Sketchy Monochromatic Single Cloud
Wijaya Kusuma Flower Night Queen
Sketchy Monochromatic Single Cloud
Cilacap Regency in Central Java Recolorable Map Icon

Kabupaten Cilacap

Kabupaten Cilacap

Elegant Metallic Leaves Outline
Elegant Metallic Leaves Outline
Sketchy Monochromatic Single Cloud
Sketchy Monochromatic Single Cloud
Sketchy Monochromatic Single Small Cloud
Sketchy Monochromatic Single Cloud
Bevel Corner Wireframe Input Form

Cerita Rakyat

Cerita Rakyat

Sketchy Monochromatic Single Cloud

“Ki Lonco Bangsawan dari Keraton Surakarta ​Hadiningrat”

“Ki Lonco Bangsawan dari Keraton Surakarta ​Hadiningrat”

Alkisah, tersebutlah sebuah nama Surya Kusuma. Ia seorang bangsawan dari Keraton Surakarta Hadiningrat. ​Sebagai seorang bangsawan, ia banyak mendapatkan ilmu dari guru- guru yang mengajarnya. Hal itulah yang ​membuat Surya Kusuma memiliki suatu kelebihan. Kelebihan yang ia miliki tidak ia dapatkan dengan mudah. Ia giat ​berlatih setiap hari.

Pada masa penjajahan, Keraton Surakarta Hadiningrat dikuasai Belanda. Suasana yang demikian membuat Surya ​Kusuma tidak nyaman. Penjajah ikut campur tangan dalam kepemimpinan keraton. Huru-hara pun tidak dapat ​dihindarkan. Merasa tidak nyaman dengan keadaan ini, ia memutuskan untuk mengembara meninggalkan keraton. ​Belum ada tempat tujuan yang ia putuskan. Ia pun berjalan sesuai dengan kehendak hatinya. Kaki pun tak terarah ​dalam berpijak. Satu hal yang ia pikirkan, ia ingin menghindar dari para penjajah yang kejam itu.

Sketchy Monochromatic Single Cloud
Sketchy Monochromatic Single Cloud
Sketchy Monochromatic Single Cloud

Selama perjalanan, ia singgah di beberapa tempat untuk ber- istirahat. Awalnya ia berjalan ke arah barat, lalu singgah di Kebumen. Kembali lagi ke arah timur, hingga singgah di Magelang. Akhirnya, ia melanjutkan lagi perjalanan ke arah barat, hingga menetap di Kadipaten Cilacap, tepatnya di Desa Prenca.

Ia mengerjakan apa pun yang dapat ia kerjakan. Identitas sebagai bangsawan ia tanggalkan karena ingin membaur dengan masyarakat. Ia tidak ingin mengistimewakan dirinya. Ia ingin menjadi rakyat biasa. Meskipun demikian, ia tidak meninggalkan latihan-latihan yang biasa ia lakukan di keraton. Ia menyadari akan pentingnya terus belajar meningkatkan kemampuan diri. Kemampuan yang ia miliki akan hilang apabila tidak diasah secara rutin. Latihan ia lakukan secara sembunyi-sembunyi agar masyarakat tidak mengetahui iden- titasnya yang sebenarnya. Langkah ini pun cukup berjalan dengan baik. Masyarakat tidak mengetahui siapa ia sebenarnya.

Pada saat itu Kadipaten Cilacap diperintah oleh Adipati Gatot Subroto. Beliau mempunyai seorang permaisuri putri Keraton Su- rakarta Hadiningrat. Permaisuri itu cantik jelita. Tidak hanya baik dari luar, hati permaisuri itu pun sangat bening sehingga ia menjadi sosok istri yang luar biasa yang senantiasa mendampingi Adipati. Sang Adipati pun dapat menjalankan tugasnya dalam memimpin Cilacap dengan baik atas dukungan istrinya.

Adipati Gatot Subroto seorang adipati yang arif bijaksana se- hingga disegani oleh rakyatnya. Rakyat hidup sejahtera di bawah kepemimpinannya. Adipati memiliki kegemaran memelihara bina- tang. Salah satu binatang peliharaan adipati ialah kuda. Ia memiliki banyak kuda peliharaan hingga kesulitan dalam mengurusnya. Ia merasa membutuhkan orang untuk membantu mengurus kuda- kudanya.

Suatu hari Adipati Gatot Subroto memanggil penggawanya. Ia menyuruh penggawanya untuk mencari seorang pekatik (pengurus kuda) kadipaten. Adipati Gatot Subroto berkata kepada penggawanya.

“Pengawal, aku perintahkan carilah seorang pekatik untuk meng- urus kudaku!”

“Baik, akan hamba laksanakan,” jawab pengawal itu.

Pergilah pengawal kadipaten itu mencari seorang pekatik. Desa demi desa ia telusuri. Sang pengawal pun belum dapat menemukan orang yang mau menjadi pekatik. Perjalanan pun mereka lanjutkan untuk mencari pekatik. Sampailah pengawal itu di Desa Prenca, tempat Pangeran Surya Kusuma tinggal. Kemudian, pengawal kadipaten itu berkata.

Elegant Metallic Leaves Outline
Elegant Metallic Leaves Outline
Sketchy Monochromatic Single Small Cloud
Sketchy Monochromatic Single Cloud
Sketchy Monochromatic Single Cloud
Sketchy Monochromatic Single Cloud
Sketchy Monochromatic Single Cloud
Sketchy Monochromatic Single Cloud

“Maaf, Ki Sanak! Bolehkah aku singgah di tempatmu?”

“Silakan, jika sudi tinggal di gubukku yang sangat sederhana ini,” jawab Pangeran Surya Kusuma.

Mereka berbincang-bincang di gubuk Pangeran Surya Kusuma. Perbincangan santai mereka lalui sambil menikmati teh dan singkong rebus.

“Kalau boleh tahu siapa namamu, Ki Sanak?” tanya pengawal kadipaten.

“Nama hamba Ki Lonco,”

Pangeran Surya Kusuma menyamar mengaku bernama Ki Lonco. Beliau ingin identitas yang selama ini ia sembunyikan tersimpan dengan baik, tidak diketahui orang lain. Ki Lonco menanyakan apa maksud pengawal kadipaten datang ke Desa Prenca.

“Apa maksud kedatangan Ki Sanak pengawal Kadipaten datang ke desa ini?” “Ki Lonco, saya diutus Adipati Cilacap untuk mencari seorang pekatik. Dapatkah Ki Lonco membantu saya?” jawab pengawal ka- dipaten.

“Hamba siap menjadi pekatik kadipaten, jika Adipati Gatot Su- broto berkenan.”

“Baiklah, Ki Lonco. Saya akan menghadapkanmu pada Adipati Gatot Subroto!”

Pengawal kadipaten membawa Ki Lonco ke kadipaten menghadap Adipati Gatot Subroto. Adipati menerima kedatangan Ki Lonco dengan senang hati. Kesediaan Ki Lonco untuk menjadi pekatik langsung diterima oleh Adipati Gatot Subroto. Semenjak itu Ki Lonco bekerja sebagai pekatik Kadipaten Cilacap.

Ki Lonco seorang pekatik yang ulet dan rajin sehingga sangat disayang oleh Adipati Gatot. Keahlian dalam mengurus kuda ia miliki karena dahulu ia juga memiliki kuda di keraton. Adipati Gatot sangat percaya pada Ki Lonco. Ke mana Adipati pergi pasti Ki Lonco diajak untuk menjadi kusir kadipaten. Sebagai pekatik kepercayaan yang sering diajak oleh Adipati, Ki Lonco sering muncul di kadipaten. Permaisuri pun akhirnya bertemu dengan Ki Lonco. Saat melihat Ki Lonco, permaisuri Adipati Gatot Subroto merasa pernah mengenal Ki Lonco. Permaisuri itu kemudian secara diam-diam menyelidiki siapa sebenarnya Ki Lonco itu. Permaisuri mengikuti Ki Lonco. Pada saat Ki Lonco sedang mandi di sendang, tanpa sengaja permaisuri melihat tanda di punggung Ki Lonco. Tanda itu bukanlah sekadar tanda. Tanda itu merupakan sebuah penanda keturunan bangsawan dari Keraton Surakarta Hadiningrat. Tanda itu hanya diketahui oleh kalangan keraton. Hanya keturunan bangsawan keratonlah yang berhak memiliki tanda seperti itu. Ia merasa yakin bahwa Ki Lonco memiliki hubungan dengan Keraton Surakarta.

Elegant Metallic Leaves Outline
Elegant Metallic Leaves Outline
Sketchy Monochromatic Single Small Cloud
Sketchy Monochromatic Single Cloud
Sketchy Monochromatic Single Cloud
Sketchy Monochromatic Single Cloud
Sketchy Monochromatic Single Cloud
Sketchy Monochromatic Single Cloud

Setelah selesai mandi, Ki Lonco dipanggil untuk menghadap permaisuri Adipati Gatot. Dengan perasaan takut Ki ​Lonco meng- hadap permaisuri. Ia khawatir identitasnya yang sesungguhnya ter- bongkar. Ia ragu untuk ​menghadap Permaisuri, namun ia pun tidak dapat menghindar. Akhirnya, ia memberanikan diri menghadap ​Permaisuri dengan berat hati. Ki Lonco melangkah dengan perlahan menuju ruangan pertemuan.

“Hamba, Tuan Putri. Ada apa gerangan Tuan Putri memanggil Hamba?”

“Ki Lonco, siapakah sebenarnya Ki Lonco itu? Sepertinya saya pernah melihatmu dan tak asing denganmu. Coba ​ceritakan identitas dirimu yang sebenarnya,” pertanyaan Permaisuri meluncur bagaikan teror.

Seketika itu Ki Lonco menundukkan kepalanya. Detak jantung- nya berirama semakin cepat. Keringat mengalir ke ​seluruh tubuhnya hingga dirinya terasa panas, meskipun saat itu hujan menyapa. Mendung pun bergayut di ​hatinya. Lidah terasa kaku dan mulut terkunci. Dengan tergagap Ki Lonco paksakan diri untuk tetap menutupi.

“Apa maksud, Tuan Putri?”

“Ki Lonco, kamu jangan berbohong kepadaku! Saya sudah tahu bahwa kamu adalah pangeran dari Keraton ​Surakarta Hadiningrat,”

“Ampun, Tuan Putri. Hamba sebenarnya adalah Pangeran Surya Kusuma.”

Ia pun tidak mampu lagi menutup-nutupi identitas yang se- benarnya sebagai bangsawan. Kemudian Pangeran ​Surya Kusuma menceritakan dengan berhati-hati kisah hidupnya mulai dari saat di keraton, pelariannya ke ​Kebumen, Magelang hingga sampai di Kadipaten Cilacap. Beliau berharap rahasia ini hanya ia dan Per- maisuri yang ​tahu. Pangeran Surya Kusuma lalu memohon kepada Permaisuri untuk tidak menceritakan hal ini kepada orang ​lain. Permaisuri Adipati pun menyanggupinya. Permaisuri merasa ba- hagia dapat bertemu dengan keluarganya ​dari keraton. Semenjak itu Ki Lonco makin dihargai dan diperlakukan makin baik karena Permaisuri Kadipaten ​Cilacap sesungguhnya bibinya sendiri.

Sementara itu, di pendapa kadipaten sedang diadakan rapat besar dengan tumenggung-tumenggung untuk ​membahas pertemuan Adi- pati Cilacap dengan Adipati Ciamis. Pertemuan itu akan membahas wilayah Kadipaten ​Cilacap paling selatan. Dalam rapat itu diputuskan Adipai Gatot Subroto akan bertemu dengan Adipati Ciamis. ​Setelah rapat usai, Adipati Gatot Subroto memanggil Ki Lonco untuk meng- antarnya bertemu Adipati Ciamis.

Elegant Metallic Leaves Outline
Elegant Metallic Leaves Outline
Sketchy Monochromatic Single Small Cloud
Sketchy Monochromatic Single Cloud
Sketchy Monochromatic Single Cloud
Sketchy Monochromatic Single Cloud
Sketchy Monochromatic Single Cloud
Sketchy Monochromatic Single Cloud

Adipati Gatot Subroto berkata, “Ki Lonco, siapkan kereta ken- cana! Aku akan mengadakan perjalanan jauh ke ​daerah Jawa Barat, tepatnya di Desa Sentolo.”

Jawab Ki Lonco, “Baiklah, Kanjeng Adipati.”

Pagi-pagi buta Adipati Gatot Subroto telah siap berangkat menuju Desa Sentolo dengan mengendarai kereta ​kencara kadipaten yang dikusiri oleh Ki Lonco. Ki Lonco membawa kereta kencana ke pesisir. Adipati merasa ada ​yang mengganjal.

Adipati bertanya, “Ki Lonco, mengapa lewat pesisir?”

Ki Lonco pun menjawab dengan tenang, “Kanjeng, lewat pesisir lebih cepat.”

“Hai Ki Lonco, jangan main-main kamu, di pesisir tidak ada jalan menuju Sentolo!”

“Ampun, Kanjeng. Menurut hamba ada jalan menuju Desa Sentolo. Nanti kita buktikan sama-sama!”

Ki Lonco tetap mengarahkan kuda menuju pesisir. Sesampainya di pesisir laut Ki Lonco menghentikan kereta dan ​berkata, “Kanjeng Adipati, kita akan pergi ke Sentolo lewat air.”

Adipati tertawa terbahak-bahak sambil berkata, “Dapatkah kereta berjalan di atas air?”

“Dapat, Kanjeng Adipati. Akan saya buktikan,” jawab Ki Lonco.

Kemudian Ki Lonco duduk bersila dengan kedua tangan di depan dada sambil membaca mantra, seketika itu kereta ​kencana melaju berjalan di atas air. Dengan perasaan heran dan kagum Adipati Gatot Subroto memuji dalam hati. ​Kemudian, dalam benaknya muncul pertanyaan, “Siapakah sebenarnya Ki Lonco itu? Ternyata Ki Lonco seorang ​pekatik yang sakti.”

Ia tidak menyangka sebelumnya. Ki Lonco selama ini tidak pernah menampakkan sesuatu yang aneh. Baru kali ini ia ​me- nunjukkan hal yang demikian ajaib. Tidak memerlukan waktu yang lama Adipati Gatot Subroto dan Ki Lonco ​tiba di Desa Sentolo. Kemudian, bertemulah beliau dengan Adipati Ciamis. Mereka ber- dua membahas tentang ​wilayah di perbatasan sungai Citandui. Adipati Ciamis menginginkan wilayah itu menjadi bagian wilayah Ciamis, ​sedangkan Adipati Cilacap bersikeras wilayah itu adalah wilayah Kadipaten Cilacap. Mereka saling mengungkapkan ​pendapat yang kuat untuk dapat memenangkan wilayah tersebut. Berjam-jam diskusi berlangsung, jalan tengah ​belum dapat ditemukan.

Elegant Metallic Leaves Outline
Elegant Metallic Leaves Outline
Sketchy Monochromatic Single Small Cloud
Sketchy Monochromatic Single Cloud
Sketchy Monochromatic Single Cloud
Sketchy Monochromatic Single Cloud
Sketchy Monochromatic Single Cloud
Sketchy Monochromatic Single Cloud

Pertemuan mereka pun tidak mencapai mufakat. Akhirnya, mereka bersepakat untuk mengadu kesaktian. Siapa ​yang paling sakti itulah yang memiliki wilayah itu. Mereka berdiskusi untuk memutuskan cara mengadu kehebatan. ​Akhirnya, diputuskan mereka saling bertarung dengan mengeluarkan ajiannya masing-masing.

Adipati Gatot Subroto mengeluarkan ajian Tapak Sakti. Kedua telapak tangan Adipati Subroto ditempelkan di depan ​dada dengan komat-kamit membaca mantra. Keluarlah asap putih dari kedua telapak tangan Adipati Subroto. Lalu, ​ia arahkan kepada Adipati Ciamis. Ajian tapak sakti mengenai Adipati Ciamis. Apa yang terjadi? Adipati Ciamis ​tertawa terbahak-bahak dengan sikap mengejek. Adipati Cilacap mencoba lagi ajiannya.

Adipati Ciamis berkata, “Cuma inikah kesaktianmu, Gatot?” “Keluarkanlah semua kesaktianmu,” jawab Adipati Gatot ​Subroto. “Jangan besar kepala kamu, mana ajianmu?” tambahnya lagi.

Adipati Gatot mencoba untuk menenangkan diri agar tak terlihat panik. Sesungguhnya di dalam hatinya gelombang ​gemuruh siap untuk menggelegar. Namun, apa daya ajian-ajiannya sama sekali tidak membuat Adipati Ciamis ​gentar. Adipati Ciamis pun mengeluarkan ajian Guntur Sekethi sebagai balasan dari ajian Tapak Sakti. Adipati ​Ciamis memejamkan mata sambil membaca mantra.

“Terimalah ajian Guntur Sekethiku,” sambil menengadahkan tangannya, membaca mantra.

Adipati Ciamis mengeluarkan ajiannya tepat mengenai Adipati Gatot Subroto. Ternyata tidak separah yang ia ​bayangkan. Ajian itu sama sekali tidak terasa bagi Adipati Gatot. Dengan sikap menantang, Adipati Gatot tersenyum ​sinis.

Adipati Gatot Subroto berkata, “Ajian Guntur Sekethimu hanya dapat menakut-nakuti anak kecil.” Ia lalu tertawa ​terbahak-bahak.

Dengan rasa marah Adipati Ciamis mengeluarkan ajian pa- mungkasnya yang bernama ajian Braja Musthi. ​Mengetahui Adipati Ciamis sedang mempersiapkan ajian-ajiannya, Adipati Gatot pun mempersiapkan diri. Untuk ​menghadapi ajian Adipati Ciamis, Adi- pati Gatot juga mengeluarkan ajian pamungkasnya yang bernama ajian ​Mustika Sakti. Kedua ajian itu berbenturan begitu dahsyatnya sehingga mengeluarkan suara seperti halilintar. ​Suaranya terdengar hingga seluruh pelosok desa. Akibat benturan yang dahsyat ini, tubuh Adipati Gatot Subroto ​terhempas terjatuh bergulingan di tanah. Sementara itu, Adipati Ciamis hanya terhuyung-huyung ke belakang. ​Lingkungan sekitar tempat mereka bertarung juga tampak rusak. Pepohonan hancur terkena tenaga ajian-ajian itu.

Elegant Metallic Leaves Outline
Elegant Metallic Leaves Outline
Sketchy Monochromatic Single Small Cloud
Sketchy Monochromatic Single Cloud
Sketchy Monochromatic Single Cloud
Sketchy Monochromatic Single Cloud
Sketchy Monochromatic Single Cloud
Sketchy Monochromatic Single Cloud

Melihat keadaan Adipati Gatot Subroto seperti itu, dengan sigap Ki Lonco menolong Adipati Subroto.

Ki Lonco berkata, “Ampun, Adipati. Biar Adipati Ciamis menjadi urusanku.”

Ki Lonco lalu datang menghadap. Ia tidak terima Adipati Gatot dipermalukan Adipati Ciamis. Adipati Gatot sudah ia ​anggap sebagai keluarga sendiri karena kebaikan dari Adipati Gatot. Terlebih lagi Adipati Gatot merupakan suami ​bibinya. Ia akan melakukan apa saja asal Adipati Cilacap dapat memenangkan pertarungan dan dapat menguasai ​wilayah yang diperebutkan. Ia tidak mempedulikan lagi apakah identitas dirinya akan terbongkar atau tidak.

Ki Lonco pun kemudian berdiri tegak memandang Adipati Ciamis sambil berkata, “Hai, Adipati Ciamis. Jangan ​sombong dulu, sekarang lawanlah aku!”

Kembali terjadilah pertarungan yang sangat hebat antara Ki Lonco dan Adipati Ciamis. Di dalam hati keduanya ​tersimpan perasaan tidak ingin terkalahkan. Mereka mengeluarkan ajian pamungkas masing-masing agar dapat ​mengalahkan lawannya.

Sungguh sangat luar biasa, Ki Lonco memang sakti mandraguna. Ajian Braja Musthi yang dikeluarkan Adipati Ciamis ​tidak dapat menandingi Ki Lonco. Adipati Ciamis tidak dapat mengimbangi ajian dari Ki Lonco. Tubuh Adipati Ciamis ​pun terhempas dan ber- gulingan di tanah dan akhirnya mengakui kekalahannya, kemudian ia mengajak berdamai. ​Adipati Cilacap pun menerima tawaran damai dari Adipati Ciamis. Adipati Ciamis menyadari, ia harus ​memperlakukan orang lain dengan baik. Tidak ada gunanya memiliki musuh.

Adipati Cilacap dan Adipati Ciamis pun mengadakan perundingan perdamaian. Hasil perundingan wilayah yang ​diperebutkan menjadi wilayah Kadipaten Cilacap. Sebagai tanda persahabatan Adipati Ciamis mengundang Adipati ​Cilacap ke Kadipaten Ciamis.

Sementara itu, dikisahkan pada saat berada di Kadipaten Ciamis, Ki Lonco jalan-jalan sampai Desa Cibulu yang ​masih wilayah Kadipaten Ciamis. Bukan seperti perjalanan-perjalanan yang biasa ia lakukan. Saat itu, Ki Lonco ​menemukan belahan jiwanya. Ki Lonco bertemu seorang gadis cantik bernama Telasih. Saat bertemu pertama kali, ​ia mulai menyukai Telasih. Ia mencoba mencari tahu siapa sebenarnya Telasih itu. Mulailah ia mendekati Telasih. ​Awalya Telasih merasa tidak nyaman. Telasih pun mencari tahu siapa sebenarnya Ki Lonco. Setelah ia menanyakan ​ke beberapa orang, ia mengetahui bahwa Ki Lonco adalah pekatik Adipati Cilacap yang sangat dihormati.

Elegant Metallic Leaves Outline
Elegant Metallic Leaves Outline
Sketchy Monochromatic Single Small Cloud
Sketchy Monochromatic Single Cloud
Sketchy Monochromatic Single Cloud
Sketchy Monochromatic Single Cloud
Sketchy Monochromatic Single Cloud
Sketchy Monochromatic Single Cloud

Ia pun kagum akan kehebatan Ki Lonco. Telasih tidak lagi menghindar dari Ki Lonco. Semakin hari hubungan mereka semakin dekat. Hingga suatu saat Ki Lonco mengungkapkan rasa cintanya pada Telasih. Telasih pun menerimanya. Pertemuan mereka sering terjadi. Seiring waktu perasaan cinta mereka semakin kuat. Sayangnya, hubungan mereka telah melebihi batas hingga Telasih mengandung. Namun, keduanya sama-sama belum tahu jika Telasih telah mengandung.

Beberapa hari kemudian Adipati Gatot Subroto mengajak Ki Lonco kembali ke Kadipaten Cilacap. Ia tidak dapat menolak perintah Adipati. Sebenarnya ia merasa sangat berat hati meninggalkan Telasih yang ia cintai. Namun, ia tidak dapat berbuat banyak karena Telasih belum menjadi istrinya. Tentu ia belum dapat membawa Telasih ikut bersamanya. Mengetahui hal ini, Telasih sangat sedih. Ia pun tidak mempunyai alasan yang kuat untuk menahan Ki Lonco.

Singkat cerita, setelah beberapa bulan Telasih mengetahui bah- wa dirinya mengandung. Beberapa bulan berlalu, Telasih pun melahirkan anak laki-laki yang diberi nama Rali. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun pun berganti tahun, Rali tumbuh men- jadi dewasa. Suatu hari Rali bertanya pada ibunya.

Rali berkata, “Ibu, siapa sebenarnya bapakku, mengapa kita hanya berdua saja?”

Jawab ibunya, “Rali, anakku. Sebenarnya bapakmu adalah abdi Kadipaten Cilacap!”

Mengetahui hal ini pergilah Rali ke Kadipaten Cilacap. Berhari- hari ia melakukan perjalanan menuju Kadipaten Cilacap. Sesam- painya di sana ia menghadap Sang Adipati.

“Ampun, Adipati. Hamba menghadap. Hamba bernama Rali dengan maksud ingin bertemu bapak saya, Ki Lonco.”

Dengan perasaan takut Rali mengisahkan hidupnya bersama ibunya di Desa Cibuluh.

“Baik, Rali! Saya akan mempertemukanmu dengan Ki Lonco.”

Pada saat ditemui, Ki Lonco sedang bercakap-cakap dengan per- maisuri Adipati.

“Ki Lonco, ada seorang anak muda mencarimu, ia mengaku anakmu. Betulkah itu?” sang Adipati menceritakan tentang kisah ke- hidupan Rali, seperti yang diceritakan oleh Rali.

Setelah Ki Lonco mendengar cerita dari beliau, Ki Lonco baru sadar bahwa ia pernah memadu kasih dengan gadis Cibuluh (Jawa Barat) yang ditinggalkannya.

Elegant Metallic Leaves Outline
Elegant Metallic Leaves Outline
Sketchy Monochromatic Single Small Cloud
Sketchy Monochromatic Single Cloud
Sketchy Monochromatic Single Cloud
Sketchy Monochromatic Single Cloud
Sketchy Monochromatic Single Cloud
Sketchy Monochromatic Single Cloud

Ia pun mengakui bahwa Rali adalah anaknya. Kemudian, Ki Lonco datang menemui Rali. Ia sangat bahagia dapat ​bertemu dengan putranya. Saat melihatnya, ia teringat dengan Telasih. Dipeluklah putra tercintanya. Ki Lonco ​memohon maaf pada Rali karena telah meninggalkannya selama ini.

Kemudian, Permaisuri Adipati juga ikut bicara.


“Kangmas, Yayi minta maaf sebelumnya. Yayi mau menceritakan sebuah rahasia yang selama ini Yayi simpan rapat-​rapat.”

“Rahasia apa itu, Yayi? Katakan pada Kangmas!” kata Adipati.

Permaisuri kemudian menceritakan siapa sebenarnya Ki Lonco itu. Ia merasa tidak dapat merahasiakan hal ini lebih ​lama lagi.

Permaisuri tidak tega melihat Ki Lonco mengalami kehidupan yang sulit. Ia ingin Ki Lonco dan putranya hidup ​bahagia.

Betapa kagetnya Sang Adipati Gatot Subroto. Ternyata Ki Lonco masih keponakan permaisurinya dan mempunyai ​nama asli Surya Kusuma. Kemudian, Adipati Gatot Subroto mengajak permaisurinya menemui Ki Lonco dan Rali. ​Sesampainya di pendapa Adipati Gatot Subroto berkata kepada Ki Lonco dan Rali.


“Dimas Surya Kusuma, aku perintahkan kamu dan anakmu untuk pergi ke daerah perbatasan yang sudah menjadi ​wilayah Kadipaten Cilacap. Olahlah tanah di sana, bukalah ladang dan persawahan untuk mencukupi kebutuhan ​keluargamu! Aku beri nama daerah itu Patimuan karena merupakan hasil pertemuanku dengan Adipati Ciamis!”


Pangeran Surya Kusuma sangat kaget menerima hadiah ini. Ia merasa tidak enak hati. Ia tidak ingin orang ​mengasihaninya. Adipati Gatot Subroto dan permaisuri menjelaskan bahwa hadiah ini sebagai bentuk penghargaan ​kepada Ki Lonco yang telah mengabdi untuk kadipaten. Adipati sangat terkesan atas kerja keras Ki Lonco. Ia ingin ​memberi penghargaan kepada Ki Lonco. Ia tidak memanfaatkan kedudukan yang ia miliki. Ia tidak memanfaatkan ​statusnya sebagai keponakan permaisuri. Pangeran Surya Kusuma pun menerima niat baik Adipati Gatot Subroto.

Elegant Metallic Leaves Outline
Elegant Metallic Leaves Outline
Sketchy Monochromatic Single Small Cloud
Sketchy Monochromatic Single Cloud
Sketchy Monochromatic Single Cloud
Sketchy Monochromatic Single Cloud
Sketchy Monochromatic Single Cloud
Sketchy Monochromatic Single Cloud

Sejak itu Ki Lonco dan keluarganya hidup di daerah yang merupakan hadiah dari Adipati Cilacap. Bulan berganti, ​tahun pun berlalu, Ki Lonco dan keluarganya hidup bahagia. Anak Ki Lonco yang bernama Rali tumbuh menjadi ​orang yang disegani di daerah itu. Dia dikenal dengan sebutan Ki Rali. Ia meninggal dan dimakamkan di Penyeretan, ​Desa Sidamukti, Kecamatan Patimuan. Sampai sekarang patilasannya sering dikunjungi banyak orang yang ingin ​berziarah ke makamnya.

Demikian cerita asal muasal Kecamatan Patimuan. Selain kisah asal muasal ini, ada beberapa mitos lain. Kata ​Patimuan berasal dari pertemuan antara Sungai Citandui dan Cisel. Ada juga yang mengatakan kata Patimuan ​berasal dari pertemuan beberapa orang yang berasal dari daerah yang berbeda. Saat ini Patimuan merupakan ​wilayah Kabupaten Cilacap paling barat yang berbatasan langsung dengan Jawa Barat. Mudah-mudahan cerita ini ​dapat menjadi referensi cerita lokal Kabupaten Cilacap.

Sketchy Monochromatic Single Small Cloud
Sketchy Monochromatic Single Cloud
Sketchy Monochromatic Single Cloud
Elegant Metallic Leaves Outline
Elegant Metallic Leaves Outline
Sketchy Monochromatic Single Cloud
Elegant Metallic Leaves Outline
Sketchy Monochromatic Single Cloud
Soft Illustrative Lunar New Year Cloud
Sketchy Monochromatic Single Cloud
Sketchy Monochromatic Single Cloud
Rumah Kasepuhan Cirebon Traditional House of Indonesia From Jawa Barat
Islamic Ribbon

Se​lesai

Elegant Metallic Leaves Outline
Indonesian Barong Mask
Soft Illustrative Lunar New Year Cloud
Soft Illustrative Lunar New Year Cloud