

Kabupaten Cilacap
Kabupaten Cilacap



Cerita Rakyat
Cerita Rakyat

“Petaka Rumah Balai Malang dan Busana Golek Kencana”
“Petaka Rumah Balai Malang dan Busana Golek Kencana”
Tersebutlah, di wilayah Kabupaten Cilacap bagian utara, ber- batasan dengan Kabupaten Banyumas, tepatnya di Desa Brani, Kecamatan Sampang, terdapat bangunan rumah kecil berbentuk balai malang (tajug). Tempat tersebut dijadikan sebagai tempat pemujaan oleh sebagian besar masyarakat asli Desa Brani. Adanya tempat tersebut berawal dari sebuah kepercayaan masa lam- pau yang turun-temurun dipahami masyarakat Desa Brani tentang pembangunan rumah balai malang dan kisah seorang petani yang mengalami beberapa hal aneh setelah kesurupan.
Sekitar tiga ratus tahun yang lalu, masyarakat Desa Brani secara turun-temurun sangat memercayai pantangan pembangunan rumah balai malang. Masyarakat menganggap bahwa di alam selain ma- nusia terdapat alam gaib yang makhluknya dapat kapan saja hadir menyamai manusia. Adanya rumah balai malang dianggap sebagai tempat hadirnya makhluk gaib tersebut sehingga masyarakat meng- hindari untuk membangun rumah balai malang. Masyarakat khawatir apabila keberadaan alam gaib semakin dekat dengan manusia akan mengusik ketenangan masyarakat. Namun, ada kisah lain yang ber- kembang sehingga mengubah pemikiran masyarakat Desa Brani.

Kisah tersebut berawal dari seorang petani warga masyarakat Desa Brani yang kala itu sedang mencangkul di ladangnya. Petani itu hanya petani biasa yang merupakan penduduk asli Desa Brani. Petani itu tinggal di samping ladang yang ia garap. Meskipun tidak luas, ladang tersebut menjadi penopang kehidupan bagi petani dan keluarganya. Pada suatu hari, ketika sedang membajak ladangnya, secara tidak sengaja cangkul petani mengenai sebuah benda. Diambilnya benda itu lalu dibersihkannya. Alangkah terkejutnya ia setelah mengamati benda tersebut. Ternyata benda itu adalah sejenis ubi yang disebut uwi (bahasa Jawa). Ia begitu heran mengapa ada ubi di ladangnya padahal yang ia tanam selama ini adalah tanaman kobis. Karena bingung dan ketakutan, uwi yang terkena cangkul itu diletakkan kembali ke tanah. Kemudian petani itu terus melanjutkan pekerjaannya. Di dalam benaknya masih ada rasa kebingungan dan ketakutan, tetapi petani tersebut masih tidak mau berpikir yang buruk. Ia terus saja meng- anggap bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Tidak terasa hari sudah sore, Petani segera membersihkan cang- kulnya dan bergegas pulang. Sesaat sebelum pulang ia tidak sengaja menjatuhkan uwi tadi. Ia akhirnya berpikir untuk melihat kembali uwi yang tadi terkena cangkul. Terkejutlah Petani tersebut melihat uwi yang tak sengaja ia cangkul tadi mengeluarkan darah. Karena perasaan yang campur aduk, ketakutan, keheranan, dan kebingungan, petani itu pun meletakkan kembali uwi ke tanah. Ia lalu langsung pulang.
Di rumah, seperti biasa, Petani meletakkan alat bertaninya dan kemudian bersiap diri untuk mandi. Istrinya sudah menyiapkan ma- kanan untuknya. Setelah membersihkan diri, Petani beristirahat di luar rumah sambil melamun. Ia teringat dengan uwi yang ditemu- kannya siang tadi, dan mencoba memberitahukan kepada istrinya.
“Aku mau nemu uwi, Buk, ning alase dewe (Aku tadi menemukan umbi, Bu, di ladang kita),” kata Petani kepada istrinya.
“Apa...? Uwi...? Aja aneh-aneh ta, Pak, wong nandure kobis kok metune uwi,” istri Petani ikut terkejut.
“Aku ya gak ngerti, aku ya bingung, Buk.” (Aku juga tidak tahu, aku juga bingung, Bu.)
“Pratanda apa ya, Pak? Apa mending dikandakke Mbah Sapon?” (Pertanda apa ya, Pak? Apa lebih baik kita beri tahukan kepada Mbah Sapon?)






Mbah Sapon adalah sesepuh di Desa Brani tersebut. Sebagian masyarakat percaya pada yang dikatakan oleh beliau. Namun, Petani menganggap hal ini tidak terlalu penting sehingga tidak memerlukan nasihat dari Mbah Sapon. Istri Petani pun mengikuti apa kemauan suaminya.
Keesokan harinya ketika Petani hendak berangkat ke ladangnya, badannya terasa berat, mendadak suhu tubuhnya menjadi panas. Petani pun mengurungkan niatnya untuk berangkat ke ladang. Sakit yang diderita petani dirasa aneh sebab badannya dingin, tetapi dirasa panas yang sangat tinggi. Istri Petani tidak memiliki uang untuk me- meriksakan suaminya sehingga membiarkan suaminya menderita sakit selama beberapa hari.
Sampai pada akhirnya Petani itu kesurupan ‘kerasukan setan’ dan ngromed ‘berbicara sendiri tanpa sadar’. Karena rasa takut dan khawatir pada suaminya, istri Petani memanggil Mbah Sapon untuk melihat kondisi suaminya. Pergilah istri Petani ke kediaman Mbah Sapon.
“Mbah nyuwun sewu, anu mbah, garwane kula, tulung garwane kula kesurupan Mbah, pripun?” kata istri Petani sambil kebingungan.
Mendengar hal tersebut Mbah Sapon yang sedang membersihkan rumah langsung pergi bersama istri Petani menuju rumah Petani untuk melihat keadaan petani itu. Sesampainya di rumah, sudah banyak warga yang melihat dari luar keadaan Petani yang sedari tadi ngromed. Warga ketakutan sekaligus memberikan simpati kepada Petani. Dalam ngromed-nya, Petani mengatakan bahwa uwi yang me- ngeluarkan darah itu sebagai penjelmaan Golek Kencana.
Golek Kencana adalah baureksa, yakni makhluk halus yang di- percaya sebagai “penunggu” Desa Brani. Konon, Golek Kencana ada- lah seorang prajurit yang dahulu berjuang bersama Kerajaan Sriwijaya. Ia memiliki sifat yang gigih, tidak pantang menyerah, dan selalu berusaha bagaimanapun caranya memenangkan perjuangan. Kala usianya sudah tidak muda lagi dan tidak dapat pergi berperang, Golek Kencana memilih mengasingkan diri ke desa-desa, hingga sampailah di Desa Brani. Ia tinggal bersama istrinya, Nyi Golek Kencana.
Golek Kencana menjadi sesepuh desa tersebut karena ia yang per- tama kali mengajari masyarakat bercocok tanam. Ia juga membuat saluran air dari gunung untuk mengairi sawah. Oleh karena itu, warga Desa Brani percaya pada Golek Kencana. Nama Desa Brani pun merupakan pemberian dari Golek Kencana.






Brani artinya dalam bahasa Jawa adalah wani atau memiliki kekuatan serta kemampuan untuk bangkit karena sebelum kehadiran Golek Kencana, desa itu dalam keadaan terpuruk. Warganya tidak memiliki pekerjaan bahkan air bersih. Untuk mendapatkan air bersih, warga harus berjalan jauh ke gunung terlebih dulu.
Selama bertahun-tahun pasangan Golek Kencana dan Nyi Golek Kencana tidak dikaruniai anak. Karena kesedihan yang berlarut-larut, dan penantian yang tak berujung, mereka akhirnya memilih jalan lain, yakni meminta bantuan pada makhluk dari alam lain. Permintaan itu pun dikabulkan. Pasangan Golek Kencana dan Nyi Golek Ken- cana mendapatkan sebelas orang anak. Namun sayang, satu per satu secara bergantian, anak-anak mereka sakit hingga akhirnya mening- gal karena Golek Kencana tidak mampu memenuhi persyaratan pada makhluk alam lain yang dimintai tolong untuk memberikan anak.
Golek Kencana merasa sangat sedih dan marah hingga ia memutus- kan mengakhiri hidupnya.
Kini Golek Kencana kembali muncul di Desa Brani dalam wujud uwi sebagai jelmaannya. Ia kembali karena merasa desanya sedang dalam kesusahan sehingga perlu ia jaga.
Ketika Petani ngromed, Golek Kencana minta dibuatkan tempat tinggal berupa rumah balai malang dan sebuah ayunan. Menurut Mbah Sapon, Golek Kencana memiliki keinginan itu karena ia masih memiliki urusan di dunia. Selain rumah balai malang dan ayunan, Golek Kencana juga minta diberikan perlengkapan busana berupa jarit barong (kain barong), baju kebaya hijau gadung, selendang madong, dan mekuthah (mahkota). Ia juga minta disediakan sesaji berupa kembang setaman (bunga setaman) lengkap dengan kemenyan yang dibakar serta makanan berupa gecok pitik (ayam yang ditumbuk dan dikasih bumbu), trancam terong aor (urap terong yang rasanya sengir), sega golong pitu (nasi pulen yang dibungkus dengan daun pi- sang berjumlah tujuh bungkus).
Petani yang kesurupan akhirnya dapat disadarkan oleh Mbah Sapon. Warga pun bergotong royong membangun tajug. Tajug per- tama inilah yang disebut tajug (balai malang) induk. Di dalam tajug ini dipercaya bersemayam Golek Kencana dengan segala perlengkapan busana yang telah disediakan oleh warga masyarakat Desa Brani. Beberapa tahun kemudian setelah Desa Brani terlepas dari masalah, kabarnya Golek Kencana itu diambil oleh Ratu Yogyakarta dan diajak ke sana.






Karena memang asli pambaurekso Desa Brani, Golek Kencana tetap pulang kembali ke Desa Brani setiap bulan, tepatnya tanggal 5 sampai tanggal 25. Setelah itu, ia kembali ke Yogyakarta. Beberapa tahun kemudian dibangunlah sebelas tajug anakan yang tersebar di wilayah Desa Brani. Kesebelas tajug anakan ini dipercaya sebagai pe- tilasan (tempat singgah makhluk halus penunggu Desa Brani). Kabar lain yang terdengar bahwa sebelas tajug anakan itu adalah tempat singgah sebelas anak dari Golek Kencana yang sudah meninggal. Dengan demikian jumlah tajug di Desa Brani semuanya ada dua belas. Setiap kali Golek Kencana kembali selalu disertai istri dan se- belas anaknya.
Pembangunan sebelas tajug berawal dari mimpi Mbah Sapon didatangi Golek Kencana. Golek Kencana berkata bahwa anak-anak- nya pun ingin kembali ke dunia karena mereka juga ingin menjaga Desa Brani. Setelah mendapat mimpi tersebut Mbah Sapon mem- beritahukan kepada warga Desa Brani. Sebagai tetua, perkataannya pun sangat dipercayai warga. Warga pun berpikir jika sebelas tajug tidak dibangun, Golek Kencana akan murka sebab ialah yang men- jadikan Desa Brani semakmur sekarang.
Setelah satu per satu dibangun, beberapa warga sering menemukan makhluk penunggu tajug-tajug tersebut. Warga percaya bahwa tajug- tajug tersebut benar-benar ditunggu oleh makhluk alam lain. Sebelas tajug dibangun di beberapa tempat di Desa Brani dengan tujuan agar warga dapat semakin dekat dengan tempat sembahyang mereka. Di samping itu, makam sebelas anak Golek Kencana tersebut belum diketahui sehingga tajug-tajug dibuat untuk menghargai mereka dan ditempatkan menyebar di beberapa daerah.
Tajug anakan yang pertama berada di wilayah RT 03 RW 02 Desa Brani, Kecamatan Sampang, Kabupaten Cilacap. Menurut keperca- yaan, penunggu tajug ini berwujud wanita yang sangat cantik. Makh- luk halus ini akan keluar pada malam hari sekitar pukul 02.00. Dalam penampakannya ia berdiri bersandar di pintu tajug dengan rambut terurai panjang. Warga mengira bahwa wanita tersebut adalah anak pertama Golek Kencana. Jelmaan wanita cantik itu dianggap warga sebagai bentuk cobaan manusia di dunia. Wanita cantik merupakan salah satu cobaan bagi manusia, khususnya laki-laki, sebab wanita mampu membuat laki-laki lupa diri.






Tajug anakan kedua berada di wilayah RT 04 RW 02. Secara umum di dalam ruangan semua tajug terdapat gundukan tanah yang berbentuk gunungan kecil yang terbentuk dengan sendirinya. Selama ini tidak ada orang yang berani membongkar atau menghilangkan gundukan tanah tersebut sekalipun juru kunci tajug. Itulah salah satu yang dianggap oleh masyarakat sebagai tempat yang keramat. Pada tajug kedua ini warga pernah melihat seorang anak laki-laki yang berpakaian layaknya prajurit pada masa kerajaan. Anak laki-laki tersebut merupakan anak kedua Golek Kencana. Warga menganggap hadirnya sosok prajurit ini diartikan bahwa warga harus waspada dan siap siaga setiap saat karena musibah dan bencana dapat datang kapan saja.
Tajug anakan ketiga berada di komplek pemakaman Desa Brani. Tajug ini disebut Tajug Wungu Jajar. Disebut demikian karena di depan pintu gerbang tajug tersebut tumbuh dengan subur dan besar dua pohon wungu yang berjajar. Dua pohon wungu tersebut di- percaya warga sebagai bentuk pengayom, bahwa warga selama ini masih dilindungi atau diayomi oleh keluarga Golek Kencana. Warga sering melihat sosok perempuan dengan kerudung merah di tajug ketiga.
Tajug anakan keempat berada di tengah persawahan Blok Maja. Warga Desa Brani masih menghormati usaha Golek Kencana mem- buka lahan usaha bagi warga desa pada masa lalu. Ladang dan per- sawahan dapat menghasilkan tanaman yang tumbuh subur berkat bantuan Golek Kencana yang gigih mencari cara agar air gunung dapat mengalir. Warga sering melihat sosok anak laki-laki, tetapi wujudnya tidak terlalu jelas. Mereka percaya bahwa anak itu adalah anak Golek Kencana yang tidak diketahui keberadaannya dan urutannya.
Di tajug anakan kelima hingga kesebelas, warga percaya bahwa sosok yang muncul adalah jelmaan dari anak-anak Golek Kencana. Warga sangat menjaga kesucian tajug-tajug tersebut. Selain karena perasaan takut, warga juga menganggap bahwa hal yang dilakukan tersebut adalah sebagai bentuk rasa hormat kepada Golek Kencana yang telah membawa Desa Brani ke kemakmuran.






Untuk merawat dan menjaga kedua belas tajug itu, Kepala Desa Brani menunjuk seorang warga laki-laki untuk menjadi juru kunci. Tugas utama Juru Kunci adalah merawat dan memberikan sesaji se- tiap malam Jumat Kliwon. Setiap bulan Maulud, Juru Kunci mecuci dan menjemur busana Golek Kencana di tajug induk. Juru kunci mendapat upah berupa tanah sawah garapan seluas 700m2. Apabila Juru Kunci meninggal dunia, Kepala Desa akan mengangkat lagi se- orang warga desa untuk menggantikan. Juru kunci yang sekarang merawat kedua belas tajug itu bernama Sugiyo. Ia merupakan juru kunci yang keempat puluh lima. Juru Kunci dipilih langsung oleh Kepala Desa dan Tetua Desa sebab tidak sembarang orang dapat menjadi juru kunci. Hanya orang terpilih yang sudah dilihat sikap dan kesabarannya oleh Kepala Desa dan Tetua Desa.
Kedua belas tajug itu semuanya menghadap ke selatan. Di se- kitar tajug induk ada pantangan orang tidak boleh membuat rumah menghadap ke selatan. Pantangan lain yang selama ini masih di- percaya oleh masyarakat asli Desa Brani adalah:
1. Masyarakat Desa Brani tidak boleh membuat rumah model balai malang seperti tajug. Yang dimaksud dengan model ru- mah yang demikian itu adalah bentuk rumah memanjang dengan pintu depan di bawah gunungan atap rumah. Suatu kali pernah ada salah seorang warga asli Desa Brani yang mem- buat rumah dengan model balai malang. Selang beberapa hari setelah rumah itu selesai dibangun, ia meninggal dunia. Ke- percayaan yang kemudian merebak adalah bahwa orang itu meninggal akibat membangun rumah menyamai model tajug. Akhirnya, membangun rumah menyerupai balai malang men- jadi pantangan bagi masyarakat Desa Brani.
2. MasyarakatDesaBranitidakbolehmemakaibusanayangme- nyamai busana Golek Kencana. Apabila mereka melanggar atau memakai busana itu, malapetaka akan segera datang. Biasanya mereka akan meninggal dunia atau menderita sakit yang berkepanjangan.
Pernah pada suatu hari warga Desa Brani bernama Jaya Sentana menggelar hajatan pernikahan anaknya dengan hiburan wa- yang orang. Salah satu pemain wayang orang itu memakai mekutha (mahkota). Seketika itu juga pemain wayang orang tersebut meninggal dunia di atas panggung. Kejadian ini be- tul-betul menggemparkan masyarakat Desa Brani dan sekaligus menambah kepercayaan mereka tentang pantangan ini. Mereka akhirnya tidak berani lagi menggunakan busana Go- lek Kencana.






Kisah lain yang juga terjadi akibat melanggar pantangan adalah peristiwa pada tahun 1988. Waktu itu di Balai Desa Brani di- adakan resepsi untuk memperingati hari Kemerdekaan Re- publik Indonesia. Pihak panitia desa pun menggelar panggung gembira untuk warganya. Acara diisi berbagai macam hiburan oleh warga Desa Brani. Salah satu pengisi acara itu adalah warga Desa Brani Grumbul Rawa Cangkring yang bernama Sawin. Ia tampil membawakan sebuah tari Baladewa. Dalam penam- pilannya, Sawin mengenakan mekutha (mahkota) karena me- rupakan kelengkapan busana Baladewa. Beberapa bulan ke- mudian Sawin mendapat petaka berupa kebutaan pada kedua matanya.
Beberapa kali kejadian atau malapetaka tersebut membuat warga masyarakat asli Desa Berani pantang membangun rumah dengan model balai malang. Mereka juga pantang mengenakan busana yang menyamai Golek Kencana. Kepercayaan itu mengakar sampai seka- rang.
Warga masyarakat asli Desa Brani yang bermukim di luar Desa Brani juga tidak berani membuat rumah model balai malang. Akan tetapi, para warga pendatang berani membuat rumah model balai malang dan memakai busana yang menyamai Golek Kencana. Me- reka merasa tidak memiliki hubungan dekat dengan Golek Kencana sehingga berani melanggar pantangan.
Warga masyarakat asli Desa Brani yang berkeinginan atau bercita- cita untuk mendapatkan sesuatu akan mendatangi juru kunci dan minta diantar untuk menyembah salah satu tajug yang dikehendaki sambil membawa sesaji yang diperlukan. Mereka yakin dengan me- lakukan sembahan ke tajug maka keinginan atau cita-cita mereka akan dikabulkan. Kebiasaan ini akhirnya membudaya di kalangan warga asli Desa Brani.
Setiap tajug memiliki tempat untuk membakar kemenyan. Tem- pat itu ada yang di dalam tajug, ada pula yang di luar tajug, dan disediakan karena setiap orang yang menyembah tajug pasti mem- bakar kemenyan. Kebiasaan ini berlangsung bertahun-tahun sehing- ga sisa pembakaran kemenyan itu semakin lama semakin menggu- nung. Hal ini mempengaruhi kebersihan lingkungan di Desa Brani. Dengan banyaknya sisa pembakaran kemenyan yang dilakukan oleh masyarakat Brani, pemandangan yang indah dan sehat semakin sulit didapat di Desa Brani.






Kini warga masyarakat Desa Brani yang mempunyai keinginan untuk menyembah dengan memberi sesaji ke tajug tidak harus di- lakukan pada malam Jumat Kliwon, tetapi bergantung pada kebu- tuhan mereka. Warga asli Desa Brani yang bermukim di luar Desa Brani dan mendapatkan rezeki berlebih, masih menyembah tajug, terutama tajug induk. Setiap melakukan persembahan mereka mem- bawa seperangkat busana Golek Kencana untuk diletakkan di dalam tajug induk. Biasanya mereka datang untuk meminta keselamatan jiwa dan harta bendanya.
Warga masyarakat Desa Brani biasanya meminta agar diberi ke- lancaran rezeki dan kemudahan dalam hidup. Sederhananya, mereka hanya ingin agar desa mereka aman dan terhindar dari malapetaka. Masyarakat Desa Brani dahulu memang belum mengenal agama dan kepercayaan lain sehingga mereka masih sangat memegang teguh kepercayaan animisme.
Namun seiring dengan perubahan zaman, dengan meningkatnya pendidikan, meluasnya hubungan masyarakat, banyaknya pengalam- an hidup di perantauan, dan meningkatnya pemahaman terhadap ajaran agama Islam terutama oleh generasi muda, masyarakat Brani selanjutnya dapat dikelompokan menjadi tiga dalam kaitannya de- ngan kepercayaan masyarakat terdahulu. Kelompok tersebut yaitu (1) kelompok orang yang masih memegang teguh kepercayaan itu, (2) kelompok orang yang sudah mulai taat pada agama Islam, tetapi masih belum dapat sepenuhnya meninggalkan kepercayaan itu, dan (3) kelompok yang sudah sepenuhnya meninggalkan kepercayaan itu.
Kelompok yang memiliki jumlah paling sedikit adalah kelompok ketiga. Mereka adalah masyarakat yang mendapat pengaruh dari masyarakat pendatang yang jumlahnya juga masih sedikit dibanding masyarakat asli Desa Brani.
Kebanyakan masyarakat asli dan keturunan Desa Brani masih tidak mau meninggalkan warisan kepercayaan dari nenek moyangnya. Menurut mereka, penghormatan terhadap leluhur sangatlah penting sebab bagaimanapun juga masyarakat tidak akan dapat berkembang seperti sekarang tanpa bantuan dari leluhur. Setelah agama Islam dan agama lainnya masuk ke Desa Brani, masyarakat akhirnya me- mahami adanya Tuhan. Warga yang kini masih melakukan ritual persembahan di tajug semata-mata bernuat untuk menghormati leluhur. Itu berbeda dengan zaman dahulu, yang mana masyarakat melakukan ritual persembahan dengan harapan agar keinginannya dapat terkabul.






Sedangkan sebagian dari mereka yang masih sangat percaya de- ngan ritual ini meyakini kebenaran mitos Golek Kencana dan seja- rahnya, bukan semata-mata menghormati, tetapi sekaligus mem- berikan pengabdian dengan ritual tersebut. Masyarakat ini biasanya merupakan masyarakat asli dan generasi tua. Mereka memiliki rasa haru dan utang budi kepada Golek Kencana sehingga mereka akan sepenuhnya mengabdi kepada Golek Kencana.
Sebagai bagian masyarakat Jawa, warga Desa Brani memberikan sesaji sebagai salah satu tradisi, tanpa mengurangi rasa keagamaan mereka. Sebagian masyarakat masih mematuhi pantangan-pantangan yang ada karena tidak ingin suatu hal buruk terjadi. Sebagian lain tidak sepenuhnya percaya sehingga berani melanggarnya dengan se- belumnya memohon izin terlebih dahulu.
Pada dasarnya manusia lahir di dalam sebuah kebudayaan. Ke- budayaan selalu mengikuti perubahan pola pikir dan perilaku ma- nusia. Manusia kini akan menganggap bahwa kepercayaan nenek moyang tidak logis. Akan tetapi, sudah sewajarnya jika menghormati kepercayaan di suatu tempat sebagai bagian dari sebuah kebudayaan tanpa harus mengikuti kepercayaan tersebut. Ibarat kata di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.









Selesai
