

Kabupaten Cilacap
Kabupaten Cilacap



Cerita Rakyat
Cerita Rakyat

“Lengger Dempet”
“Lengger Dempet”
Dikisahkan, dahulu hiduplah sebuah keluarga yang rukun dan bahagia. Keluarga tersebut adalah pasangan suami istri Karta dan Juminten. Pekerjaan Karta adalah membuat
mainan seperti othok-othok dan angkrek. Terkadang ia mendapat pesanan untuk membuat mainan barongan. Sebagai istri walaupun sedang mengandung, Juminten tetap mau membantu pekerjaan Karta, seperti mengecat, menggambar, sampai menjualnya di pasar. Semua itu ia lakukan demi membantu Suaminya. Setiap pagi Juminten membangunkan Karta. Setelah membangunkan suaminya, Juminten menyiapkan sarapan. Setiap hari ia lakukan dengan senang hati.
“Pakne, bangun, sudah fajar. Si jago sudah berkokok,” dengan lembut Juminten membangunkan suaminya.
“Emmmmmm, sudah pagi to, Bu?” sahut Karta sembari membuka matanya.

“Sudah, Pakne. Ayo bangun supaya tidak kesiangan. Bapak kata- nya mau berjualan di pantai mumpung ada Larungan(1). Kalau tidak berangkat pagi-pagi, nanti sampai sana kesiangan,” Juminten men- jawab.
1) Larungan adalah tradisi melarung sesaji di pantai yang dilaksanakan setahun sekali.
Ketika Karta mengambil air di sumur, Juminten menyiapkan bekal makanan untuk dibawa suaminya berjualan.
Pagi itu sembari bersiap-siap pergi berjualan, Karta bertanya kepada Juminten, “Bune, setiap hari kau bekerja keras memasak, mencuci, membersihkan rumah, lalu membantuku membuat mainan, apa kamu tidak lelah, apalagi kandunganmu semakin besar?”
“Tidak to, Pakne. Wong sudah terbiasa ya tidak terasa berat,” Juminten memang tidak pernah mengeluh meskipun kadang ke- adaan mereka sangat sulit.
“Tapi, sekarang kamu sedang hamil tua. Jangan terlalu keras be- kerja. Jaga dirimu!” pesan Karta kepada Juminten.
Mereka berdua sudah agak lama menanti kehadiran seorang anak di tengah-tengah mereka. Setiap malam Juminten dan Karta berdoa kepada Tuhan agar dikaruniai seorang anak. Beberapa bulan kemudian Juminten hamil, seakan menjadi kebahagiaan tersendiri bagi hidup Karta dan Juminten yang serba kekurangan.
“Jangan khawatir, aku akan menjaganya dengan baik,” sahut Juminten. Setelah itu, Karta pun pamit kepada Juminten untuk ber- jualan.
“Bune, aku pergi dulu,” Karta mengambil tas yang berisi bekal dan barang dagangannya. Semua barang dagangan sudah ia persiapkan pada malam hari sebelumnya.
Karta keluar dari rumah dengan ditemani sebotol air minum, bekal makanan untuk sarapan, dan barang dagangan. Biasanya ia berjualan sepanjang pagi. Selepas berjualan, ia pulang ke rumah dan beristirahat sebentar. Sore harinya ia membuat mainan-mainan itu untuk dijual pada pagi hari berikutnya. Demikianlah pekerjaan sehari-hari Karta, membuat othok-othok, angkrek, dan barongan. Seringkali ia dibantu istrinya mengecat, menggunting, dan menempel-nempel. Biasanya, ia mencari bahan-bahan yang akan digunakan membuat mainan- mainan sambil berjualan atau setelahnya. Ia mencari barang-barang bekas agar biaya pembuatannya lebih murah, seperti kardus bekas untuk membuat angkrek. Untuk bambu dan kayu, ia dapatkan dari ladangnya. Sengaja di ladangnya ia tanami bambu dan pepohonan agar dapat dimanfaatkan sebagai bahan untuk membuat angkrek dan barongan.






Sore itu Karta pergi ke ladang untuk mencari kayu karena ada pesanan barongan. Semua peralatan untuk memotong kayu dan bambu sudah ia persiapkan. Karta melangkah penuh semangat. Onak dan duri tidak ia pedulikan. Ia mengambil kayu-kayu yang terserak di jalan yang sekiranya dapat dimanfaatkan untuk membuat othok-othok, angkrek, atau barongan. Peluh keringat mengucur di keningnya. Sebagian ladangnya yang cuma sepetak ia tanami singkong, sedangkan di pinggir-pinggirnya ia tanami dengan pokok- pokok bambu. Tanaman singkong menjadi penghasilan tambahan dengan menjual daun singkong atau umbi singkongnnya. Akan te- tapi, hasilnya tidak dapat setiap saat ia peroleh. Jika ada tetangganya yang meminta, ia pasti dengan senang hati akan memberikannya. Karta dan Juminten memang orang yang baik.
Selain singkong, kadangkala ladangnya ditanami jagung yang dapat menjadi pengganti beras. Pokok bambu bagi Karta menjadi tanaman penting sebagai bahan baku utama untuk pekerjaannya. Di ladang tersebut ia berkeliling sebentar mencari batang bambu yang tepat untuk dibuat mainan. Setelah mendapatkannya, ia se- gera menebangnya. Ia memotong-motongnya sepanjang satu meter supaya mudah membawanya pulang. Bambu-bambu tersebut di- ikatnya. Selesai dengan bambunya, Karta mencari pohon singkong yang sudah siap diambil umbinya.
“Wah, singkong ini sepertinya mempur sekali kalau direbus,” gumam Karta sambil membayangkan singkong rebus yang asapnya masih mengepul. Ia tertawa dalam hati, rupanya ia sudah mulai lapar. Air teh yang dibawakan sebagai bekal dari sang Istri pun sudah tak tersisa lagi. Cepat-cepat ia menggali dan mengambil umbi singkong tersebut, kemudian ia mengumpulkan daun singkong muda untuk dibuat lalapan.
Matahari semakin redup menandakan hari sudah semakin petang. Karta pun menyusun batang-batang bambu itu dan disatukannya dengan kayu yang akan dibuat barongan. Ia berjalan sambil me- manggul batang bambu dan kayu serta menjinjing singkong di tangannya.
Setelah sampai di pelataran rumah, Karta menaruh bambu-bambu dan kayu tersebut di samping rumahnya. Sore ini agak kesorean ia mencari bambu dan kayu. Ia tidak dapat membuat mainan pada malam hari karena belum ada listrik di rumahnya. Membuat mainan dengan lentera akan sangat sulit. Akibatnya, ia tidak dapat menjual mainan keesokan paginya. Akan tetapi, ia masih bersyukur karena ada pesanan barongan. Itu akan membutuhkan waktu seharian.






“Bagaimana, Pakne? Sudah dapat kayu yang bagus untuk barongan?” tanya Juminten sambil menyuguhkan teh hangat dan pisang rebus.
“Sudah, Bune. Hari ini aku juga dapat bambu yang lumayan bagus, tidak terlalu tua juga tidak terlalu muda,” Karta menjawab.
“Wah, pisangnya hangat. Aku bawa singkong dan daunnya, Bune. Dapat kaumasak besok pagi.”
“Ya, Pak.”
Juminten yang telah selesai memasak, kemudian menyiapkan makanan di meja makan. Mereka pun menyantap makanan tersebut dengan nikmat.
“Besok aku tidak jualan, Bu. Aku harus membuat barongan pesanan Pak Karmin.”
“Ya, Pak, tidak apa-apa. Selesaikan dulu pesanannya. Aku yang akan menjualnya ke pasar sambil belanja.”
“Lha wong perutmu sudah besar begitu kok masih mau jualan? Nanti kalau terjadi apa-apa di jalan siapa yang mau menolong,” ucap Karta.
Tiba-tiba perut Juminten bergejolak. Ia pun berteriak.
“Aduh, perutku sakit sekali! Aduh, tolong, Pak!” teriak Juminten kepada suaminya.
Juminten menjerit kesakitan, sebelumnya tidak ada tanda-tanda akan melahirkan. Tiba-tiba Juminten merasakan gejolak pada perutnya. Beberapa kali Juminten menjerit kesakitan dan kesekian kalinya ia merasakan terjadi sesuatu pada perutnya.
“Oh, Apakah ini tandanya akan melahirkan? Sebentar aku akan panggilkan dukun bayi.”
Karta bergegas pergi memanggil dukun bayi. Dukun bayi datang bersama Karta lalu memasuki kamar Juminten. Sementara itu, Karta hanya menunggu cemas di luar kamar Juminten.
“Duh Gusti, selamatkanlah anak dan istriku.”
Tak lama kemudian terdengar suara tangis bayi pertanda Juminten telah melahirkan. Betapa senangnya hati Karta kini ia telah menjadi seorang ayah.
Saat Karta memasuki kamar Juminten tiba-tiba, “Anakku, Aa, Ini anakku? Bukan! Bukan! Ini bukan anakku! Duh Gusti, mengapa anakku seperti ini?” Juminten hanya dapat menangis terisak-isak di tempat tidur.






Karta sangat terkejut dengan kenyataan yang ada di hadapannya. Anaknya terlahir dengan wajah yang mengerikan tidak seperti bayi- bayi normal lainnya. Ia belum dapat menerima kenyataan itu.
Namun, seiring berjalannya waktu Karta mulai dapat menerima keadaan anaknya yang diberi nama Dawuk, bahkan Karta sangat menyayangi Dawuk. Melihat sang anak kian tumbuh, tetapi dengan keterbatasan fisik, membuat hati Juminten dan Karta teriris. Hampir setiap malam Dawuk menangis dengan tak henti-hentinya. Juminten lalu menggendong dan mendendangkan lagu untuk menenangkan Dawuk.
“Duh anakku cah bagus cep, cep. Tak lelo lelo ledhung. Cep menengo anakku seng bagus dewe, jangan menangis terus anakku. Cep cep cep.”
Juminten dan Karta bergantian dalam merawat Dawuk. Jika Juminten sudah lelah menggendong, Karta menggantikannya. Meski dalam keadaan sulit mereka tetap rukun dan saling mendukung.
“Duh Gusti, cobaan apa lagi yang Engkau berikan kepada keluarga kami!” Juminten menggumam lirih, air matanya meleleh.
“Sabar, Bune. Tuhan memberikan anak yang istimewa untuk kita.”
Sejak kehadiran Dawuk, Karta tidak lagi pergi berjualan mainan. Karta merasa tidak tega meninggalkan istrinya dalam keadaan seperti itu. Karta ingin mengurus dan membantu Juminten merawat anak semata wayangnya.
Untuk memenuhi kebutuhannya, ia menjual sisa-sisa mainan yang sebelumnya ia buat. Selain dari hasil yang ia peroleh dengan penjualan mainan, ia mendapat bantuan dari tetangganya yang iba melihat kondisi keluarganya tersebut. Beberapa tetangga berbagi makanan dan beras. Dengan senang hati Juminten dan Karta menerimanya. Para tetangga baik kepada keluarga Karta dan Juminten karena keduanya juga senang berbuat baik.
Lama-kelamaan persediaan mainan pun habis, sedangkan Karta belum juga sempat untuk membuat mainan lagi. Mereka berdua disibukkan dengan merawat Dawuk yang kondisinya memang berbeda. Sementara itu, uang hasil pendapatan menjual mainan selalu habis untuk memenuhi kebutuhan. Melihat situasi perekonomian keluarga yang semakin sulit, Karta dan Juminten berpikir keras untuk mendapat uang. Setidaknya anaknya Dawuk tidak kelaparan. Akhirnya, Karta dan Juminten memutuskan untuk mengamen dari satu pintu ke pintu dengan membawa Dawuk. Karta sebenarnya tidak tega melihat keadaan Dawak yang lumpuh. Hal itu semata dilakukan agar selalu dapat merawat anaknya sambil bekerja mencari uang.






Bulan berganti bulan tahun berganti tahun Dawuk tumbuh besar, tetapi ia memiliki kelainan organ tubuh, yaitu kakinya lumpuh tidak dapat berjalan. Meskipun demikian, Dawuk sangat senang jika diajak mengamen sehingga Karta selalu mengamen sambil menggendong Dawuk. Sayangnya, setiap pulang dari mengamen Dawuk terlihat kelelahan. Hal ini membuat Juminten khawatir dengan kondisi Dawuk.
“Sekarang Dawuk sudah besar, biarlah Dawuk di rumah saja dan aku yang akan merawatnya,” ujar Juminten kepada Karta.
“Aku juga tidak tega melihatnya karena dia tidak dapat berjalan. Akan tetapi, aku tidak ingin ia hanya tahu tentang isi rumah, ia harus tahu dunia luar,” balas Karta dengan lemah.
Karta merasa lelah, sebenarnya ia pun tidak ingin membawa Dawuk pergi ke luar rumah, apalagi mencari uang. Namun, Karta selalu ingin membuat anaknya bahagia. Dawuk terlihat bahagia sekali jika diajak jalan-jalan seperti itu. Dengan melihat Dawuk tersenyum, membuatnya bahagia. Ia sangat menyayangi Dawuk dengan segala keterbatasannya.
Pada suatu hari Dawuk mengalami sakit demam. Demamnya sangat tinggi sehingga membuat Karta dan Juminten kebingungan. Namun, karena keadaan ekonomi keluarga yang terbatas, Karta hanya dapat membuatkan obat dari bahan-bahan alami yang ada di sekitar tempat tinggalnya. Karta tidak mempunyai banyak uang untuk membawa Dawuk ke dokter. Semakin lama keadaan Dawuk semakin parah. Juminten hanya dapat menangis melihat keadaan anaknya seperti itu.
“Duh Gusti, bagaimana ini, Pak? Panasnya tidak kunjung turun!” ujar Juminten sembari memeluk putranya tersebut.
“Dikompres saja dulu, Buk! Sebentar kupanggilkan Mbah Du- kun,” sahut Karta.
“Baik, Pak. Cepat ya, Pak!”
Karta kemudian memanggil dukun bayi yang dulu membantu proses kelahiran Dawuk. Setelah diberi ramuan, keesokan harinya Dawuk pun sehat kembali. Badannya sudah tidak panas lagi, justru kini nafsu makannya bertambah. Juminten merasa senang melihat anaknya kini sudah sehat kembali.
Malam harinya tiba-tiba Dawuk mengalami demam tinggi lagi. Tubuhnya panas dan menggigil. Juminten dan Karta kebingungan.






“Dawuk, kamu ini sakit apa? Mengapa dapat seperti ini?” Ju- minten memeluk Dawuk di tempat tidur sambil menangis.
“Malam ini sudah sangat larut, besok pagi baru kita dapat me- manggil Mbah Dukun,” ucap Karta kebingungan.
“Pak, ambilkan segelas air putih dan air di rantam untuk me- ngompres!” pinta Juminten kepada Karta.
“Baik, Bu, sebentar kuambilkan.”
Tidak berapa lama, panas Dawuk mulai menurun. Dawuk dapat tidur nyenyak dan tak menangis lagi. Matanya terpejam dan tubuh mungilnya lemas tak berdaya.
“Aku tidak tega melihatnya sakit seperti ini!” kata Juminten kepada Karta.
“Aku juga, Bu! Besok aku akan mencari uang agar Dawuk dapat kita periksakan ke dokter,” ujar Karta kepada Juminten.
Paginya Karta berangkat berkeliling untuk mencari uang. Ia meninggalkan Juminten dan Dawuk di rumah berdua. Siang itu keadaan Dawuk bertambah parah dan akhirnya Dawuk pun meninggal. Juminten menangis sejadi-jadinya sehingga membuat tetangganya berdatangan. Semua tetangga datang dan melihat Dawuk sudah meninggal. Salah seorang warga lalu pergi mencari Karta hendak memberi kabar tentang kematian anaknya tersebut.
“Yang sabar, Jum. Semua sudah kehendak Yang Kuasa.”
“Kamu harus bersabar, Jum. Mungkin ini yang terbaik untuk Dawuk dan juga kalian berdua.”
Juminten terus menangis takkuasa menahan kesedihannya. Walau bagaimana pun Dawuk adalah anak yang sangat disayanginya.
“Kang Karta ke mana, Yu?” tanya tetangganya.
“Ia pagi-pagi sekali pergi mengamen!” sambil terus menangis Juminten menjawab pertanyaan tetangganya.
“Kalau begitu saya akan mencari Kang Karta!”
Pergilah tetangga tersebut mencari Karta. Sepanjang jalan ia mencari, tetapi belum juga bertemu Karta. Sang tetanggapun akhirnya pulang kembali menemui Juminten. Para tetangga menemani Juminten serta membantu merawat jenazah Dawuk.






“Duh Gusti, Mengapa kau ambil Dawuk secepat ini? Baru saja sembuh dari sakit makannya banyak dan banyak tertawa. Mengapa tiba-tiba ia seperti ini?” sambil menangis Juminten mengenang Dawuk.
“Sudah, Yu. Kamu harus sabar, ini cobaan dari Tuhan. Jangan menangis terus!” para tetangga mencoba menenangkan Juminten.
“Pakne, mengapa tidak pulang-pulang?” sambil terus menangis.
Karta yang tidak tahu kejadian di rumahnya terus bersemangat mencari uang agar dapat membawa Dawuk ke dokter. Pada hari itu Karta mendapatkan banyak uang. Ia pun pergi membeli makanan yang enak untuk anaknya dan sisanya ia bawa pulang untuk biaya berobat. Dengan hati yang sangat bahagia, Karta berjalan pulang ke rumah. Namun, Karta tersentak melihat para tetangga berkerumun di rumahnya dan bendera kuning menancap di dekat pintu masuk. Kebahagiaan Karta tiba-tiba hilang. Seakan tak percaya Karta berlari masuk ke dalam rumahnya. Ia melihat jenazah Dawuk sudah dikafani. Karta menangis sejadi-jadinya, ia merasa rezeki yang ia dapatkan hari ini tidak berarti apa-apa. Semua sudah terlambat.
“Dawuk, Bapak bawa uang banyak, kita dapat makan enak,” seru Karta.
Karta sangat menyesal karena tidak dapat membawa anaknya ke dokter sejak awal dia sakit. Sejak saat itu setiap hari Karta merenungi kepergian anaknya. Ia tidak mau makan dan bekerja. Suasana haru,
duka, sedih menyelimuti keluarga Karta. Karena sangat sayangnya pada Dawuk, Karta meng- ambil sebuah kayu dan memahatnya mirip de- ngan wajah anaknya. Kayu pahatan itu lalu digendong dan dibawa mengamen dari rumah ke rumah seperti saat bersama Dawuk. Aneh- nya, kematian Dawuk membawa keberuntung- an bagi keluarga Karta. Cara Karta mengamen dengan menggendong boneka tersebut terkenal
ke mana-mana. Penduduk yang sering didatangi menunggu-nunggu kedatangan Karta. Bahkan, anak-anak kecil merasa takjub melihatnya karena boneka itu tampak seperti hidup.
Kisah tersebut berkembang dan terkenal menjadi “Lengger Dempet” hingga sekarang kebiasaan itu diikuti orang. Di kampung- kampung daerah Cilacap dan sekitarnya masih terlihat di jalanan ada orang yang mengamen sambil menggendong boneka kayu. Itulah yang disebut Lengger Dempet.









Selesai
