

Kabupaten Cilacap
Kabupaten Cilacap



Cerita Rakyat
Cerita Rakyat

“Sepatnunggal”
“Sepatnunggal”
Istana Candi Kuning, Gunung Padang adalah tempat tinggal Ki Adeg Ciluhur, Adipati Majenang sekaligus putra mahkota Kerajaan Dayeuhluhur yang dipimpin oleh Prabu Gagak Ngam-
par. Prabu Gagak Ngampar merupakan saudara Prabu Niskala Wastu Kencana, Raja Galuh Wiwitan, yang wilayahnya membentang dari Sungai Pamanukan di barat hingga Gunung Ungaran di sebelah timur.
Dengan mata nanar berkilat perlambang semangat yang berkobar, seorang pemuda berseru, “Aku Panembahan Dalem Reksapati! Akan kupimpin prajuritku meluaskan wilayah atas perintah Panembahan Senapati! Ini untuk kejayaan Kerajaan Mataram di masa yang akan datang!”

Secepat kilat pemuda itu menghilang di bawah langit kelam Kadipaten Majenang. Langkah kaki membawanya ke arah matahari terbit, menembus hutan dalam kegelapan, menyibak semak dan pe- pohonan. Panembahan Dalem Reksapati menuju Leuweung Wates, hutan rimba di tengah Pegunungan Pembarisan yang belum pernah terjamah tangan manusia. Semburat warna jingga menyala seiring kicauan burung nan memesona berpadu dengan gemericik air seakan berirama.
Sayup-sayup terdengar senandung merdu suara seorang wanita. Tergerak hati Reksapati mencoba mendekati asal suara. Menyibak semak alang-alang. Terperanjat Reksapati ketika matanya melihat wajah rupawan nan menawan. Si gadis pun tidak kalah terkejutya melihat sosok pemuda muncul secara tiba-tiba di hadapannya.
“Duhai putri nan cantik jelita, engkaukah bidadari yang turun dari kayangan?” sapa Reksapati.
“Siapa Ki Sanak?”, tanya si gadis jelita itu.
Si gadis mundur teratur karena merasa tidak mengenal pemuda di hadapannya itu. Sejurus kemudian si gadis berlari lintang-pukang menyusuri tepian sungai. Sementara itu, Reksapati yang rupanya terlanjur jatuh hati diam-diam mengikuti arah laju si gadis.
Gadis yang bernama Ratna Kencana itu masuk ke dalam sebuah gubuk kecil di tepi hutan. Seorang wanita tua menyambutnya dengan pelukan dan usapan lembut di rambut sang putri yang dicintainya. Reksapati masih mengintai di balik semak-semak. Kemudian, ia mencoba mendekati gubuk agar dapat melihat dengan jelas apa yang ada di dalamnya. Tampak seorang lelaki tua dengan mata terpejam duduk terlentang di dipan bambu panjang. Jemarinya memegang cerutu hitam. Asap putih mengepul dari mulutnya membentuk bulatan-bulatan yang berputar-putar membumbung menyebar lalu menghilang. Tiba-tiba Reksapati dikejutkan oleh suara dan rasa sakit. Ia mengaduh, sebutir kerikil mengenai kepalanya.
“Hai, Anak Muda. Mengapa kau mengintip dari situ. Ayo, keluar! Jangan jadi pengecut!” bentak lelaki tua tersebut. Rupanya lelaki tua di dalam gubuk kecil itu bukanlah orang biasa. Ia tidak hanya menyadari kedatangan seorang pemuda di gubuknya, tetap juga telah membuat Reksapati tidak dapat berlama-lama bersembunyi. Reksapati pun akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya. Ia berjalan mendekati lelaki tua sambil mengusap-usap kepalanya.






“Maaf, Pak Tua. Saya Reksapati. Saya membuntuti putri Anda yang cantik jelita. Sepertinya saya telah jatuh hati kepada putri Bapak. Saya ingin sekali mempersunting putri Bapak,” terang Reksapati ke- mudian.
“Enak saja engkau menyebutku Pak Tua, Anak Muda!” lelaki itu membuka mata, beranjak dari dipannya, menatap tajam mata Rek- sapati. Reksapati bergeming, balas menatap tajam sang lelaki tua. Menyelami tatapan tajam Reksapati, lelaki tua itu melihat kilatan api, pertanda bahwa Reksapati bukanlah manusia biasa, melainkan pemuda dengan kesaktian luar biasa. Dengan berat hati lelaki tua itu berkata.
“Aku Wangsakarta, Mata air Padontilu dan Leuweung Wates ini dalam penjagaanku. Ini adalah Dusun Larangan. Hanya aku, istri- ku, dan putriku yang menempati dusun ini. Tidak seorang pun be- rani memasuki dusun ini kecuali kami. Termasuk kau, Reksapati!” sentaknya tegas.
“Sebelum terjadi apa-apa denganmu, pergilah! Keluarlah dari Dusun Larangan ini!” tambahnya lagi.
“Tidak semudah itu, Ki Wangsakarta! Istana Candi Kuning Gu- nung Padang di Kadipaten Majenang telah luluh lantak. Aku yang menghancurkannya! Kalau hanya menguasai sebuah dusun, apa su- sahnya? Begitu juga untuk mempersunting putri cantikmu. Dengan kesaktian yang aku miliki, aku dapat melakukan apa pun yang aku mau!” timpal Reksapati dengan pongahnya. Ki Wangsakarta terdiam sejenak. Sejurus kemudia, ia memanggil putrinya, Ratna Kencana.
“Wahai, Anakku, Ratna Kencana, kemarilah cah ayu!” kata Ki Wangsakarta.
“Katakanlah kepada Ayah, bagaimana pendapatmu tentang pe- muda ini?” lanjutnya.
Setelah terdiam beberapa saat, Ratna Kencana menjawab per- tanyaan ayahandanya, “Ayahanda yang bijaksana. Aku kagum dengan keberaniannya. Tidak ada salahnya ayah menguji kesaktiannya. Untuk mengetahui apakah ia dapat menjaga aku, ayah, dan ibu. Atau mungkin ia dapat memberikan sesuatu untuk Dusun Larangan, Mata Air Padontilu dan Leuweung Wates. Ratna Kencana serahkan keputusan pada Ayahanda,” jawab Ratna Kencana.
Baiklah, Reksapati. Akan kuizinkan kau menikahi putriku de- ngan dua syarat. Pertama kau harus membuka hutan ini menjadi perkampungan sehingga dusun ini tidak lagi menjadi Dusun La- rangan!” kata Ki Wangsakarta lagi.






“Kedua, apa pun permintaan Ratna Kencana padamu harus kau- turuti meskipun berat kaulakukan. Jika melanggarnya, apa pun yang kau miliki termasuk kesaktianmu harus kau berikan kepadaku. Sang- gupkah kau menerima tantanganku?” seru Ki Wangsakarta lagi.
“Itu bukanlah hal yang sulit bagiku, Ki! Aku yakin sanggup me- laksanakan titah Aki!” jawab Reksapati mantap.
Suara petir menggelegar seiring dengan sumpah yang diucapkan Panembahan Dalem Reksapati. Ia mulai melaksanakan tugas per- tamanya. Karena memiliki kesaktian yang luar biasa, ia berhasil mengubah hutan belantara menjadi sebuah kampung yang diberi nama Babakan yang bermakna ‘tahap-tahap’. Semakin lama, semakin banyak orang berdatangan untuk menetap di perkampungan ter- sebut. Seiring berjalannya waktu, daerah tersebut menjadi luas de- ngan para penduduk yang banyak. Panembahan Dalem Reksapati pun menikah dengan Ratna Kencana. Bahkan, Ratna Kencana tidak lama kemudian mengandung putra mereka yang pertama. Sangat besar kasih sayang Reksapati kepada istrinya. Apa pun yang diminta pasti akan diturutinya.
Suatu hari, Ratna Kencana bermimpi. Dalam mimpinya ia men- dengar suara gaib yang terus terngiang-ngiang dalam benaknya,
“Ratna Kencana, engkau, ayahmu, ibumu, dan jabang bayi dalam kandunganmu ada dalam kuasaku. Untuk keselamatan kalian, min- talah pada suamimu untuk menangkap seekor ikan di Sungai Ci- bengkeng. Bakarlah ikan itu untuk dia makan. Dan, kamu harus menyaksikan suamimu memakan daging ikan itu hingga bersisa kepala dan duri saja!” Begitu terbangun, dengan wajah kebingungan Ratna memanggil suaminya.
“Kakanda, Kakanda, Kakanda, di mana engkau? Kakanda, di mana engkau? Kakanda, di mana engkau?” Berulang kali memanggil, tidak ada sahutan. Ratna keluar dari pondoknya, memandang seke- liling berharap menemukan suaminya segera. Sadar suaminya tidak ada di sana, ia berjalan menyusuri perkampungan. Tidak sia-sia usahanya, ia pun menemukan suaminya sedang menebang kayu di pinggir hutan. Dengan senyum mengembang, ia hampiri Reksapati. Mendengar suara langkah kaki, Reksapati berhenti dari pekerjaannya. Ia terkejut mendapati Ratna berdiri di hadapannya. Tangan kanannya menggenggam sebuah pancing yang pada mata kailnya telah ter- tancap seekor cacing yang sedang menggeliat, sedangkan tangan kiri- nya tidak berhenti mengelus perutnya.






“Adinda, Ratna, adakah sesuatu yang penting hingga kau men- cariku sampai ke sini?” ujarnya heran.
“Ya, Kanda! Tangkaplah seekor ikan di Sungai Cibengkeng. Aku akan menemanimu, Kanda. Akan aku bakar ikan itu untuk kau- makan. Sisakan kepala dan durinya untukku.”
“Tapi, sejak tinggal di sini tidak pernah aku mendapati seekor ikan pun.”
“Ini keinginan si jabang bayi, Kanda!” Ratna merajuk sambil mengelus perutnya.
“Dan, ingatlah sumpah Kanda yang kedua pada ayahanda!” Ratna menambahkan.
Reksapati menyerah ketika diingatkan dengan sumpah. Ia pun menggandeng Ratna menuju tepi Sungai Cibengkeng. Mata kail ia lempar ke tengah sungai. Namun, tidak ada tanda-tanda seekor ikan pun menyambarnya. Berjam-jam mereka menanti. Karena kelelahan, Ratna Kencana tertidur di atas batu di samping suaminya. Hampir menyerah, Reksapati menggunakan kesaktiannya untuk menerawang apakah ada ikan.
“Kena, kau!” seru Reksapati kegirangan.
Dari kejauhan ibunda Ratna Kencana yang hendak turun ke sungai untuk mencuci baju terkejut mendapati Reksapati didampingi Ratna Kencana tengah memegangi pancing yang ada ikan berukuran besar. Wajah sang ibu berubah menjadi pucat pasi. Ia menjatuhkan bakul berisi baju kotor yang hendak dicuci. Dalam suasana yang masih terang benderang, ia dikejutkan oleh suara petir yang menggelegar. Matanya berkaca-kaca, bibirnya bergetar bergumam. “Duh, Gusti, lindungilah desa ini!” gumamnya dalam isak.
Tergopoh-gopoh sang ibu pulang ke gubuknya. Ia berlari meng- hambur ke suaminya yang masih tertidur di dipan panjang. Suara gaduh dari langkah Nyi Wangsakarta membangunkan suaminya.
“Aki... Aki! Gawat, Kii... ikan... ikan... ikann...!”
“Ada apa, Nyi? Ada apa dengan ikan?” tanya Ki Wangsakarta ke- bingungan.
“Ikan di Sungai Cibengkeng, Ki. Ratna Kencana dan Reksapati memancing ikan itu. Entah apa yang akan mereka lakukan pada ikan itu, Aki...!” Wajah Nyi Wangsakarta tampak sangat gusar dan cemas.
Ki Wangsakarta terperanjat. Ia meloncat kuat dari dipan panjang kesayangannya. Ia berlari secepat kilat mencari putri semata wayang- nya dan menantunya. Setibanya di tepi Sungai Cibengkeng ia ter- henyak melihat putri dan menantunya duduk di atas batu besar dan menyantap ikan sepat berukuran besar yang telah dibakar di hadapan mereka. Melihat kedatangan Ki Wangsakarta, Ratna Ken- cana berteriak.






Ayah, Ayah, Ayah! Kata Ayah tidak ada ikan di sungai ini. Lihat Ayah! Kanda Reksapati dapat menangkap ikan yang berukuran besar. Ikan sepat yang lincah, Ayah. Kami telah memakannya. Sayang, Ayah datang terlambat. Jadi, tidak dapat mencicipi ikan yang lezat ini, Ayah,” cerocos Ratna Kencana pada sang ayah yang masih tercenung melihat kejadian di hadapannya tersebut.
Ki Wangsakarta tidak menghiraukan perkataan Ratna Kencana. Ia berjalan pelan menghampiri Reksapati yang masih menikmati sisa-sisa ikan sepat bakar tersebut. Melihat ikan sepat yang hanya tinggal kepala dan durinya saja, Ki Wangsakarta terduduk lemas. Air matanya meleleh. Dengan suara parau dan bibir bergetar ia berujar.
“Anakku, Panembahan Dalem Reksapati. Ketahuilah bahwa ikan sepat itu adalah satu-satunya ikan yang menghuni Sungai Cibeng- keng. Sungguh sangat terlarang bagi siapa pun menangkap, memin- dahkan, atau membunuh dan menyantapnya. Ketahuilah bahwa ke- hidupan ikan sepat itu berarti kelangsungan hidup di Desa Babakan, Leuweung Wates dan Mata Air Padontilu. Kehidupan ikan berarti masa depan perkampungan. Kematian ikan berarti musibah dan bencana bagi perkampungan,” jelas Ki Wangsakarta tertunduk lesu.
Nyi Wangsakarta datang tergopoh-gopoh bersama puluhan warga Desa Babakan. Mendengar perkataan Ki Wangsakarta kepada Panembahan Dalem Reksapati membuat mereka semua menjadi ke- takutan. Reksapati pun merasa sangat bingung dan merasa bersalah dengan apa yang baru saja dilakukannya.
“Maaf, Ayahanda. Saya hanya menjalankan sumpahku yang ke- dua. Ratna Kencana memintaku untuk menangkap ikan di sungai ini dan menyantapnya. Saya benar-benar tidak tahu tentang ini semua. Maafkan saya, Ayah!” terang Reksapati gugup. Semua orang yang ada di tempat itu seketika diam seribu bahasa. Mereka terdiam mematung tidak mengerti harus berbuat apa. Mereka tenggelam dalam pikir- annya masing-masing. Suasana begitu mencekam dan hening. Da- lam keheningan itu, tiba-tiba terdengar suara gaib menggema di se- keliling tempat mereka berdiri.
“Terkutuklah Ratna Kencana dan kalian semua! Bencana akan datang melanda! Terkutuklah Ratna Kencana dan kalian semua! Bencana akan datang melanda! Terkutuklah Ratna Kencana dan kalian semua! Bencana akan datang melanda!” suara itu berulang- ulang dan menggema membuat semua warga Desa Babakan dili- puti ketakutan yang teramat sangat. Mereka panik dan resah.






apa sebenarnya yang telah terjadi. Ratna Kencana terperanjat, ia me- nangis sesenggukan. Menyesali permintaannya pada sang suami yang diturutinya dari mimpi.
“Kasihan warga desa ini. Mereka tidak tahu apa-apa tetapi harus menanggung bencana akibat kesalahanku... Andai saja waktu dapat diulang, mungkin dusun ini tetap menjadi Dusun Larangan. Tidak ada Desa Babakan. Tangis Nyi Wangsakarta pecah di tengah kehe- ningan.
Tiba-tiba kilat menyambar, petir menggelegar, terpaan angin yang kian kencang menimbulkan derak dahan pohon dan daun-daun bergesekan menambah suasana mencekam. Mega hitam menyelimuti langit di atas Leuweung Wates bagaikan memasuki masa kelam dan gelap.
“Apa yang dapat aku laukan, Ayahanda?” tanya Reksapati kemu- dian. Ia merasa harus melakukan sesuatu dengan kesaktiannya.
“Pengorbanan! Ada yang harus berkorban...!”
“Bukan! Bukan! Bukan! Ada yang harus dikorbankan! Kami yang akan berkorban. Jika kau sanggup membuat ikan yang kau makan hidup kembali, itulah masa depan perkampungan!”
Ki Wangsakarta menarik tangan istri dan putrinya. Berlari men- jauh masuk ke hutan, lalu menghilang dalam kegelapan. Panem- bahan Dalem Reksapati mengerti, ia harus menghidupkan ikan sepat itu lagi. Ia berlutut di atas batu, mengerahkan kesaktiannya, menengadahkan tangan memohon perlindungan Yang Maha Kuasa. Awan hitam berganti terang, angin berhenti bertiup kencang dan berubah menjadi sepoi-sepoi. Seketika, ikan sepat yang sudah tinggal kepala dan durinya saja dengan ajaib hidup lalu meloncat ke dalam Sungai Cibengkeng. Dan, ikan tersebut merupakan satu- satunya (tunggal) yang dapat hidup setelah dimakan. Seiring dengan berjalannya waktu, daerah tersebut menjadi luas dengan penduduk yang banyak. Atas jasa Panembahan Dalem Reksapati, daerah yang dahulunya bernama Babakan diganti nama menjadi Sepatnunggal, berdasar pada kejadian luar biasa, yaitu ikan sepat satu-satunya yang ajaib.
Kini Sepatnunggal yang merupakan nama salah satu desa di Ke- camatan Majenang, Kabupaten Cilacap, dikenal sebagai lokasi yang dilindungi oleh makhluk gaib atau jin. Dengan pusatnya di Kampung Larangan, Kampung Dana Warih, dan Kampung Wangen yang di- sangga oleh kampung-kampung lain, yaitu Kampung Babakan, Kampung Leuwi Panjang, dan Kampung Kutangsa.






Kepercayaan penduduknya, bila pendatang berbuat jahat di da- erah ini, ia tidak akan mampu keluar dari desa dalam keadaan se- lamat. Dan, jika yang berbuat jahat atau mencemarkan nama baik desa adalah penduduk asli, disadari atau tidak ia akan “dijauhkan” atau “menjauh dengan sendirinya”.









Selesai
