

Kabupaten Cilacap
Kabupaten Cilacap



Cerita Rakyat
Cerita Rakyat

“Santri Undig Membunuh Burung Garuda Beri dengan Pusaka Tilam Upih”
“Santri Undig Membunuh Burung Garuda Beri dengan Pusaka Tilam Upih”
Diceritakan, seorang pemuda yang memiliki kesaktian luar biasa sedang melakukan pengembaraan. Perjalanannya te- lah sampai di sebuah daerah yang ditimpa musibah. Musi-
bah itu adalah munculnya wabah penyakit yang mematikan. Sudah cukup banyak warga yang meninggal akibat wabah penyakit ini. Tidak ada satu orang pun yang mampu mencari dan menangkal wabah yang melanda desa tersebut.
“Kok aneh... . Mengapa desa ini seperti desa yang mati? Ada apa dengan desa ini,” kata sang pemuda dalam hati

Sang pemuda kemudian melanjutkan perjalanannya hingga sampai di pusat desa. Keadaan tidak berbeda seperti pada saat dia memasuki desa ini. Semuanya hening, sepi, dan tidak ada tanda-tanda aktivitas penduduk setempat. Sang pemuda kemudian berkeliling desa. Menjelang senja sang pemuda bertemu dengan seorang nenek tua renta.
“Siapa tahu nenek itu dapat memberikan keterangan mengapa desa ini seperti ini.”
Dengan ramah sang pemuda kemudian menyapa sang nenek, “Asalamualaikum, Nek.”
“Wa'alaikumsalam....”
“Mengapa desa ini sangat sepi, Nek, ke mana para penghuninya?” “Oh... kamu siapa dan hendak mencari siapa?”
“Nama saya Santri Undig, Nek, tempat saya jauh dari desa ini. Saya sedang menuju ke Kadipaten Limbangan, Nek. Kebetulan saya lewat desa ini.”
“Alangkah jauhnya kamu berjalan. Ini sudah senja. Alangkah baiknya kalau kamu mau singgah ke gubukku. Nanti aku ceritakan asal muasal mengapa desa ini menjadi seperti ini keadaannya.”
Santri Undig menyetujui tawaran sang nenek. Kedua orang itu kemudian berjalan menuju ke arah luar desa. Beberapa saat kemudian sampailah mereka di sebuah gubuk kecil, tapi sangat asri. Betapa hebatnya sang nenek menata gubuknya degan berbagai tanaman yang menghiasi halaman rumahnya. Di depan rumah sang nenek ada sebuah gentong beserta siwurnya. Dengan tertatih sang nenek menuju ke gentong itu. Ia tuangkan air dan kemudian dia serahkan ke Santri Undig.
“Minumlah dulu, kamu kelihatannya sangat kelelahan.”
“Terima kasih, Nek.”
Tanpa keraguan Santri Undig menerima uluran sang nenek. Diteguknya air itu sehingga kerongkongannya terasa sejuk oleh di- nginnya air itu. Tubuhnya terasa segar setelah beberapa saat dia me- nahan dahaga.
Ayo... silakan masuk, Santri Undig,” ajak sang nenek.
“Baik, Nek, terima kasih,” Santri Undig mengikuti langkah kaki sang nenek memasuki rumah. Tanpa menunggu dipersilakan oleh tuan rumah, Santri Undig meletakkan pantatnya di sebuah kursi bambu panjang yang ada di sudut rumah. Perjalanan yang sangat jauh membuat ia begitu kelelahan.






Tanpa disadarinya, Santri Undig tertidur di kursi bambu itu. Sang nenek hanya tersenyum melihat hal tersebut. Sang nenek akhirnya menuju ke dapur dan memasak untuk menjamu tamunya.
Beberapa saat kemudian, Santri Undig terbangun dari tidurnya. Dia mendapati beberapa makanan telah tersedia di meja makan.
“Ayo... silakan dinikmati hidangan ini. Jangan malu-malu. Maaf hanya ini yang dapat saya hidangkan untuk makan malam kita. Harap maklum semenjak dilanda wabah penyakit yang mematikan ini, makanan begitu sulit didapatkan di desa ini.”
“Baik, Nek, terima kasih telah menyajikan makanan yang sangat menggoda selera ini.”
Dengan begitu lahap Santri Undig menyantap hidangan yang disediakan sang nenek. Setelah selesai makan, Santri Undig bertanya kepada nenek.
“Tadi nenek mengatakan jika desa ini sedang dilanda musibah, mengapa begitu, Nek?”
“Ya, desa ini dilanda wabah penyakit yang tidak satu orang pun dapat mengobati penyakit aneh ini. Sudah puluhan orang meninggal dunia akibat penyakit ini. Masyarakat yang belum terkena penyakit sudah mengungsi ke desa sebelah. Itulah sebabnya mengapa desa ini menjadi sangat sepi.”
“Jika nenek tidak keberatan, dapatkah nenek menceritakan asal mula mengapa desa ini terkena wabah penyakit?”
“Ini berasal dari kesombongan dan sifat kikir masyarakat desa ini. Beberapa bulan yang lalu muncul seorang pengembara dengan baju yang sangat kotor dan bau. Sekujur tubuhnya penuh dengan koreng dan nanah. Orang itu hanya meminta segelas air kepada masyarakat. Namun, bukan air yang didapatkannya, melainkan cacian dan umpatan. Hingga sampailah orang itu di rumah ini. Saya sangat iba dengan keadaan orang misterius itu. Saya hidangkan makanan yang saya punya dan saya bekali dia dengan makanan dan minuman secukupnya.”
“Lalu apa yang terjadi Nek?”
“Orang itu kembali ke desa itu hanya untuk menumpang istirahat di bawah pohon besar yang kita lewati tadi. Penduduk mengetahuinya, ramai-ramai mereka mengusirnya dengan cacian dan lemparan batu. Dengan tertatih orang itu pergi meninggalkan desa. Namun, sebelum pergi dia mengucapkan sesuatu yang pada akhirnya desa itu terkena wabah penyakit yang sangat aneh ini.”






“Oh... begitu ceritanya. Semua ini berawal dari tindakan semena- mena penduduk desa itu sendiri terhadap orang yang tidak berdaya.”
“Ya... begitulah. Sekarang di desa itu tinggal beberapa orang yang masih menempati rumahnya. Kondisinya sangat memrihatinkan. Tinggal menunggu malaikat maut menjemput jiwa mereka.”
Santri Undig merasa prihatin mendengar tuturan sang nenek. Bagaimanapun juga penduduk desa adalah manusia yang melakukan kekhilafan karena kemakmuran yang dilimpahkan oleh Tuhan. Namun, tidak semestinya mereka dihukum seperti ini. Bukankah sesama manusia harus dapat saling memaafkan atas tindakan dan perilaku yang khilaf?
Setelah suasana sepi oleh senyapnya sang malam dan nenek tertidur, Santri Undig berdoa. Dia meminta petunjuk dari Sang Hyang Khalik agar diberi petunjuk untuk menyembuhkan penduduk desa yang tersisa. Santri Undig mendapatkan petunjuk bahwa obat yang dapat menyembuhkan penyakit penduduk desa adalah air yang ada di dalam gentong di depan rumah sang nenek. Cukup diminumkan seteguk maka penduduk desa akan terlepas dari kutukan. Tetapi syaratnya adalah keikhlasan dari sang nenek untuk memberikan air itu kepada penduduk. Santri Undig kemudian membangunkan sang nenek.
“Nek, maaf Nek. Bangunlah! Marilah ikut dengan saya mendatangi rumah-rumah orang yang sakit. Masing-masing dari kita membawa gayung yang berisi air yang ada di gentong depan rumah, lalu air itu akan kita minumkan pada mereka yang sakit, dengan keikhlasan yang ada dalam diri Nenek, mudah-mudahan Allah memberikan pertolongan dan kesembuhan pada mereka.”
“Ada apa, Nak? Nenek tidak mengerti dengan ucapanmu tadi.”.
“Begini Nek, saya mendapatkan petunjuk bahwa obat yang dapat menyembuhkan wabah penyakit desa itu adalah air yang ada di gentong depan rumah nenek,” sang nenek masih terlihat kebi- ngungan dengan apa yang diucapkan oleh Santri Undig.
“Ayolah Nek, nanti saja Nenek bertanya lagi. Kiat harus bergegas mendatangi rumah warga yang sakit. Nenek mau kan?”
“Ya... ya... ya... baiklah. Aku menurut saja. Mudah-mudahan Tu- han menolong mereka.”






Singkat cerita, orang-orang sakit yang meminum air tersebut, dapat tertolong jiwanya. Dalam waktu dua hari penduduk desa itu dapat tertolong. Semua mengucapkan terima kasih kepada Nenek dan Santri Undig. Karena peristiwa itu, desa itu kemudian diberi nama Desa Kahuripan (desa yang dihidupkan).
“Sebelum kamu melanjutkan perjalananmu menuju Kadipten Limbangan, aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu, Santri Undig.”
Setelah keduanya sampai di pintu depan rumah sang nenek.
“Apa yang hendak Nenek tanyakan?” jawab Santri Undig.
“Akuherandarimanakamutahuobatyangdapatmenyembuhkan penduduk desa ini dan mengapa obat itu justru sangat dekat dengan kami, yaitu air gentong yang ada di depan rumahku?”
“Oh... semuanya terjadi karena kehendak Illahi, Nek. Dan, mengapa air yang ada di rumah nenek? Inilah rahasia Yang Maha Agung, Nek. Kebaikkan hati, ketulusan, dan keikhlasan Neneklah yang menyebabkan air gentong di rumah nenek dipilih menjadi perantara kesembuhan bagi penduduk desa. Baiklah Nek, saya mohon diri dulu. Saya ingin melanjutkan perjalanan menuju ke Kadipaten Limbangan”
Setelah berpamitan kepada sang nenek, Santri Undig melanjutkan perjalanannya menuju ke Kadipaten Limbangan. Setelah berhari- hari melakukan perjalanan, sampailah Santri Undig ke Kadipaten Limbangan. Daerah ini sangat makmur dan sejahtera. Wilayah ini dipimpin oleh seorang adipati yang memiliki kepekaan dan tanggung jawab yang besar terhadap kesejahteraan rakyat. Adipati tersebut bernama Adipati Blagong. Salah satu kegemaran sang Adipati adalah memelihara ayam jantan untuk sewaktu-waktu diadu dengan ayam jantan yang lainnya.
Suasana Kadipaten Limbangan sangat asri. Taman kadipaten ditata dengan sangat indah yang menunjukkan bahwa betapa orang yang mengurus taman memiliki keahlian dan nilai estetika yang s tertawa angat tinggi. Di pendopo kadipaten duduk sang Adipati Blagong di singgasananya. Di samping dan depannya duduk para penggawa kadipaten. Duduk bersimpuh di tengah-tengah mereka seorang pemuda yang sangat tampan. Pemuda itu bernama Santri Undig. Maksud kedatangan pemuda itu di kadipaten adalah ingin mengabdikan dirinya kepada sang Adipati.
“Wahai Pemuda, siapakah namamu dan apa yang membuatmu datang kemari menghadapku?” tanya Adipati Blagong.






“Terimalah salam hamba, Tuan. Hamba bernama Santri Undig. Maksud hamba datang ke tempat ini adalah ingin mengabdi pada Paduka, Tuan Adipati. Apakah tuan berkenan mengabulkan ke- inginan hamba?” ucap Santri Undig sambil menghaturkan sembah- nya kepada sang Adipati.
“Ha... ha... ha..., jauh-jauh engkau datang kemari, hanya ingin mengabdi padaku? Keahlian apa yang engkau miliki sehingga kamu memiliki keberanian datang ke tempatku ini?”
“Hamba hanyalah seorang rakyat biasa yang tidak memiliki keahlian apa-apa selain masalah ternak, Tuanku,” jawab Santri Undig sambil menghaturkan sembah.
“Ternak apa yang paling kamu sukai?”
“Hamba senang dengan ayam, Tuanku Adipati, terutama ayam pejantan untuk aduan.”
“Hmm, kebetulan aku banyak memiliki ayam pejantan yang suatu saat aku adu dengan ayam pejantan lainnya. Karena itu, ke- ahlianmu sangat aku butuhkan. Baiklah, tinggallah di Kadipatenku ini, kemudian rawatlah ayam jantan peliharaanku setiap hari dengan baik.”
Parasnya yang tampan dan tutur katanya yang sopan, membuat Adipati Blagong dengan senang hati menerima Santri Undig sebagai pembantunya. Ia mendapat pekerjaan khusus, yaitu merawat ayam jantan milik Adipati Blagong. Adipati Blagong sangat gembira, ketika ayam-ayam jantan aduannya yang dirawat oleh Santri Undig selalu menang saat diadu. Oleh karena itu, Adipati Blagong sangat menyayangi pemuda itu.
Pagi yang cerah dan udara yang sejuk menerpa Kadipaten Lim- bangan. Sinar matahari yang indah membuat suasana Kadipaten Limbangan menjadi semakin indah dan hangat. Sang Adipati duduk di singgasananya yang sangat indah dan menawan. Permaisuri du- duk di samping sebelah kanan berdampingan dengan beberapa abdi dalem yang bersimpuh di bawah singgasana sang permaisuri. Sang Adipati mengutus panglima perangnya untuk memanggil Santri Undig menghadapnya. Adipati Blagong hendak memberitahukan tentang adanya sayembara di Kadipaten Donan.
Tidak berapa lama muncul Santri Undig dari samping istana sebelah kiri. Dengan tergopoh-gopoh Santri Undig berjalan meng- hampiri sang Adipati. Sambil menghaturkan sembah Santri Undig berujar, “Terimalah salam hamba, Tuan. Adipati, ada titah apakah yang membuat Tuanku mengutus Panglima untuk memanggil hamba pagi-pagi begini, Tuan?”






“Kemarilah, Santri Undig! Mendekatlah padaku!”
Santri Undig lalu bergeser posisinya pada tempat yang lebih dekat dengan sang Adipati.
“Terdengar kabar bahwa Kadipaten Donan sedang dilanda mu- sibah. Tiba-tiba muncul seekor burung raksasa yang meresahkan warga Donan karena burung itu memangsa ternak dan dikabarkan bahwa ada beberapa anak hilang karena dibawa oleh burung tersebut. Adipati Donan sudah mengutus beberapa perwira dan prajuritnya untuk menangkap burung tersebut, tapi burung itu tidak pernah berhasil ditangkap. Bahkan, beberapa prajurit menjadi korban dalam menjalankan tugas itu.”
“Lalu, apa yang harus hamba lakukan, Tuanku Adipati?”
“Untuk mengatasi burung raksasa itu, Adipati Donan sedang mengadakan sebuah sayembara. Barang siapa yang dapat membunuh burung Garuda Beri, jika dia laki-laki akan dijodohkan dengan putrinya yang bernama Dewi Sari Katon, dan jika yang membunuh garuda seorang perempuan, akan diangkat menjadi saudara. Hmmm. Apakah kau tertarik ingin mencobanya? Aku rasa, kau mampu me- lakukannya.”
“Mengapa harus hamba, Tuanku? Bukankah di Kadipaten ini banyak yang memiliki ilmu kanuragan yang sangat luar biasa, bahkan keahlian mereka sudah terkenal di luar wilayah Kadipaten ini.”
“Aku tahu, Santri Undig. Tapi keyakinanku mengatakan bahwa kamu bukanlah orang biasa. Keyakinanku itu semakin kuat ketika telik sandi kadipaten ini melaporkan bahwa kamulah yang berhasil melepaskan desa yang terkena musibah penyakit misterius. Selain itu, kau juga memiliki ilmu kanuragan yang sangat hebat, bahkan tidak ada satu pun panglimaku yang mampu menandinginya. Aku menjadi semakin yakin bahwa kamulah orang yang mampu melepaskan Kadipaten Donan dari musibah ini. Kerajaan Donan sudah lama bersahabat dengan kadipaten kita. Adipati Donan adalah sahabatku yang beberapa kali memberikan bantuan pada saat Kadipaten Limbangan ditimpa musibah. Inilah saat yang tepat bagiku dan rakyatku membalas kebaikan Adipati Donan.”
“Jika memang Adipati berkehendak demikian, saya akan men- cobanya. Namun, tujuan utama hamba mengikuti sayembara ini adalah bukan untuk mendapatkan sang putri. Hamba hanya ingin mencoba menyelamatkan rakyat Donan dari ganasnya Garuda Beri.”
“Alangkah mulianya hatimu, Santri Undig. Pergilah! Aku doakan semoga kau selalu dilindungi oleh Yang Mahakuasa.”






Dengan restu Adipati Blagong, Santri Undig menuju ke Kadipaten Donan yang menurut cerita sudah berbulan-bulan lamanya men- dapat gangguan seekor burung raksasa pemakan ternak. Bahkan, dikabarkan pernah terjadi dua orang anak kecil hilang tak tau rimbanya. Penduduk Kadipaten Donan menjadi resah karenanya. Mereka tak akan membiarkan anak-anaknya keluar rumah.
Sesampainya di Kadipaten Donan, Santri Undig segera menemui adipatinya yang bernama Adipati Ranggasengara.
“Siapa kamu, Ki Sanak? Dari mana asalmu dan memiliki maksud apa datang menghadapku?”
“Hamba adalah Santri Undig, abdi dalem Adipati Limbangan. Adipati Blagong mengutus hamba untuk memerangi burung raksasa yang membuat resah rakyat Donan.”
“Och... ya... ya... apa kamu sanggup untuk memusnahkan burung raksasa itu? Perlu kau ketahui, aku sudah mengutus beberapa panglima dan prajuritku untuk menangkap burung itu. Namun, mereka selalu kembali dengan hasil yang tidak membuat rakyat Donan tenteram. Bahkan, beberapa prajuritku menjadi korban amukan burung buas itu.”
“Hamba akan mencobanya, Tuanku. Jika kelak hamba berhasil menangkap ataupun memusnahkan burung raksasa itu, bukan karena hamba orang hebat, melainkan karena kemurahan Sang Khalik yang membuat urusan hamba dengan burung itu menjadi mudah dan lancar. Jika kelak hamba gagal, itu karena memang saya manusia yang bodoh dan tidak berguna. Oleh karena itu, izinkan saya mengemban tugas dari Adipati Blagong, Tuanku.”
“Baiklah kalau itu maumu. Aku yakin, sahabatku Blagong tidak akan mengutus orang yang tidak memiliki keahlian apa-apa untuk membantu Donan. Untuk itu, apa yang kamu butuhkan agar tugasmu berjalan dengan lancar?”
“Hamba ingin Tuanku membuatkan sebuah lubang besar di tengah-tengah lapangan terbuka, dalamnya kira-kira setinggi leher orang dewasa. Lalu hamba juga meminta untuk dibuatkan pakaian serba putih. Hamba juga meminta izin kepada Adipati untuk meminjamkan cis, pusaka Kerajaan yang ada di Donan ini.”
“Baiklah Santri Undig, aku akan penuhi semua permintaanmu. Namun, untuk masalah pusaka Kerajaan, aku hanya dapat memin- jamkannya. Setelah urusan dengan burung raksasa itu selesai, aku minta kamu mengembalikan pusaka itu kepadaku.”
“Baiklah, Yang Mulia. Saya berjanji akan mengembalikan pusaka itu setelah saya berhasil menangkap burung raksasa itu.” Adipati Donan lalu mengutus beberapa abdinya untuk memenuhi semua permintaan Santri Undig.






Pada suatu hari, dengan disaksikan oleh ratusan pasang mata, Santri Undig berjalan tegap dan mantap menuju tengah-tengah lapangan. Bagaikan seorang pertapa yang mengenakan pakaian serba putih, Santri Undig masuk ke dalam lubang besar yang disediakan. Sambil mengacungkan pusaka ke udara, Santri Undig berteriak.
“Hai, Garuda Beri! Rendahkan terbangmu dan lawan aku, Santri Undig! Aku sengaja datang ke sini untuk menghentikan aksi jahatmu terhadap rakyat Donan. Ayo! Lawan aku sekarang juga. Garuda Beri datanglah kemari lawan aku. Garuda Beriii! Cepat rendahkan terbangmu dan segera bertempur denganku. Aku Santri Undig, la- wanmu yang sesungguhnya.”
Begitu mendengar suara nyaring yang berulang-ulang, burung raksasa itu terbang kian merendah. Dengan mata yang amat buas, burung itu terbang mengelilingi tempat Santri Undig berada dan mulai melakukan serangan. Pertarungan sengit antara Santri Undig dan burung raksasa tidak dapat terhindarkan lagi. Beberapa kali burung raksasanya membuka cakar-cakar di kakinya untuk me- nangkap Santri Undig. Akan tetapi, serangan itu selalu gagal. Santri Undig berhasil mengelak beberapa kali. Kembali burung raksasa itu menukik ke bawah. Kali ini tubuh Santri Undig yang menjadi sasaran. Paruh burung raksasa itu terlihat menyilaukan pada saat terkena sinar matahari. Itu menunjukkan bahwa paruh burung itu tidak kalah tajamnya dengan pedang yang dihunus dari sarungnya. Santri Undig dengan lincahnya, berkali-kali berkelit menghindari sambaran Garuda itu. Dalam keadaan yang demikian itu burung garuda terlihat amat marah dan lebih meningkatkan serangannya. Akhirnya, ketika burung itu berusaha menyambar, muncul kesempatan atau peluang bagi Santri Undig untuk membalas serangan burung itu. Kesempatan tersebut tidak disia-siakan oleh Santri Undig. Secepat kilat Santri Undig cepat-cepat menusukkan cis pusakanya dan tepat mengenai perut burung garuda itu.
Dengan suara parau mengerikan, burung garuda itu berteriak kesakitan dan menjauhi lapangan. Namun, tak lama kemudian garuda itu jatuh menggelepar di tanah. Orang-orang yang menyaksikannya, bersorak gembira. Adipati Donan dan Adipati Limbangan pun me- rasa lega. Santri Undig telah berhasil membunuh Burung Garuda Beri yang kerap meresahkan masyarakat Donan.









Selesai
