa itu tertarik melihat umpan gumpalan putih bagaikan seekor sapi.
Apa yang dilakukan Bagus Santri ternyata tepat sekali. Demi me- lihat gumpalan putih, yang tidak lain adalah badan Bagus Santri yang terbungkus kain putih, burung raksasa yang sedang bertengger di sebuah pohon itu langsung terbang mendekati. Dikepakkannya sayap yang kokoh itu melesat ke udara. Sambil matanya terus mengintai Bagus Santri, burung itu terbang berputar-putar di angkasa. Beberapa saat kemudian, burung itu mencengkeramkan kakinya dan meluncur menukik ke arah Bagus Santri.
Dengan penuh waspada Bagus Santri terus memerhatikan burung raksasa itu. Matanya seakan tidak berkedip. Pandangannya selalu tertuju pada setiap gerak burung itu. Tangan kanannya memegang erat Cis Kiai Tilam Upih. Ketika melihat burung itu meluncur ke arahnya, ia bersiap-siap dan secepat kilat ia melompat ke bawah bangunan bertiang yang sudah dipersiapkan. Dan, “brakkk” burung raksasa itu menabrak bangunan. Seketika itu juga Bagus Santri menghunuskan cis ke tubuh burung itu.






Singkat cerita, dengan kesigapan Bagus Santri dan tusukan pusaka Cis Kiai Tilam Upih, burung raksasa itu dapat dibinasakan. Bangkai burung itu jatuh di dekat aliran Bengawan Donan.
Dengan terbunuhnya burung raksasa pengganggu tersebut, pen- duduk Kadipaten Donan bersuka ria. Mereka berpesta pora selama beberapa hari untuk melampiaskan kebahagiaannya. Di tengah pesta itu, Adipati Donan memenuhi janjinya. Ia menyerahkan putrinya untuk diperistri Bagus Santri yang telah memenangi sayembara. Bagus Santri menerima hadiah itu dengan penuh suka cita. Betapa tidak, hadiahnya seorang putri.
Setelah beberapa lama tinggal di Kadipaten Donan, Bagus Santri mohon diri untuk kembali ke Limbangan.
“Kanjeng Adipati, ampun beribu ampun. Bukan hamba tidak tahu berterima kasih, tetapi rasa rindu hamba terhadap Limbangan tak mampu lagi hamba bendung. Perkenankanlah hamba pulang ke Limbangan.”
“Berat rasanya aku harus melepaskanmu, tetapi, kerinduanmu terhadap kampung halaman tak mungkin kuhalangi. Pergilah, tetapi jangan lupa, kedatanganmu kembali ke sini sangat dinantikan.”
“Terima kasih, Kanjeng. Hamba akan menjunjung keinginan Kanjeng Adipati.”
Bagus Santri kemudian meninggalkan Kadipaten Donan dengan penuh kebahagiaan. Ia membawa serta Putri Donan dan pusaka Cis Kiai Tilam Upih yang lupa diminta lagi oleh Adipati Donan.
Pada suatu hari, Adipati Donan teringat akan pusaka Cis Kiai Tilam Upih yang dipinjamkannya kepada Bagus Santri dan belum dikembalikan. Diutuslah beberapa penggawa Kadipaten Donan un- tuk mencari Bagus Santri. Namun, mereka tidak juga memperoleh hasil, tidak seorang pun di antara mereka yang menemukan Bagus Santri. Akhirnya, sang Adipati berkehendak mencarinya sendiri. Ia berangkat menuju ke arah barat, sesuai dengan arah yang diusulkan oleh seseorang yang mengaku pernah melihat Bagus Santri.
Perjalanan sang Adipati semakin hari semakin jauh dan sam- pailah di suatu daerah di seberang Sungai Citandui. Karena sudah menempuh perjalanan yang cukup jauh dan tidak menemukan orang yang dicarinya, Adipati Donan memutuskan untuk beristirahat di sebuah perbukitan dan hidup “mbegawan” atau sebagai pertapa di tempat itu dengan sebutan Begawan Tanjung Manik. Daerah itu pun kemudian disebut dengan Begawan Tunjung Manik. Sampai sekarang tempat tersebut dianggap sebagai tempat yang keramat.






Sementara itu, istri sang Adipati tidak sabar lagi menunggu su- aminya yang tidak kunjung datang. Ia lalu menyusul pergi ke arah barat dan sampailah di sebelah barat Sungai Citandui. Karena me- nempuh perjalanan yang jauh dan tidak menentu, akhirnya istri Adipati Donan wafat dan dimakamkan di Trenggilis. Kini Trenggilis terletak di daerah Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Ciamis.
Akhir cerita, sepeninggal Adipati Donan dan istrinya, sedikit demi sedikit Kadipaten Donan menjadi daerah yang sepi. Daerah itu kemudian menjadi hutan kembali dan hanya tinggal sekelompok orang yang masih bertahan hidup di tempat itu.









selesai
