

Kabupaten Cilacap
Kabupaten Cilacap



Cerita Rakyat
Cerita Rakyat

“Kerajaan Nusatembini”
“Kerajaan Nusatembini”
Zaman dahulu, daerah pesisir selatan, di dekat Nusakambangan, masih berupa hutan belantara yang lebat dan penuh rawa. Di tempat itu masih terdapat banyak binatang buas yang bebas
berkeliaran. Di wilayah itu berdirilah sebuah kerajaan siluman yang disebut dengan Kerajaan Nusatembini. Kerajaan ini mempunyai wilayah yang sangat luas, membujur dari timur ke barat. Kerajaan yang menghadap ke Pulau Nusakambangan ini dikelilingi oleh baloewanti pring ori pitung sap ‘rumpun bambu ori lapis tujuh’. Kelebatan lapisan bambu itu menjadikan kerajaan tersebut sulit ditembus sehingga musuh tidak dapat masuk ke Kerajaan.

Kerajaan Nusatembini diperintah oleh seorang putri yang sangat disegani sekaligus dicintai oleh rakyatnya. Ia adalah wanita yang sangat cantik jelita. Masyarakat menyebutnya Raja Putri Brantarara atau Ratu Brantarara. Kecantikannya yang luar biasa itu membuat para raja negara lain berebut untuk meminang dan memeristrinya. Namun, keinginan para raja itu selalu kandas karena kesulitan mencapai tempat tinggal putri itu. Selain cantik jelita, Ratu Brantarara mempunyai kesaktian yang luar biasa. Ia juga memiliki seekor kuda sembrani yang mampu terbang.
Pada suatu hari, Kerajaan Balus Pakuan Pajajaran, yaitu kerajaan yang terletak di sebelah barat Nusatembini, diserang wabah penyakit yang mematikan. Wabah ini menyerang warganya dengan begitu cepatnya. Pagi hari terjangkit siang atau sore harinya orang yang terjangkit itu pasti meninggal dunia. Kondisi ini sangat memrihatinkan bagi sang Raja, Prabu Permana Dikusuma. Kesedihannya semakin mendalam karena putrinya juga terkena wabah penyakit itu. Dengan berbagai cara Raja telah berusaha mencari obat untuk putri yang dicintainya, tetapi hasilnya sia-sia.
Pada suatu hari ada seorang biksu atau pendeta dari Gunung Burangrang menghadap sang Raja.
“Sembah hamba, Prabu,” sapa sang pendeta kepada Prabu Per- mana Dikusuma.
“Terima kasih, Ki Sanak. Kedamaian dan kesejahteraan semoga menyertai setiap langkah Ki Sanak. Tampaknya ada sesuatu yang penting yang ingin Ki Sanak sampaikan?” jawab Prabu Permana Dikusuma ramah.
“Benar, Prabu. Salah mohon diampuni. Kedatangan hamba ke- mari berhubungan dengan penyakit yang diderita putri Paduka beserta para rakyat Balus Pakuan Pajajaran.”
“Kebetulan sekali, apakah Ki Sanak punya obatnya?” sela Prabu Permana Dikusuma mulai tidak sabar.






sabar.
“Ampun, Prabu, hamba tidak memiliki obatnya.”
“Lalu...?”
“Hamba baru saja mendapat wisik atau ilham bahwa penyakit yang diderita oleh putri raja akan sembuh jika diobati dengan air mata kuda sembrani.”
“Air mata kuda sembrani?” ucap Prabu Permana Dikusuma agak kebingungan.
“Benar, Prabu,” jawab sang pendeta.
“Lalu, ke mana saya harus mencari air mata kuda sembrani itu?”
“Berdasarkan wisik yang hamba terima, obat itu hanya dapat diperoleh di bagian timur Kerajaan Balus Pakuan Pajajaran. Di arah timur Kerajaan Balus Pakuan Pajajaran terdapat sebuah kerajaan yang disebut Nusatembini. Di situlah obat itu dapat diperoleh. Akan tetapi, untuk mendapatkannya tidaklah mudah, karena wilayah Kerajaan Nusatembini sangat wingit, angker, dan lebat hutannya. Oleh karena itu, hendaknya Paduka mengutus seorang abdi dalem untuk mencari obat itu,” tutur sang pendeta.
Mendengar nasihat pendeta itu, sang Raja Pajajaran diam dan berpikir sejenak. Ia tampak bingung. Lalu, tidak lama kemudian ia menghela napas dan tersenyum.
“Terima kasih, Ki Sanak. Rasanya memang berat untuk men- dapatkan air mata kuda sembrani itu. Tetapi, saya harus mendapat- kannya demi anak dan rakyatku.”
“Benar, Prabu. Kalau begitu hamba mohon diri melanjutkan perjalanan hamba,” pendeta itu mohon diri meninggalkan sang Prabu.
“Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih, Ki Sanak. Semoga perjalanan Ki Sanak selalu dalam lindungan-Nya.”
Pendeta itu kemudian pergi meninggalkan Prabu Permana Di- kusuma dan Kerajaan Balus Pakuan. Ia melangkah dan terus me- langkah ke arah matahari terbit. Sementara itu, sepeninggal sang pendeta, Prabu Permana Dikusuma memanggil patih dan bebe- rapa orang adipati. Ia memutuskan untuk mengutus Patih Harya Tilandanu beserta dua orang adipati, yaitu Adipati Sendang dan Adipati Gobog, serta beberapa prajurit untuk segera menuju ke Kerajaan Nusatembini.






Patih Harya Tilandanu dan engkau Adipati Sendang dan Adipati Gobog.”
“Hamba, Sang Prabu,” jawab ketiganya hampir bersamaan.
“Kalian tahu mengapa aku memanggil kalian?”
“Ampun, Prabu. Adakah tugas yang harus hamba laksanakan?” jawab sang patih.
“Ya, aku baru saja menerima tamu, seorang pendeta dari Gu- nung Burangrang. Ia memberi tahu tentang obat yang dapat me- nyembuhkan penyakit anakku dan rakyat Balus Pakuan yang sedang sakit. Obat itu berupa air mata kuda sembrani.”
Air mata kuda sembrani?” ucap yang hadir pada pertemuan itu serentak.
“Aku minta bantuan kalian untuk mencari obat itu.”
“Ke mana kami harus mencarinya, Prabu?” tanya sang patih.
“Menurut perkataan pendeta tadi, air mata kuda sembrani itu dapat diperoleh di Kerajaan Nusatembini yang letaknya di sebelah timur kerajaan kita. Untuk itu, Ki Patih dan kau Adipati berdua, ajaklah beberapa prajurit untuk mencari obat itu. Bawalah perbekalan dan peralatan yang cukup.”
“Baiklah, Prabu. Kami siap melaksanakan. Kami mohon restu,” sembah sang patih seraya beranjak meninggalkan pertemuan itu.
Perjalanan utusan Kerajaan Balus Pakuan Pajajaran ke Nusa- tembini ternyata memang tidak mudah. Mereka harus melewati hutan belantara, rawa-rawa yang luas, serta tempat-tempat yang wingit. Namun, tekad para utusan itu tidak pernah surut demi mencari obat bagi rakyat Balus Pakuan Pajajaran dan putri raja. Ketika rombongan utusan itu sampai di Nusatembini, mereka melihat adanya kekuatan yang begitu kukuh melindungi kerajaan tersebut. Mereka berusaha memasuki kerajaan itu dengan berbagai jalan, namun usaha itu tidak berhasil juga.
“Bagaimana, Ki Patih? Kita sudah mencoba segala cara, tetapi tetap saja kita tidak dapat menembus benteng bambu ini,” tanya Adipati Sendang kepada Patih Harya Tilandanu.
“Yah, memang. Kita sudah berusaha, tetapi tetap gagal,” jawab Patih Tilandanu.






“Kita tidak boleh menyerah. Kita tetap harus selalu berusaha, apa pun risikonya,” sahut Adipati Gobog.
“Benar katamu, Ki Gobog. Kita harus bersabar. Sebaiknya kita mencari tempat untuk beristirahat dulu sambil berpikir mencari akal,” jawab Ki Patih.
Mereka bertiga lalu mengajak para prajurit mencari tempat istirahat yang aman. Setelah menemukan tempat yang aman, Adipati Gobog, Adipati Sendang, dan Patih Harya Tilandanu bersemadi agar memperoleh petunjuk untuk memasuki wilayah Nusatembini. Dalam semadinya, mereka mendapat petunjuk gaib yang merupakan ilham atau wisik. Wisik itu menunjukkan bahwa benteng bambu yang mengelilingi Kerajaan Nusatembini akan dapat dihancurkan dengan menggunakan peluru-peluru emas. Yang dimaksudkan dengan pe- luru emas adalah penyebaran uang emas kepada rakyat.
Setelah mendapat wisik tersebut, utusan Kerajaan Balus Pakuan Pajajaran itu lalu memilih tempat untuk mengerjakan dan membuat peluru-peluru emas sebagai alat penghancur benteng yang letaknya tidak jauh dari Kerajaan Nusatembini. Mereka menumpang di suatu tempat (andon) serta melakukan persiapan terakhir. Tempat mereka menumpang dan melakukan persiapan tersebut kemudian disebut dengan Donan.
Pada hari yang telah ditentukan, berangkatlah rombongan prajurit Balus Pakuan Pajajaran untuk melakukan penyerangan ke Kerajaan Nusatembini dengan membawa peluru-peluru emas. Serangan de- ngan peluru emas ini rupanya membawa hasil. Para kawula Nu- satembini sangat heran melihat benda-benda yang berkilauan di sela- sela rumpun bambu. Mereka tertarik untuk mencari benda-benda itu dengan menebangi rumpun bambu. Hal itu seakan membuat jalan masuk menuju Kerajaan Nusatembini.
Pada saat itu, di Kerajaan Nusatembini, Ratu Brantarara dan para pejabat tinggi Kerajaan sedang bermusyawarah dalam Pasowanan Agung. Tiba-tiba ada prajurit mata-mata yang datang tergopoh- gopoh.
“Sembah hamba, Ratu,” ucap mata-mata itu tersengal-sengal. “Ada apa, Ki?” tanya Ratu Brantarara terkejut.
“Anu, Ratu, bala tentara Pajajaran menyerang negeri kita. Mereka
sudah berhasil memasuki Kerajaan.”






Mendengar kabar bahwa musuh dari Pajajaran memasuki
Kerajaan, Ratu Brantarara segera menaiki kuda sembraninya untuk menghadapi prajurit Balus Pakuan Pajajaran itu. Namun, prajurit Nusatembini terdesak dan dapat dikalahkan. Prajurit Balus Pakuan Pajajaran berhasil masuk ke istana. Melihat keadaan itu, Ratu Brantarara lari meloloskan diri bersama kuda sembraninya.
Sesampai di dalam Kerajaan, Patih Harya Tilandanu melihat sosok seorang wanita yang sangat cantik jelita. Melihat wanita itu, sang patih ingin sekali mengejar dan menangkapnya. Namun, sebelum keinginan itu tercapai, wanita itu telah lenyap dan berubah menjadi sebuah golek kencana atau boneka emas yang berkilauan. Pancaran kilau boneka itu menyebabkan mata sang Patih silau dan menjadi buta.
Kebutaan sang Patih itu menggagalkan usaha utusan dari Balus Pakuan Pajajaran untuk mendapatkan air mata kuda sembrani. Mereka menjadi kebingungan. Akan kembali ke Pajajaran takut karena pasti akan mendapat hukuman yang berat. Oleh karena itu, mereka kemudian menetap di daerah Nusatembini. Di tempat itu pulalah Patih Harya Tilandanu dan para pengikutnya akhirnya me- ninggal dunia. Patih Harya Tilandanu dikuburkan di Gunung Batur (Gunung Batur terletak di Desa Slarang, Kecamatan Kesugihan). Para pengikutnya dikuburkan di sebuah tempat yang disebut makam Adipati Gobog (terletak di selatan Jalan Jenderal Sudirman, tidak jauh dari Pasar Sleko), sedangkan Adipati Sendang dikuburkan di Prenca, Desa Donan.
Sementara itu, di Kerajaan Balus Pakuan Pajajaran, Raja sudah begitu lama menantikan kedatangan utusannya. Namun, yang ditunggu tidak juga muncul. Ia tidak sabar lagi. Ia kemudian meng- utus Adipati Pusar ke Kerajaan Nusatembini. Utusan kedua itu pun tidak berhasil mendapatkan air mata kuda sembrani. Bahkan, ia juga meninggal dan dikuburkan di makam Adipati Denggung. Akhirnya, Raja Balus Pakuan Pajajaran hanya dapat menunggu dan terus me- nunggu utusannya, tanpa ada yang kembali.
Konon, menurut cerita, Kerajaan Nusatembini terletak di kom- pleks Pelabuhan Cilacap, di tepi sebelah timur Bengawan Donan, tidak jauh dari Dermaga Pertamina dan Dermaga Tambatan 1 Pe- labuhan Cilacap. Berdasarkan kepercayaan masyarakat, tempat ter- sebut sangat wingit atau angker (menyeramkan) karena tempat itulah bekas Kerajaan Nusatembini. Tempat itu oleh masyarakat disebut dengan “Dermaga Buntung”.









Selesai
